Tiga orang peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) dilaporkan meninggal dunia saat menjalani pendidikan latihan dasar kemiliteran (latsarmil). Penyebab kematian mereka umumnya disebabkan oleh masalah kesehatan. Korps Marinir TNI AL mengungkapkan rutinitas yang dijalani oleh peserta latsarmil yang merupakan calon pengelola Koperasi Merah Putih.
Letkol (Mar) Agus Mutaqin, yang menjabat sebagai Komandan Batalyon Latihan SPPI KDKMP dan KNMP di Brigif 1 Marinir Cilandak, menjelaskan bahwa kegiatan dimulai dengan bangun pagi pada pukul 04.30 WIB. Peserta kemudian melaksanakan salat Subuh, dilanjutkan dengan olahraga dan pembinaan fisik sebelum menikmati sarapan pagi.
Rangkaian Kegiatan Latihan
Setelah sarapan, peserta mengikuti apel pagi, dilanjutkan dengan latihan baris berbaris, dan kemudian masuk ke kelas untuk mengikuti materi pelajaran. Pada sore hari, mereka mengikuti sesi "pengasuhan" yang dipandu oleh pelatih. Agus menjelaskan bahwa "pengasuhan" ini mencakup pengenalan lingkungan, etika, sikap dalam barisan, serta pembekalan mengenai keseragaman dan kekompakan.
Peserta kemudian diizinkan untuk beristirahat, melaksanakan salat, dan makan sebelum waktu istirahat yang ditentukan pada pukul 21.30 WIB. Agus menekankan bahwa seluruh kegiatan tersebut dilakukan di bawah pengawasan para pelatih dari Korps Marinir. Selain itu, pelatih juga menerapkan sistem hukuman dan penghargaan bagi peserta yang melanggar peraturan atau menunjukkan prestasi selama pendidikan.
Informasi Mengenai Peserta yang Meninggal
Jumlah peserta SPPI yang meninggal dunia selama latsarmil kini mencapai tiga orang. Korban terbaru adalah Novia Rahmadhani Sihotang, yang merupakan peserta calon pengelola Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP). Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengonfirmasi kabar mengenai meninggalnya Novia yang tengah mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan (Satdik) Pusat Bahasa Kodiklatau, Jakarta.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menyampaikan bahwa Novia mengalami gangguan kesehatan saat menjalani latsarmil pada 22 Juni 2026 dan dirawat di Rumah Sakit Angkatan Udara Dr. Esnawan Antariksa. Sayangnya, kondisi Novia terus memburuk hingga dinyatakan meninggal dunia pada 23 Juni 2026, dengan hasil pemeriksaan medis menunjukkan bahwa kematiannya terkait dengan penyakit Tuberkulosis (TB).
Sebelumnya, dua peserta lainnya, Anisa Muyassaroh dan Yonanda Muhammad Taufiq, juga meninggal dunia saat mengikuti pendidikan. Anisa meninggal akibat heat stroke di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan, sementara Yonanda mengalami penurunan kondisi fisik dan meninggal dunia akibat cardiac arrest di Satdik Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Kodiklatad Baturaja.
Kemhan menegaskan bahwa semua peserta latsarmil telah menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum mengikuti pendidikan. Peserta yang mengalami masalah kesehatan selama pelatihan juga mendapatkan penanganan medis sesuai prosedur. Meski demikian, Kemhan berkomitmen untuk melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan latsarmil guna meningkatkan aspek keselamatan dan pengawasan kesehatan peserta.
Rico menambahkan, "Saat ini Kemhan bersama Panitia Seleksi Nasional dan penyelenggara pendidikan terus melakukan evaluasi dan penguatan pengawasan kesehatan peserta guna memastikan keselamatan dan kesehatan peserta tetap menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program."