Update
Demo BEM UI dan Stabilitas Ekonomi: Kritik, Dampak, dan Pertanyaan soal Arah Gerakan Mahasiswa Siswa di Bogor Diduga Keracunan Setelah Mengonsumsi Sate dari Makan Bergizi Gratis Gubernur Herman Deru Minta Pengawasan Ketat untuk Bantuan Penanganan Karhutla 5G: Pondasi untuk Masa Depan yang Siap Digital, Mendukung AI dan Produktivitas Langkah Pemerintah Menjaga Ketersediaan dan Stabilitas Harga Pangan Menjelang Nataru Pembangunan PLTN Dinilai Penting untuk Ketahanan Energi Indonesia IHSG Turun Hampir 2 Persen ke Level 5.266, 611 Saham Mengalami Penurunan Ribuan Akademisi Desak Gibran Mundur, Menurut Connie Bakrie Telkom University Mendorong Partisipasi Publik dalam Pencarian Maisha Aurelia Rafif Peningkatan Penggunaan AI di Kalangan UMKM Indonesia Mencapai 36,8 Persen Demo BEM UI dan Stabilitas Ekonomi: Kritik, Dampak, dan Pertanyaan soal Arah Gerakan Mahasiswa Siswa di Bogor Diduga Keracunan Setelah Mengonsumsi Sate dari Makan Bergizi Gratis Gubernur Herman Deru Minta Pengawasan Ketat untuk Bantuan Penanganan Karhutla 5G: Pondasi untuk Masa Depan yang Siap Digital, Mendukung AI dan Produktivitas Langkah Pemerintah Menjaga Ketersediaan dan Stabilitas Harga Pangan Menjelang Nataru Pembangunan PLTN Dinilai Penting untuk Ketahanan Energi Indonesia IHSG Turun Hampir 2 Persen ke Level 5.266, 611 Saham Mengalami Penurunan Ribuan Akademisi Desak Gibran Mundur, Menurut Connie Bakrie Telkom University Mendorong Partisipasi Publik dalam Pencarian Maisha Aurelia Rafif Peningkatan Penggunaan AI di Kalangan UMKM Indonesia Mencapai 36,8 Persen
Ekonomi

Tantangan Infrastruktur untuk Pengembangan Pusat Data AI di Indonesia

Kebutuhan akan pusat data untuk kecerdasan buatan (AI) semakin meningkat, namun Indonesia menghadapi tantangan serius terkait ketersediaan air dan listrik. Pengelolaan yang tepat diperlukan agar dampa...

Arya Yudhistira 11 October 2026 58 pembaca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
Pengembangan pusat data kecerdasan buatan membutuhkan kesiapan infrastruktur pendukung, termasuk ketersediaan air. Ilustrasi. (REUTERS/Eric Cox).
Pengembangan pusat data kecerdasan buatan membutuhkan kesiapan infrastruktur pendukung, termasuk ketersediaan air. Ilustrasi. (REUTERS/Eric Cox).

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) di berbagai negara mendorong peningkatan kebutuhan akan pusat data. Namun, di Indonesia, terdapat tantangan signifikan yang harus dihadapi, terutama terkait dengan kebutuhan besar akan air dan listrik yang diperlukan untuk operasional pusat data, khususnya yang menggunakan sistem pendingin berbasis penguapan.

Jika tidak dikelola dengan baik, kebutuhan ini dapat menambah tekanan pada sumber daya air yang juga digunakan oleh masyarakat. Salah satu contoh nyata adalah proyek pusat data AI yang dikelola oleh BDx Data Centers senilai Rp3,5 triliun di Jati Luhut, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, yang terpaksa dihentikan sementara akibat masalah perizinan dan perhatian terhadap potensi dampak lingkungan.

Dampak Lingkungan dari Pembangunan Pusat Data

Mariana Marselina, seorang ahli teknologi pengelolaan lingkungan dari Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung, menekankan pentingnya mempertimbangkan dampak lingkungan dalam pembangunan pusat data. "Potensi dampak ekologis yang perlu dikaji antara lain tentu saja terkait penggunaan air untuk sistem pendinginan, kebutuhan energi yang besar, karakteristik air limbah, perubahan tata guna lahan dan limpasan permukaan, kebisingan, panas buangan, serta dampak tidak langsung terhadap masyarakat yang juga bergantung pada sumber daya air yang sama," ujarnya.

Mariana juga menyoroti pentingnya perhatian khusus pada masalah air, mengingat Waduk Jatiluhur memiliki banyak fungsi, termasuk penyediaan air baku dan irigasi. "Kekhawatiran yang timbul terkait data center tersebut saya rasa wajar dan justru perlu dijawab dengan data. Jangan sampai masyarakat hanya mendapatkan informasi bahwa airnya cukup," tambahnya.

