Update
Ketegangan Seputar Ijazah Jokowi dan Gibran, Bambang Tri Mulyono: Ada Ancaman bagi Gibran di Pilpres 2029 Dukungan Gus Lilur untuk Reformasi PBNU oleh Gus Kikin Inovasi Mahasiswa UNEJ: Terapi Koktail Bakteriofag untuk Mengatasi Keracunan Makanan Penelitian Dampak Kesehatan Anak-Anak Korban Tragedi 9/11 Dimulai, Fokus pada Racun Debu IHSG Melemah di Level 6.495, 535 Saham Mengalami Penurunan Budi Arie Setiadi Soroti Gaya Kepemimpinan Dedi Mulyadi dalam Diskusi Politik Basarnas Tingkatkan Upaya Pencarian Lima Jurnalis yang Hilang Saat Meliput Erupsi UNDIP Bekerja Sama dengan Universite Paris-Saclay untuk Meningkatkan Peringkat Global Melalui Riset dan Beasiswa Doktor Aktivitas Erupsi Gunung Anak Krakatau: Apakah Akan Segera Berakhir? Pertamina Ambil Alih SPBU Melanggar Aturan untuk Jamin Pasokan BBM Ketegangan Seputar Ijazah Jokowi dan Gibran, Bambang Tri Mulyono: Ada Ancaman bagi Gibran di Pilpres 2029 Dukungan Gus Lilur untuk Reformasi PBNU oleh Gus Kikin Inovasi Mahasiswa UNEJ: Terapi Koktail Bakteriofag untuk Mengatasi Keracunan Makanan Penelitian Dampak Kesehatan Anak-Anak Korban Tragedi 9/11 Dimulai, Fokus pada Racun Debu IHSG Melemah di Level 6.495, 535 Saham Mengalami Penurunan Budi Arie Setiadi Soroti Gaya Kepemimpinan Dedi Mulyadi dalam Diskusi Politik Basarnas Tingkatkan Upaya Pencarian Lima Jurnalis yang Hilang Saat Meliput Erupsi UNDIP Bekerja Sama dengan Universite Paris-Saclay untuk Meningkatkan Peringkat Global Melalui Riset dan Beasiswa Doktor Aktivitas Erupsi Gunung Anak Krakatau: Apakah Akan Segera Berakhir? Pertamina Ambil Alih SPBU Melanggar Aturan untuk Jamin Pasokan BBM
Politik

Analisis Elektabilitas PSI: Masih Jauh dari Ancaman bagi PDIP

Elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang mencapai 4,1 persen dalam survei terbaru belum cukup untuk mengancam dominasi PDI Perjuangan (PDIP) di panggung politik Indonesia, menurut pengama...

Yoga Samadhi 27 August 2026 45 pembaca fajar.co.id fajar.co.id
Joko Widodo (Jokowi)
Joko Widodo (Jokowi)

Hasil survei yang dilakukan oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan bahwa elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) berada di angka 4,1 persen. Meskipun angka ini sedikit di atas ambang batas parlemen yang ditetapkan sebesar 4 persen, pengamat politik dari Universitas Hasanuddin, Endang Sari, menilai bahwa pencapaian tersebut belum cukup untuk mengancam posisi PDI Perjuangan (PDIP) sebagai kekuatan politik utama di Indonesia.

Endang Sari menjelaskan bahwa angka 4,1 persen menunjukkan adanya peningkatan yang sangat kecil, mengingat sebelumnya PSI tidak mencapai 4 persen. "4,1 persen itu kan menandakan bahwa masih naik sedikit sekali. Karena kemarin memang enggak sampai 4 persen. Nah, 4,1 itu artinya baru lewat pada ambang batas parlementer," ujarnya. Meskipun ini menjadi sinyal positif bagi PSI dalam upaya meraih kursi di DPR pada Pemilu 2029, dia menekankan bahwa angka tersebut belum menunjukkan adanya pergeseran signifikan dalam kekuatan politik.

Peluang dan Tantangan bagi PSI

Menurut Endang, terlalu dini untuk menganggap kenaikan elektabilitas PSI sebagai ancaman langsung bagi PDIP, yang merupakan pemenang Pemilu 2024. "Kalau dianggap apakah PSI ini adalah ancaman bagi PDIP yang notabene adalah pemenang Pemilu 2024, saya kira itu masih terlalu jauh analisisnya kalau seperti itu," katanya. Ia berpendapat bahwa PSI saat ini lebih tepat dilihat sebagai partai yang mulai memiliki peluang untuk menempatkan wakilnya di parlemen, tetapi untuk menjadi pesaing serius bagi PDIP dan partai-partai lain yang memiliki elektabilitas lebih tinggi, PSI masih perlu meningkatkan dukungan secara signifikan.

Endang juga menyoroti bahwa ambang batas parlemen 4 persen adalah angka minimal yang harus dicapai agar partai politik dapat memperoleh kursi di DPR. "Karena itu, capaian 4,1 persen belum bisa dianggap sebagai pencapaian yang aman," tambahnya. Ia juga mengamati pengaruh Presiden Joko Widodo terhadap peningkatan elektabilitas PSI, meskipun pengaruh tersebut dianggap belum cukup kuat untuk mengubah dinamika persaingan antara PSI dan PDIP. "Bahwa faktor Jokowi yang kemudian mentrigger itu, maka sebenarnya kalau kita lihat, yang terjadi adalah PSI yang kelihatannya baru elektabilitas PSI ke 4,1 persen tidak bisa dibaca sebagai ancaman langsung terhadap PDIP," ujarnya.

Target Ambisius PSI Menuju Pemilu 2029

Sementara itu, Ketua Harian DPP PSI, Ahmad Ali, menyatakan bahwa partainya tidak ingin berpuas diri dengan hasil survei yang menunjukkan elektabilitas 4,1 persen. Ia menilai bahwa angka tersebut mencerminkan pertumbuhan kepercayaan publik terhadap PSI, tetapi masih jauh dari target politik yang ditetapkan untuk Pemilu 2029. "Kalau melihat angka 4,1 persen, tentu kami bersyukur karena ada pertumbuhan kepercayaan publik kepada PSI," ungkap Ahmad Ali.

Ahmad Ali menegaskan bahwa PSI harus memanfaatkan hasil survei sebagai dorongan untuk memperkuat kerja politik. Target partai, menurutnya, bukan hanya sekadar lolos ambang batas parlemen, melainkan meraih kemenangan besar pada Pemilu 2029. "Tetapi bagi kami, itu masih terlalu kecil. Target kami menang besar. Karena itu kerja partai tidak boleh berhenti pada hasil survei," ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa persaingan menuju Pemilu 2029 akan semakin ketat, sehingga PSI perlu membangun kepercayaan publik melalui kerja politik yang konsisten.

Ahmad Ali menekankan bahwa dukungan tidak hanya diperoleh melalui slogan, tetapi harus dibangun melalui kerja yang nyata dan konsisten. "Survei memberi gambaran tentang posisi kita hari ini. Tetapi pemilu ditentukan oleh kerja panjang," katanya. Ia juga mengingatkan kepada kader PSI agar tidak terlena dengan angka 4,1 persen, menekankan bahwa pencapaian tersebut harus dijadikan modal awal untuk menghadapi Pemilu 2029. Namun, menurut Endang Sari, angka tersebut masih sebatas tiket potensial menuju parlemen dan belum cukup untuk menjadikan PSI sebagai ancaman bagi PDIP.

Artikel Terkait