Update
Demo BEM UI dan Stabilitas Ekonomi: Kritik, Dampak, dan Pertanyaan soal Arah Gerakan Mahasiswa Siswa di Bogor Diduga Keracunan Setelah Mengonsumsi Sate dari Makan Bergizi Gratis Gubernur Herman Deru Minta Pengawasan Ketat untuk Bantuan Penanganan Karhutla 5G: Pondasi untuk Masa Depan yang Siap Digital, Mendukung AI dan Produktivitas Langkah Pemerintah Menjaga Ketersediaan dan Stabilitas Harga Pangan Menjelang Nataru Pembangunan PLTN Dinilai Penting untuk Ketahanan Energi Indonesia IHSG Turun Hampir 2 Persen ke Level 5.266, 611 Saham Mengalami Penurunan Ribuan Akademisi Desak Gibran Mundur, Menurut Connie Bakrie Telkom University Mendorong Partisipasi Publik dalam Pencarian Maisha Aurelia Rafif Peningkatan Penggunaan AI di Kalangan UMKM Indonesia Mencapai 36,8 Persen Demo BEM UI dan Stabilitas Ekonomi: Kritik, Dampak, dan Pertanyaan soal Arah Gerakan Mahasiswa Siswa di Bogor Diduga Keracunan Setelah Mengonsumsi Sate dari Makan Bergizi Gratis Gubernur Herman Deru Minta Pengawasan Ketat untuk Bantuan Penanganan Karhutla 5G: Pondasi untuk Masa Depan yang Siap Digital, Mendukung AI dan Produktivitas Langkah Pemerintah Menjaga Ketersediaan dan Stabilitas Harga Pangan Menjelang Nataru Pembangunan PLTN Dinilai Penting untuk Ketahanan Energi Indonesia IHSG Turun Hampir 2 Persen ke Level 5.266, 611 Saham Mengalami Penurunan Ribuan Akademisi Desak Gibran Mundur, Menurut Connie Bakrie Telkom University Mendorong Partisipasi Publik dalam Pencarian Maisha Aurelia Rafif Peningkatan Penggunaan AI di Kalangan UMKM Indonesia Mencapai 36,8 Persen
Teknologi

Strategi Efektif Pengelolaan Sampah di Lingkungan Kampus

Pengelolaan sampah di kampus tidak hanya perlu dilakukan melalui daur ulang, tetapi juga memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif untuk mengurangi limbah sejak sumbernya.

Arya Yudhistira 27 October 2026 39 pembaca inews.id inews.id
Advertisement
Advertisement

JAKARTA, iNews.id - Pengelolaan sampah di lingkungan kampus harus dilakukan dengan cara yang lebih menyeluruh daripada sekadar memilah dan mendaur ulang. Hal ini mencakup pengurangan limbah dari sumber, pemilihan metode pengolahan yang sesuai dengan jenis material, serta pemanfaatan kembali sumber daya yang masih memiliki nilai. Tantangan ini terlihat di Universitas Indonesia (UI) yang memproduksi sekitar 5 ton sampah setiap harinya. Besarnya volume sampah ini menjadikan proses pemilahan, pengelolaan, dan pemilihan teknologi pengolahan sangat penting dalam menciptakan sistem pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Data yang disampaikan oleh Direktorat Operasi, Pemeliharaan Fasilitas dan Manajemen Aset (DOPFMA UI) tersebut terungkap dalam diskusi Jejak Asri On The Move di UI. Forum ini melibatkan Center of Sustainability and Waste Management (CSWM UI), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI, dan Kampanye Indonesia Asri, yang membahas penerapan ekonomi sirkular sebagai salah satu solusi untuk menangani masalah sampah di kampus. Pertanyaannya adalah, bagaimana cara mengelola sampah agar tidak hanya berakhir di tempat pembuangan?

Penerapan Ekonomi Sirkular

Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah ekonomi sirkular. Konsep ini bertujuan untuk mempertahankan nilai material selama mungkin melalui pengurangan penggunaan sumber daya, penggunaan kembali, perbaikan, dan daur ulang. Dalam sistem ekonomi linear, barang biasanya diproduksi, digunakan, dan dibuang ketika tidak lagi diperlukan. Sebaliknya, ekonomi sirkular mendorong agar material tetap dimanfaatkan sehingga jumlah sampah yang harus dibuang dapat diminimalisir.

