Amerika Serikat (AS) telah melakukan intervensi di pasar valuta asing dengan membeli yen Jepang untuk pertama kalinya dalam lebih dari sepuluh tahun. Tindakan ini dilakukan bersamaan dengan pemerintah Jepang guna menstabilkan nilai tukar yen yang mengalami penurunan signifikan, mendekati level terendah dalam 40 tahun terhadap dolar AS.
Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa pembelian yen ini merupakan bentuk dukungan kepada Jepang yang sedang berjuang menghadapi pelemahan mata uang akibat ketidakstabilan ekonomi global dan lonjakan harga energi. "Mereka memiliki yen yang melemah dan mereka membutuhkan sedikit bantuan. Kami selalu ada untuk Jepang," ungkap Trump kepada wartawan saat berada di Air Force One pada hari Minggu, 2 Agustus.
Intervensi untuk Stabilitas Ekonomi
Langkah ini dianggap sebagai "sinyal persahabatan" dan diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian global. Intervensi bersama ini mengkonfirmasi tindakan yang diambil oleh pemerintah AS dan Jepang pada tanggal 31 Juli untuk menghentikan penurunan nilai yen yang terus berlanjut sepanjang tahun ini. Depresiasi yen semakin parah setelah konflik di Iran menyebabkan kenaikan harga energi.
Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, menyatakan bahwa intervensi ini bertujuan untuk meredakan gejolak nilai tukar yang dianggap berlebihan dalam beberapa bulan terakhir. "Tindakan ini mengatasi volatilitas yang berlebihan dan pergerakan yen Jepang yang tidak teratur dalam beberapa bulan terakhir," jelas Katayama.
Reaksi dan Rencana Ke Depan
Sebelumnya, laporan dari Financial Times menyebutkan bahwa Federal Reserve Bank of New York menjual euro dan membeli yen atas nama Departemen Keuangan AS. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, juga menegaskan bahwa pemerintah siap melakukan intervensi kembali jika diperlukan. "Kami sangat mendukung langkah tegas Jepang di pasar dan kebijakan moneternya untuk mengoreksi pelemahan yen yang sangat besar," kata Bessent melalui akun X.
Catatan dari rapat kabinet Presiden Trump di Camp David menunjukkan Bessent mencatat "To Do: Buy Japanese Yen (JPY) US$5-10 bil", yang berarti membeli yen Jepang senilai antara US$5 miliar hingga US$10 miliar. Meskipun Jepang merupakan salah satu ekonomi terbesar di dunia, negara ini telah lama berjuang dengan pelemahan mata uangnya.
Setelah mengalami resesi dan deflasi yang berkepanjangan sejak tahun 1990-an, Jepang mempertahankan suku bunga yang sangat rendah, bahkan negatif, selama bertahun-tahun untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Meskipun Bank of Japan berencana untuk menaikkan suku bunga pada tahun 2024, tingkat suku bunga tersebut masih jauh di bawah negara-negara maju lainnya, terutama AS.
Kondisi ini mendorong investor untuk meminjam yen dan berinvestasi pada aset dengan imbal hasil lebih tinggi di negara lain. "Perbedaan suku bunga yang terus melebar telah mendorong investor internasional untuk meminjam atau melakukan short terhadap yen dan mengalihkan dana ke mata uang dengan imbal hasil lebih tinggi," jelas Hung Tran, Senior Fellow di Atlantic Council.
Selain itu, investasi luar negeri oleh perusahaan-perusahaan Jepang dan keuntungan yang disimpan di luar negeri juga memberikan tekanan terhadap yen. Konflik di Iran semakin memperburuk kondisi Jepang yang sangat bergantung pada impor energi dan pangan. Kenaikan harga minyak dan gas telah meningkatkan inflasi, yang berdampak pada daya beli masyarakat.
Beberapa analis berpendapat bahwa intervensi terbaru ini hanya akan memberikan efek sementara terhadap penguatan yen. Kepala Strategi Valuta Asing dan Suku Bunga Jepang di Bank of America Securities, Shusuke Yamada, menyatakan bahwa intervensi pasar umumnya hanya dapat "membeli waktu" tanpa mengubah tren jangka panjang. Barclays juga memperkirakan bahwa dampak intervensi kali ini mungkin lebih signifikan karena dilakukan bersama oleh AS dan Jepang, namun tekanan fundamental terhadap yen masih akan tetap ada dalam jangka panjang.