Wakil Ketua Komisi I Sukamta mengungkapkan pentingnya klarifikasi dari pemerintah terkait kabar mengenai delapan WNI yang diduga direkrut untuk bergabung dengan militer Rusia. Pernyataan ini disampaikan melalui pesan pada hari Jumat (4/9), di mana Sukamta menekankan perlunya penjelasan yang lebih mendalam mengenai situasi ini.
Legislator dari fraksi PKS ini menyatakan bahwa pemerintah harus memastikan identitas individu yang disebut sebagai WNI yang bergabung dengan tentara Rusia. Ia juga menekankan agar pemerintah terlebih dahulu membahas keberadaan delapan WNI tersebut yang dilaporkan berada di Rusia untuk bergabung dengan dinas militer setempat.
Pentingnya Penelusuran Informasi
Menurut Sukamta, pemerintah perlu menelusuri bagaimana para WNI tersebut bisa sampai ke Rusia dan terlibat dalam rekrutmen militer. Ia menyarankan agar pemerintah menyampaikan informasi mengenai kemungkinan bahwa para WNI tersebut memang telah mendaftar sebagai tentara, direkrut setelah berada di luar negeri, atau menerima tawaran pekerjaan lainnya.
“Hal-hal mendasar seperti ini harus jelas dulu. Jangan sampai kita sudah sampai pada kesimpulan hukum, sementara faktanya sendiri masih kita cari,” ujarnya, menekankan perlunya kehati-hatian dalam menangani isu ini.
Verifikasi Informasi di Tengah Konflik
Sukamta juga mengingatkan bahwa informasi mengenai delapan WNI yang menjadi tentara Rusia muncul di tengah konflik antara Rusia dan Ukraina. Dalam situasi perang, semua informasi yang beredar perlu diperiksa dengan cermat, terutama jika sumbernya berasal dari pihak yang terlibat dalam konflik.
“Informasi dari pihak yang sedang berperang tentu boleh didengarkan. Bisa saja informasinya benar, tetapi tugas negara adalah memeriksanya sendiri. Indonesia harus punya penilaian berdasarkan informasi yang dapat kita verifikasi,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa banyaknya pemberitaan mengenai suatu isu tidak selalu berarti informasi tersebut telah terkonfirmasi dari berbagai sumber. “Kadang-kadang satu informasi dikutip satu media, kemudian dikutip lagi oleh media lain dan terus berputar,” jelasnya.
Sukamta mengajak pemerintah untuk memanfaatkan saluran yang ada untuk mendapatkan kejelasan, baik melalui Kementerian Luar Negeri, perwakilan Indonesia di luar negeri, lembaga intelijen, maupun instansi terkait lainnya. “Ini menyangkut warga negara kita. Pemerintah tentu punya saluran diplomatik dan intelijen untuk mengecek. Itu yang sebaiknya dilakukan sampai kita mendapatkan gambaran yang cukup jelas,” pungkasnya.