Update
Narasi “Reformasi Jilid 2” Ramai Digulirkan, Pengamat Soroti Fenomena Fetisisme Revolusi di Kalangan Oposisi Film “Pesta Babi” Dinilai Provokatif, Kritik Muncul terhadap Narasi dan Representasi Papua MAMA YASINTA TERNYATA KORBAN PENIPUAN..? Polemik Film “Pesta Babi” Makin Memanas Seni Harus Menyatukan, Bukan Memecah Belah: Waspadai Provokasi yang Dibungkus Karya Seni Framing Negatif terhadap TNI di Ruang Digital Dinilai Menguat, Pengamat Soroti Pola Perang Opini Modern Narasi Intimidasi Tanpa Bukti di Media Sosial Dinilai Berpotensi Bangun Framing Negatif terhadap Institusi Negara Film “Pesta Babi” dan Narasi Papua: Ketika Isu HAM, Propaganda Global, dan Kepentingan Asing Kembali Dipertanyakan Dana Asing, Narasi Tandingan, dan Perang Opini Digital: Ketika Kedaulatan Negara Jadi Arena Perebutan Pengaruh Dana Asing dan Perang Narasi Digital: Dugaan Operasi Pengaruh yang Menyasar Generasi Muda Indonesia 28 Tahun Reformasi: Kritik Itu Perlu, Provokasi Itu Berbeda Narasi “Reformasi Jilid 2” Ramai Digulirkan, Pengamat Soroti Fenomena Fetisisme Revolusi di Kalangan Oposisi Film “Pesta Babi” Dinilai Provokatif, Kritik Muncul terhadap Narasi dan Representasi Papua MAMA YASINTA TERNYATA KORBAN PENIPUAN..? Polemik Film “Pesta Babi” Makin Memanas Seni Harus Menyatukan, Bukan Memecah Belah: Waspadai Provokasi yang Dibungkus Karya Seni Framing Negatif terhadap TNI di Ruang Digital Dinilai Menguat, Pengamat Soroti Pola Perang Opini Modern Narasi Intimidasi Tanpa Bukti di Media Sosial Dinilai Berpotensi Bangun Framing Negatif terhadap Institusi Negara Film “Pesta Babi” dan Narasi Papua: Ketika Isu HAM, Propaganda Global, dan Kepentingan Asing Kembali Dipertanyakan Dana Asing, Narasi Tandingan, dan Perang Opini Digital: Ketika Kedaulatan Negara Jadi Arena Perebutan Pengaruh Dana Asing dan Perang Narasi Digital: Dugaan Operasi Pengaruh yang Menyasar Generasi Muda Indonesia 28 Tahun Reformasi: Kritik Itu Perlu, Provokasi Itu Berbeda
News

WNA Swiss Ditetapkan Tersangka atas Dugaan Penistaan Hari Nyepi di Bali

Polda Bali telah menetapkan seorang pria berkewarganegaraan Swiss sebagai tersangka terkait unggahan di media sosial yang dianggap menghina perayaan Hari Nyepi.

Lare Ayu 23 March 2026 21 pembaca news.espos.id news.espos.id
WNA Swiss Ditetapkan Tersangka atas Dugaan Penistaan Hari Nyepi di Bali
news.espos.id

Polda Bali telah menetapkan seorang warga negara asing (WNA) asal Swiss sebagai tersangka akibat unggahan di platform media sosial Instagram yang diduga menghina Hari Raya Nyepi. Peristiwa ini mencuri perhatian masyarakat dan menjadi viral di berbagai kalangan, memicu berbagai reaksi di media sosial.

Kejadian ini bermula ketika seorang pengguna Instagram mengunggah konten yang dianggap merendahkan arti dan makna dari Hari Nyepi, sebuah hari suci yang diperingati oleh umat Hindu di Bali. Hari Nyepi merupakan hari untuk beristirahat, melakukan refleksi diri, dan menjalani berbagai ritual keagamaan, yang tentunya dihormati oleh masyarakat Bali dan pengunjung di pulau tersebut. Kasus ini menjadi sorotan karena banyaknya komentar negatif yang muncul sebagai respons terhadap unggahan yang dianggap tidak pantas tersebut.

Kapolda Bali, Irjen Pol. Putu Jayan Danu Putra, menjelaskan bahwa penetapan status tersangka terhadap WNA tersebut dilakukan setelah penyelidikan yang matang. "Kami melakukan penyelidikan berdasarkan laporan dari masyarakat, yang merasa bahwa unggahan tersebut tidak menghormati nilai-nilai yang ada dalam budaya dan agama Hindu di Bali," ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya menjaga kerukunan antarumat beragama, terutama di pulau yang dikenal dengan keragaman budayanya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, unggahan tersebut memperlihatkan gambaran yang dianggap mengolok-olok perayaan suci tersebut. Masyarakat yang mengetahui hal ini merasa tersakiti dan meminta pihak kepolisian untuk mengambil tindakan tegas. Salah satu saksi mata, yang enggan disebutkan namanya, menyatakan, "Kami semua sangat menghormati Hari Nyepi. Apa yang ia lakukan jelas sangat tidak pantas dan mengganggu ketentraman kami."

Di sisi lain, ungkapan kekesalan dan protes juga datang dari warganet, di mana banyak yang mengajukan petisi untuk menuntut agar tindakan serupa tidak terulang. Dalam konteks ini, media sosial berperan besar dalam menyuarakan ketidakpuasan masyarakat Bali terhadap penghinaan tersebut. Dalam beberapa jam setelah unggahan tersebut, tagar terkait mulai trending di sejumlah platform, menunjukkan soliditas komunitas dalam mempertahankan budaya dan kearifan lokal.

Setelah ditetapkannya status tersangka, pihak kepolisian tengah menyusun langkah-langkah hukum selanjutnya. Polda Bali mengingatkan bahwa setiap tindakan yang menyinggung atau merendahkan nilai-nilai spiritual akan dikenakan sanksi sesuai dengan hukum yang berlaku. Saat ini, kasus ini masih dalam proses penyelidikan lebih lanjut.

Penetapan tersangka ini diharapkan dapat memberikan pelajaran bagi siapa saja, khususnya para pelancong, untuk lebih menghormati dan mengerti budaya lokal saat berkunjung ke Bali. Sebagai pulau yang dikenal akan keramahtamahan serta budayanya yang kaya, Bali tentunya ingin terus menjaga suasana kondusif antarumat beragama dan masyarakatnya.

Pihak berwenang mengatakan mereka akan terus memantau perkembangan kasus ini dan berjanji untuk mengambil tindakan tegas terhadap perilaku yang dapat merusak ikatan sosial di Bali. Proses hukum masih berjalan, dan masyarakat diminta untuk tetap tenang sembari menunggu hasil dari penyelidikan ini.

Tags: Belum ada tag.

Artikel Terkait