Freddy Alex Damanik, Sekretaris Jenderal Projo, menyatakan bahwa Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memiliki peluang untuk masuk dalam tiga besar pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2029. Menurutnya, hal ini bisa terwujud jika Joko Widodo menjadi Ketua Umum partai tersebut.
Optimisme Berdasarkan Realitas
Freddy menjelaskan bahwa Jokowi memiliki pemahaman yang mendalam mengenai karakter pemilih di Indonesia, baik di daerah pedesaan maupun perkotaan. “Pak Jokowi memahami karakter pemilih Indonesia dari desa hingga kota. Optimisme beliau lahir dari fakta lapangan, bukan sekadar optimisme politik,” ungkapnya.
Dia menambahkan bahwa Jokowi telah mengamati perkembangan PSI secara langsung, termasuk penguatan struktur partai, kualitas kader, dan gagasan yang sejalan dengan berbagai program pembangunan yang selama ini diperjuangkan oleh Jokowi. Freddy juga menekankan bahwa daya tarik politik Jokowi sangat besar, tetapi hanya mengandalkan figur saja tidak cukup untuk meraih kemenangan dalam pemilu. “Pak Jokowi sendiri berkali-kali menekankan bahwa popularitas tidak cukup. Yang menentukan adalah kerja politik, membangun organisasi dari pusat sampai desa, menghadirkan kader terbaik dan memperjuangkan program yang dirasakan masyarakat,” jelasnya.
Peluang Kepemimpinan Jokowi di PSI
Dalam diskusi tersebut, Freddy juga memberikan pandangannya tentang kemungkinan Jokowi memimpin PSI sebagai Ketua Umum. Dia berpendapat bahwa dampak politik yang ditimbulkan akan jauh lebih signifikan dibandingkan jika Jokowi hanya berperan sebagai dewan pembina. Dia bahkan memperkirakan bahwa PSI bisa menjadi salah satu partai besar jika dipimpin langsung oleh Jokowi, meskipun hal ini harus diimbangi dengan penguatan organisasi. “Hitung-hitungan kami, kalau Pak Jokowi menjadi Ketua Umum, PSI berpotensi menjadi tiga besar. Tapi sekali lagi, itu tidak cukup hanya mengandalkan figur. Organisasi partai harus kuat,” tuturnya.
Freddy menambahkan bahwa pengalaman Jokowi yang telah meniti karier dari kepala daerah hingga menjadi Presiden Republik Indonesia merupakan modal yang sangat berharga untuk kepemimpinan partai politik.
Mengenai hubungan antara Projo dan PSI, Freddy menegaskan bahwa Projo tetap merupakan organisasi relawan yang independen dan memiliki mekanisme organisasi sendiri. Dia membantah adanya anggapan tentang kerja sama “bawah tanah” antara Projo dan PSI. “Kalau komunikasi antarlembaga tentu terbuka dan wajar dalam demokrasi. PROJO tetap organisasi relawan, PSI adalah partai politik. Tidak ada proses peleburan organisasi,” katanya.
Walaupun begitu, Freddy mengakui bahwa jika Jokowi benar-benar memimpin PSI sebagai Ketua Umum, dinamika politik di tingkat akar rumput akan berkembang secara alami. Basis-basis relawan akan memperhatikan arah kepemimpinan Jokowi. “Kalau Pak Jokowi menjadi Ketua Umum, tidak perlu ada koordinasi khusus. Basis-basis relawan tentu akan melihat ke mana arah kepemimpinan beliau,” ujarnya.
Freddy juga menyatakan bahwa selama ini kader-kader Projo tersebar di berbagai partai politik, namun loyalitas utama organisasi tetap pada gagasan, kepemimpinan, dan kerja nyata yang ditunjukkan oleh Jokowi. Dia mengingatkan bahwa antusiasme masyarakat saat menyambut Jokowi di berbagai daerah, termasuk Lampung dan Nusa Tenggara Timur, tidak serta merta berubah menjadi suara politik bagi PSI. “Dalam demokrasi tidak ada tombol transfer suara. Emosi publik harus diterjemahkan menjadi kerja politik yang nyata,” tegasnya.