Di lingkungan kampus, penerapan ekonomi sirkular dapat dimulai dengan mengurangi penggunaan barang sekali pakai, menyediakan fasilitas pemilahan, serta memisahkan sampah berdasarkan karakteristiknya. Misalnya, sampah organik dapat diolah menjadi kompos jika memenuhi syarat tertentu. Sementara itu, kertas, logam, dan beberapa jenis plastik bisa dikumpulkan untuk digunakan kembali atau didaur ulang berdasarkan kondisi material dan fasilitas pengolahan yang tersedia.

Pentingnya Pemilahan dan Teknologi Pengolahan

Tidak semua jenis sampah dapat diproses dengan metode yang sama. Oleh karena itu, pemilahan yang tepat menjadi langkah awal untuk menentukan cara pengolahan yang sesuai dan mengurangi kontaminasi antarjenis sampah. Konsep ekonomi sirkular tidak hanya berfokus pada teknologi pengolahan, tetapi juga pada upaya pencegahan pembentukan sampah dan memastikan material yang masih bisa dimanfaatkan tidak langsung dibuang.

Adam Febriyanto Nugraha, Wakil Rektor CSWM UI, menjelaskan bahwa penerapan ekonomi sirkular di kampus dapat meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah serta menciptakan nilai tambah dari sumber daya yang belum dimanfaatkan secara optimal. Ia menekankan bahwa kampus juga bisa menjadi tempat pembelajaran dan inovasi untuk mengembangkan solusi keberlanjutan yang dapat diterapkan di lingkungan yang lebih luas.

Dalam diskusi tersebut, CSWM UI memperkenalkan kerangka Sustainable Social Innovation yang mencakup tujuh aspek penting: kepemimpinan, regulasi, infrastruktur, finansial, organisasi, teknologi, dan kesadaran. Keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada ketersediaan tempat sampah terpilah atau mesin pengolahan, tetapi juga memerlukan kebijakan yang jelas, pendanaan, pembagian tanggung jawab, dan keterlibatan masyarakat agar sistem dapat berjalan dengan konsisten.

Contohnya, fasilitas pemilahan tidak akan berfungsi optimal jika pengguna kampus masih mencampurkan sampah. Demikian pula, teknologi pengolahan bisa menjadi tidak efektif jika jenis dan jumlah sampah yang masuk tidak sesuai dengan kapasitas fasilitas yang ada. Oleh karena itu, pengelolaan sampah perlu dirancang sebagai sistem yang menghubungkan kebiasaan pengguna, infrastruktur, teknologi, dan kebijakan.

Perubahan perilaku juga menjadi aspek penting dalam penerapan ekonomi sirkular. Mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan pengelola fasilitas memiliki peran dalam mengurangi sampah serta memastikan pemilahan dilakukan sejak sumbernya. Keterlibatan mahasiswa dalam diskusi bersama BEM UI merupakan salah satu upaya untuk menggali ide-ide yang relevan dengan kondisi kampus. Pendekatan partisipatif ini diharapkan dapat membuka peluang untuk mengembangkan praktik pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.

Chrysanthi Tarigan, Kepala Komunikasi Korporat Chandra Asri Group, menyatakan bahwa kolaborasi dengan perguruan tinggi merupakan kesempatan untuk menggali gagasan dan mengembangkan praktik ekonomi sirkular yang sesuai dengan kebutuhan kampus. Ia berharap langkah ini dapat meningkatkan partisipasi civitas akademika dan membuka peluang bagi praktik baik yang dapat diterapkan lebih luas untuk menciptakan dampak positif bagi lingkungan.

Kedepannya, pendekatan yang dibahas dalam Jejak Asri On The Move diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran bagi perguruan tinggi lainnya. Penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan karakteristik sampah, ketersediaan fasilitas, dan kebutuhan masing-masing kampus. Keberhasilan konsep kampus sirkular pada akhirnya harus dilihat dari hasil nyata, seperti berkurangnya sampah yang dibuang, meningkatnya material yang dimanfaatkan kembali, serta konsistensi pemilahan dari sumbernya.

Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak hanya sekadar memindahkan limbah dari satu tempat ke tempat lain atau mendaur ulang material yang masih dapat digunakan. Diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif agar sumber daya dapat dimanfaatkan secara optimal dan beban lingkungan dapat berkurang.

Artikel Terkait