Update
Narasi “Reformasi Jilid 2” Ramai Digulirkan, Pengamat Soroti Fenomena Fetisisme Revolusi di Kalangan Oposisi Film “Pesta Babi” Dinilai Provokatif, Kritik Muncul terhadap Narasi dan Representasi Papua MAMA YASINTA TERNYATA KORBAN PENIPUAN..? Polemik Film “Pesta Babi” Makin Memanas Seni Harus Menyatukan, Bukan Memecah Belah: Waspadai Provokasi yang Dibungkus Karya Seni Framing Negatif terhadap TNI di Ruang Digital Dinilai Menguat, Pengamat Soroti Pola Perang Opini Modern Narasi Intimidasi Tanpa Bukti di Media Sosial Dinilai Berpotensi Bangun Framing Negatif terhadap Institusi Negara Film “Pesta Babi” dan Narasi Papua: Ketika Isu HAM, Propaganda Global, dan Kepentingan Asing Kembali Dipertanyakan Dana Asing, Narasi Tandingan, dan Perang Opini Digital: Ketika Kedaulatan Negara Jadi Arena Perebutan Pengaruh Dana Asing dan Perang Narasi Digital: Dugaan Operasi Pengaruh yang Menyasar Generasi Muda Indonesia 28 Tahun Reformasi: Kritik Itu Perlu, Provokasi Itu Berbeda Narasi “Reformasi Jilid 2” Ramai Digulirkan, Pengamat Soroti Fenomena Fetisisme Revolusi di Kalangan Oposisi Film “Pesta Babi” Dinilai Provokatif, Kritik Muncul terhadap Narasi dan Representasi Papua MAMA YASINTA TERNYATA KORBAN PENIPUAN..? Polemik Film “Pesta Babi” Makin Memanas Seni Harus Menyatukan, Bukan Memecah Belah: Waspadai Provokasi yang Dibungkus Karya Seni Framing Negatif terhadap TNI di Ruang Digital Dinilai Menguat, Pengamat Soroti Pola Perang Opini Modern Narasi Intimidasi Tanpa Bukti di Media Sosial Dinilai Berpotensi Bangun Framing Negatif terhadap Institusi Negara Film “Pesta Babi” dan Narasi Papua: Ketika Isu HAM, Propaganda Global, dan Kepentingan Asing Kembali Dipertanyakan Dana Asing, Narasi Tandingan, dan Perang Opini Digital: Ketika Kedaulatan Negara Jadi Arena Perebutan Pengaruh Dana Asing dan Perang Narasi Digital: Dugaan Operasi Pengaruh yang Menyasar Generasi Muda Indonesia 28 Tahun Reformasi: Kritik Itu Perlu, Provokasi Itu Berbeda
News

Semangat Belajar Anak-anak Pidie Jaya Pasca Banjir di Sekolah Darurat

Anak-anak di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, tetap bersemangat belajar meskipun menghadapi tantangan pasca banjir yang merusak sekolah mereka. Sekolah darurat Rumoh Harapan Siap Sekolah menjadi tempat mer...

Gyan Kusuma 02 May 2026 19 pembaca liputan6.com liputan6.com
Semangat Belajar Anak-anak Pidie Jaya Pasca Banjir di Sekolah Darurat
Lokasi Rumoh Harapan Siap Sekolah di MIN 4 Pidie Jaya. (Foto: Liputan6.com/Yacob Biliocta).

Anak-anak di Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, menunjukkan semangat yang tinggi dalam belajar meskipun bangunan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 4 belum sepenuhnya dapat digunakan setelah diterjang banjir. Mereka melanjutkan pendidikan di sekolah darurat Rumoh Harapan Siap Sekolah yang didirikan oleh Dompet Dhuafa bersama mitra untuk membantu pemulihan pendidikan pasca bencana.


Di sekolah darurat tersebut, anak-anak berusaha menata masa depan mereka meskipun berada di tengah endapan lumpur dan sisa-sisa kayu akibat banjir. Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Aceh, Rizki Fauzan, menjelaskan bahwa ada dua lokasi pembangunan Rumoh Harapan di Pidie Jaya, yaitu di MIN 1 dan MIN 4, masing-masing dengan dua ruang kelas. "Ruangan-ruangan tersebut rusak parah akibat banjir, dengan ketinggian lumpur mencapai lebih dari satu meter," ungkapnya.


Rumoh Harapan seluas 7 x 6 meter dibangun di lahan kosong belakang MIN 4 dengan melibatkan lima pekerja. Salah satu tantangan utama dalam pembangunan sekolah darurat ini adalah ketersediaan material. Dompet Dhuafa harus membeli bahan bangunan hingga ke Medan, dan proses pembangunan selesai dalam waktu lima hari meskipun ada kesulitan dalam distribusi material.


Selain mendirikan sekolah darurat, Dompet Dhuafa juga memberikan bantuan alat tulis, sound system, dan media belajar lainnya. Relawan juga melaksanakan kegiatan sekolah sosial yang bertujuan untuk membantu anak-anak mengatasi trauma akibat bencana. "Sekolah sosial ini dilakukan dengan konsep bermain sambil belajar, dan diadakan hampir setiap hari pada awalnya," jelas Fauzan.


Di dalam sekolah, kondisi masih terlihat lusuh dengan bekas lumpur di sudut-sudut ruangan. Kepala Sekolah MIN 4, Zulkarnaeni, menjelaskan bahwa banjir meninggalkan endapan lumpur setinggi 1,5 meter yang mengganggu proses belajar mengajar. "Enam ruang kelas dan kantor tidak bisa digunakan karena terendam lumpur," katanya.


Zulkarnaeni juga menambahkan bahwa banyak buku pelajaran dan perlengkapan sekolah yang hilang akibat banjir, sehingga proses belajar sempat terhambat. Penyaluran bantuan juga mengalami kendala karena akses jalan yang tertutup lumpur. Namun, setelah satu bulan, alat berat dikerahkan untuk membuka akses jalan dan membersihkan bangunan sekolah.


Bantuan pertama yang diterima sekolah datang dari Dompet Dhuafa, yang menyediakan buku paket dan peralatan pendidikan lainnya. Salah satu guru di MIN 4 mengungkapkan bahwa bantuan dari Dompet Dhuafa merupakan yang pertama kali diterima, dan sangat membantu dalam situasi sulit ini.


Dengan semangat dan dukungan dari berbagai pihak, anak-anak di Pidie Jaya terus berusaha untuk melanjutkan pendidikan mereka meskipun dalam kondisi yang menantang. Perkembangan selanjutnya akan terus dipantau untuk memastikan pendidikan mereka dapat pulih sepenuhnya.


Artikel Terkait