Update
Inovasi Mahasiswa UNEJ: Terapi Koktail Bakteriofag untuk Mengatasi Keracunan Makanan Penelitian Dampak Kesehatan Anak-Anak Korban Tragedi 9/11 Dimulai, Fokus pada Racun Debu IHSG Melemah di Level 6.495, 535 Saham Mengalami Penurunan Budi Arie Setiadi Soroti Gaya Kepemimpinan Dedi Mulyadi dalam Diskusi Politik Basarnas Tingkatkan Upaya Pencarian Lima Jurnalis yang Hilang Saat Meliput Erupsi UNDIP Bekerja Sama dengan Universite Paris-Saclay untuk Meningkatkan Peringkat Global Melalui Riset dan Beasiswa Doktor Aktivitas Erupsi Gunung Anak Krakatau: Apakah Akan Segera Berakhir? Pertamina Ambil Alih SPBU Melanggar Aturan untuk Jamin Pasokan BBM Tim Gabungan Lanjutkan Pencarian di Selat Sunda, Temukan Life Jacket Universitas Buka Peluang bagi 8 Tim Unggulan untuk KKI dan KRTI 2026 dengan Inovasi Kapal Otonom Varuna Inovasi Mahasiswa UNEJ: Terapi Koktail Bakteriofag untuk Mengatasi Keracunan Makanan Penelitian Dampak Kesehatan Anak-Anak Korban Tragedi 9/11 Dimulai, Fokus pada Racun Debu IHSG Melemah di Level 6.495, 535 Saham Mengalami Penurunan Budi Arie Setiadi Soroti Gaya Kepemimpinan Dedi Mulyadi dalam Diskusi Politik Basarnas Tingkatkan Upaya Pencarian Lima Jurnalis yang Hilang Saat Meliput Erupsi UNDIP Bekerja Sama dengan Universite Paris-Saclay untuk Meningkatkan Peringkat Global Melalui Riset dan Beasiswa Doktor Aktivitas Erupsi Gunung Anak Krakatau: Apakah Akan Segera Berakhir? Pertamina Ambil Alih SPBU Melanggar Aturan untuk Jamin Pasokan BBM Tim Gabungan Lanjutkan Pencarian di Selat Sunda, Temukan Life Jacket Universitas Buka Peluang bagi 8 Tim Unggulan untuk KKI dan KRTI 2026 dengan Inovasi Kapal Otonom Varuna
News

Suara Dentuman Misterius Mengguncang Warga Bandung, BMKG Berikan Penjelasan

Warga Bandung dikejutkan oleh suara dentuman keras yang berlangsung dari malam hingga dini hari, yang diduga sebagai fenomena gempa langit. BMKG masih menyelidiki penyebab pasti dari kejadian ini.

Gyan Kusuma 05 September 2026 54 pembaca jpnn.com jpnn.com
Dentuman Misterius Malam-Malam Kagetkan Warga Bandung, Ini Analisis BMKG
Dentuman Misterius Malam-Malam Kagetkan Warga Bandung, Ini Analisis BMKG

Pada malam Jumat (4/9/2026) hingga Sabtu (5/9), warga di kawasan Bandung mengalami ketakutan akibat suara dentuman beruntun yang sangat keras. Suara tersebut berlangsung cukup lama dan memicu kekhawatiran di media sosial.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas I Bandung menduga bahwa dentuman yang terdengar di wilayah Bandung Raya merupakan fenomena yang dikenal sebagai gempa langit. Namun, penyebab pastinya masih dalam kajian.

Analisis dari BMKG

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi, menjelaskan bahwa citra satelit menunjukkan tidak ada gumpalan awan di Bandung Raya saat dentuman terjadi. "Justru pada jam yang sama itu terekam adanya aktivitas vulkanik di Krakatau. Jadi, letusan dan letusan gunung api. Nah, dari data ini maka terlihat adanya aktivitas vulkanik di sekitar Krakatau," ungkap Suaidi dalam konferensi pers daring pada Sabtu pagi.

BMKG saat ini tengah mendalami asal muasal fenomena Skyquake yang hanya terdeteksi di Bandung Raya, sementara daerah lain tidak menunjukkan kejadian serupa. Suaidi menambahkan bahwa aktivitas sesar di wilayah Bandung Raya juga tidak menunjukkan indikasi signifikan. "Berdasarkan data seismik kami, bahwa aktivitas seismik di Sesar Lembang tidak begitu signifikan, artinya tidak ada aktivitas seismik yang berkembang pada saat jam yang kami curigai ini," jelasnya.

Korelasi dengan Aktivitas Vulkanik

Meskipun demikian, BMKG mencatat adanya aktivitas bersamaan dari stasiun magnet bumi di Serang, Banten, dan Sukabumi yang diduga berkorelasi dengan letusan gunung api. "Aktivitas Skyquake ini, maksudnya dentuman langit, kami curigai adanya fenomena yang tidak lazim. Artinya, rekaman darat itu kami curigai sebagai aktivitas Krakatau, baik dari informasi satelit citra awan dan aktivitas magnetik juga dari data petir," jelasnya lebih lanjut.

Ia juga mengungkapkan bahwa saat kejadian, konsentrasi petir di wilayah Krakatau sangat tinggi, sementara di Kota Bandung dan sekitarnya justru sangat sedikit. "Ini ternyata pas kejadian aktivitas tersebut itu memiliki aktivitas konsentrasi thunderstorm atau petir yang sangat dominan di wilayah Krakatau. Menariknya adalah di Kota Bandung, Bandung dan sekitarnya itu sedikit sekali petir," tuturnya.

Fenomena dentuman yang dialami warga Bandung Raya ini masih dalam penyelidikan BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung. "Artinya, ini masih menjadi kecurigaan kami. Nah istilah dalam istilah akademis bahwa aktivitas tersebut ya di Bandung Raya dan sekitarnya kita definisikan sebagai Skyquake atau dentuman langit ya atau disebut juga dengan gempa langit," terangnya.

Menurut Suaidi, fenomena ini belum bisa dijelaskan secara akademis. "Karena pertama, dari segi kegempaan, itu tidak ada, dari segi aktivitas petir juga tidak ada, dari aktivitas vulkanik tentunya jauh dari Kota Bandung dan sekitarnya," tegasnya.

BMKG juga mencatat bahwa wilayah lain di luar Bandung Raya tidak merasakan suara dentuman tersebut dengan jelas. Suaidi menambahkan, "Namun, aktivitas vulkanik malah muncul di Krakatau yang tidak ributkan atau tidak dilaporkan oleh warga yang ada di Banten dan di Jakarta serta di daerah Bogor yang terdekat." Fenomena ini terus menjadi perhatian BMKG, dan mereka akan melakukan kajian lebih lanjut mengenai kemungkinan adanya aktivitas gas metana di danau purba sebagai penyebab.

Artikel Terkait