Kebutuhan Air Pusat Data di Tingkat Global

Kekhawatiran mengenai konsumsi air oleh pusat data tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Sebuah studi dari Environmental and Energy Study Institute (EESI) yang diterbitkan pada 2025 menyebutkan bahwa sebuah pusat data dapat menggunakan hingga 5 juta galon air per hari, setara dengan kebutuhan air untuk 10 ribu hingga 50 ribu orang.

Peneliti Miguel Yanez-Barnuevo mengungkapkan bahwa pusat data di Amerika Serikat menggunakan 449 juta galon air per hari pada tahun 2021. Meskipun demikian, konsumsi air setiap fasilitas berbeda-beda tergantung pada berbagai faktor seperti ukuran, lokasi, iklim, dan teknologi pendingin yang digunakan.

Yanez-Barnuevo juga mencatat bahwa sekitar 80 persen air yang diambil oleh pusat data biasanya akan menguap, sementara sisanya dibuang ke fasilitas pengolahan air limbah kota. Meningkatnya penggunaan AI berpotensi meningkatkan kepadatan chip dan panas yang dihasilkan server, sehingga kebutuhan pendinginan harus diperhitungkan sejak tahap perencanaan.

Di sisi lain, CEO Amazon Web Services, Matt Garman, menyatakan bahwa tidak semua pusat data menggunakan hingga 5 juta galon air per hari. Rata-rata pusat data menggunakan sekitar 170 ribu galon air per hari, sedangkan fasilitas Amazon rata-rata menggunakan kurang dari 13 ribu galon per hari. Garman juga menekankan bahwa penggunaan air langsung pusat data hanya sekitar 0,5 persen dari total penggunaan air industri di Amerika Serikat.

Persiapan Infrastruktur untuk Pusat Data di Indonesia

Pemerintah Indonesia memandang pengembangan pusat data sebagai elemen penting dalam kemajuan industri digital dan AI. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa ada tiga syarat utama agar Indonesia dapat menjadi basis industri pusat data, yaitu ketersediaan lahan, listrik, dan air. "Kuncinya adalah ketersediaan lahan, ketersediaan listrik, dan ketersediaan air," ujarnya dalam sebuah acara di Jakarta.

Airlangga menambahkan bahwa kebutuhan pusat data terus meningkat seiring dengan persaingan negara lain dalam mengembangkan industri AI. Indonesia memiliki peluang untuk menangkap pertumbuhan ini melalui pengembangan kawasan khusus dan penguatan infrastruktur, termasuk kawasan ekonomi khusus digital di Bintan, Kepulauan Riau, yang telah sold out, serta pengembangan kawasan pusat data di Karawang, Jawa Barat.

Namun, ketersediaan listrik dan lahan saja tidak cukup. Ketersediaan air harus dihitung berdasarkan kebutuhan operasional pusat data serta kebutuhan masyarakat dan sektor lain di wilayah tersebut. Dradjad Wibowo, Ketua Dewan Direktur Indonesia Economic Forum, juga mengingatkan bahwa Indonesia tidak dapat mengabaikan perkembangan AI karena teknologi ini akan semakin menentukan daya saing ekonomi dan teknologi suatu negara.

Kepatuhan Terhadap Regulasi Lingkungan

Wahyu Eka Setyawan, pengkampanye isu perkotaan dan kebijakan tata ruang dari WALHI, menekankan bahwa pengembangan pusat data perlu diiringi dengan aturan yang memastikan kepatuhan terhadap ketentuan lingkungan dan pengawasan yang lebih ketat. "Proyek pusat data ini kebutuhan juga ancaman, makanya harus diregulasi. Dilematis memang. Makanya jangan buru-buru membuka investasi," ujarnya.

Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai proyek pusat data di Jatiluhur perlu disertai analisis neraca air dan simulasi operasi waduk. Kajian ini harus menghitung jumlah air yang diambil, air yang menguap selama operasional, serta potensi penggunaan kembali air tersebut. Selain itu, kualitas air yang akan digunakan juga perlu diperiksa agar operasional pusat data tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan perairan.

Mariana menegaskan bahwa pembangunan pusat data harus memenuhi ketentuan perlindungan lingkungan dan tata ruang yang berlaku, termasuk mendorong penggunaan teknologi yang lebih efisien. Dengan pendekatan yang hati-hati dan terencana, kapasitas pusat data tidak hanya ditentukan oleh kebutuhan bisnis dan listrik, tetapi juga oleh kemampuan sumber daya air di wilayah tersebut.

Artikel Terkait