Update
Inovasi Mahasiswa UNEJ: Terapi Koktail Bakteriofag untuk Mengatasi Keracunan Makanan Penelitian Dampak Kesehatan Anak-Anak Korban Tragedi 9/11 Dimulai, Fokus pada Racun Debu IHSG Melemah di Level 6.495, 535 Saham Mengalami Penurunan Budi Arie Setiadi Soroti Gaya Kepemimpinan Dedi Mulyadi dalam Diskusi Politik Basarnas Tingkatkan Upaya Pencarian Lima Jurnalis yang Hilang Saat Meliput Erupsi UNDIP Bekerja Sama dengan Universite Paris-Saclay untuk Meningkatkan Peringkat Global Melalui Riset dan Beasiswa Doktor Aktivitas Erupsi Gunung Anak Krakatau: Apakah Akan Segera Berakhir? Pertamina Ambil Alih SPBU Melanggar Aturan untuk Jamin Pasokan BBM Tim Gabungan Lanjutkan Pencarian di Selat Sunda, Temukan Life Jacket Universitas Buka Peluang bagi 8 Tim Unggulan untuk KKI dan KRTI 2026 dengan Inovasi Kapal Otonom Varuna Inovasi Mahasiswa UNEJ: Terapi Koktail Bakteriofag untuk Mengatasi Keracunan Makanan Penelitian Dampak Kesehatan Anak-Anak Korban Tragedi 9/11 Dimulai, Fokus pada Racun Debu IHSG Melemah di Level 6.495, 535 Saham Mengalami Penurunan Budi Arie Setiadi Soroti Gaya Kepemimpinan Dedi Mulyadi dalam Diskusi Politik Basarnas Tingkatkan Upaya Pencarian Lima Jurnalis yang Hilang Saat Meliput Erupsi UNDIP Bekerja Sama dengan Universite Paris-Saclay untuk Meningkatkan Peringkat Global Melalui Riset dan Beasiswa Doktor Aktivitas Erupsi Gunung Anak Krakatau: Apakah Akan Segera Berakhir? Pertamina Ambil Alih SPBU Melanggar Aturan untuk Jamin Pasokan BBM Tim Gabungan Lanjutkan Pencarian di Selat Sunda, Temukan Life Jacket Universitas Buka Peluang bagi 8 Tim Unggulan untuk KKI dan KRTI 2026 dengan Inovasi Kapal Otonom Varuna
News

Tanggapan Terhadap Kabar Rekrutmen 8 WNI oleh Militer Rusia

Wakil Ketua Komisi I Sukamta meminta pemerintah untuk memperjelas informasi mengenai delapan WNI yang dikabarkan direkrut oleh militer Rusia. Ia menekankan pentingnya verifikasi sebelum mengambil kesi...

Arya Yudhistira 04 September 2026 49 pembaca jpnn.com jpnn.com
Kabar 8 WNI Menjadi Tentara Rusia, Pemerintah Diminta Lakukan Ini
Kabar 8 WNI Menjadi Tentara Rusia, Pemerintah Diminta Lakukan Ini

Wakil Ketua Komisi I Sukamta mengungkapkan pentingnya klarifikasi dari pemerintah terkait kabar mengenai delapan WNI yang diduga direkrut untuk bergabung dengan militer Rusia. Pernyataan ini disampaikan melalui pesan pada hari Jumat (4/9), di mana Sukamta menekankan perlunya penjelasan yang lebih mendalam mengenai situasi ini.

Legislator dari fraksi PKS ini menyatakan bahwa pemerintah harus memastikan identitas individu yang disebut sebagai WNI yang bergabung dengan tentara Rusia. Ia juga menekankan agar pemerintah terlebih dahulu membahas keberadaan delapan WNI tersebut yang dilaporkan berada di Rusia untuk bergabung dengan dinas militer setempat.

Pentingnya Penelusuran Informasi

Menurut Sukamta, pemerintah perlu menelusuri bagaimana para WNI tersebut bisa sampai ke Rusia dan terlibat dalam rekrutmen militer. Ia menyarankan agar pemerintah menyampaikan informasi mengenai kemungkinan bahwa para WNI tersebut memang telah mendaftar sebagai tentara, direkrut setelah berada di luar negeri, atau menerima tawaran pekerjaan lainnya.

“Hal-hal mendasar seperti ini harus jelas dulu. Jangan sampai kita sudah sampai pada kesimpulan hukum, sementara faktanya sendiri masih kita cari,” ujarnya, menekankan perlunya kehati-hatian dalam menangani isu ini.

Verifikasi Informasi di Tengah Konflik

Sukamta juga mengingatkan bahwa informasi mengenai delapan WNI yang menjadi tentara Rusia muncul di tengah konflik antara Rusia dan Ukraina. Dalam situasi perang, semua informasi yang beredar perlu diperiksa dengan cermat, terutama jika sumbernya berasal dari pihak yang terlibat dalam konflik.

“Informasi dari pihak yang sedang berperang tentu boleh didengarkan. Bisa saja informasinya benar, tetapi tugas negara adalah memeriksanya sendiri. Indonesia harus punya penilaian berdasarkan informasi yang dapat kita verifikasi,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa banyaknya pemberitaan mengenai suatu isu tidak selalu berarti informasi tersebut telah terkonfirmasi dari berbagai sumber. “Kadang-kadang satu informasi dikutip satu media, kemudian dikutip lagi oleh media lain dan terus berputar,” jelasnya.

Sukamta mengajak pemerintah untuk memanfaatkan saluran yang ada untuk mendapatkan kejelasan, baik melalui Kementerian Luar Negeri, perwakilan Indonesia di luar negeri, lembaga intelijen, maupun instansi terkait lainnya. “Ini menyangkut warga negara kita. Pemerintah tentu punya saluran diplomatik dan intelijen untuk mengecek. Itu yang sebaiknya dilakukan sampai kita mendapatkan gambaran yang cukup jelas,” pungkasnya.

Artikel Terkait