Anak-anak di Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, menunjukkan semangat yang tinggi dalam belajar meskipun bangunan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 4 belum sepenuhnya dapat digunakan setelah diterjang banjir. Mereka melanjutkan pendidikan di sekolah darurat Rumoh Harapan Siap Sekolah yang didirikan oleh Dompet Dhuafa bersama mitra untuk membantu pemulihan pendidikan pasca bencana.
Di sekolah darurat tersebut, anak-anak berusaha menata masa depan mereka meskipun berada di tengah endapan lumpur dan sisa-sisa kayu akibat banjir. Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Aceh, Rizki Fauzan, menjelaskan bahwa ada dua lokasi pembangunan Rumoh Harapan di Pidie Jaya, yaitu di MIN 1 dan MIN 4, masing-masing dengan dua ruang kelas. "Ruangan-ruangan tersebut rusak parah akibat banjir, dengan ketinggian lumpur mencapai lebih dari satu meter," ungkapnya.
Rumoh Harapan seluas 7 x 6 meter dibangun di lahan kosong belakang MIN 4 dengan melibatkan lima pekerja. Salah satu tantangan utama dalam pembangunan sekolah darurat ini adalah ketersediaan material. Dompet Dhuafa harus membeli bahan bangunan hingga ke Medan, dan proses pembangunan selesai dalam waktu lima hari meskipun ada kesulitan dalam distribusi material.
Selain mendirikan sekolah darurat, Dompet Dhuafa juga memberikan bantuan alat tulis, sound system, dan media belajar lainnya. Relawan juga melaksanakan kegiatan sekolah sosial yang bertujuan untuk membantu anak-anak mengatasi trauma akibat bencana. "Sekolah sosial ini dilakukan dengan konsep bermain sambil belajar, dan diadakan hampir setiap hari pada awalnya," jelas Fauzan.
Di dalam sekolah, kondisi masih terlihat lusuh dengan bekas lumpur di sudut-sudut ruangan. Kepala Sekolah MIN 4, Zulkarnaeni, menjelaskan bahwa banjir meninggalkan endapan lumpur setinggi 1,5 meter yang mengganggu proses belajar mengajar. "Enam ruang kelas dan kantor tidak bisa digunakan karena terendam lumpur," katanya.
Zulkarnaeni juga menambahkan bahwa banyak buku pelajaran dan perlengkapan sekolah yang hilang akibat banjir, sehingga proses belajar sempat terhambat. Penyaluran bantuan juga mengalami kendala karena akses jalan yang tertutup lumpur. Namun, setelah satu bulan, alat berat dikerahkan untuk membuka akses jalan dan membersihkan bangunan sekolah.
Bantuan pertama yang diterima sekolah datang dari Dompet Dhuafa, yang menyediakan buku paket dan peralatan pendidikan lainnya. Salah satu guru di MIN 4 mengungkapkan bahwa bantuan dari Dompet Dhuafa merupakan yang pertama kali diterima, dan sangat membantu dalam situasi sulit ini.
Dengan semangat dan dukungan dari berbagai pihak, anak-anak di Pidie Jaya terus berusaha untuk melanjutkan pendidikan mereka meskipun dalam kondisi yang menantang. Perkembangan selanjutnya akan terus dipantau untuk memastikan pendidikan mereka dapat pulih sepenuhnya.