Petani yang tergabung dalam Sirtanio di Banyuwangi, Jawa Timur, kini mulai merasakan manfaat dari konsistensi mereka dalam mengembangkan pertanian organik. Dengan pengelolaan lahan yang bebas dari bahan kimia, tidak hanya kualitas tanah yang terjaga, tetapi juga potensi pendapatan petani meningkat.
Produksi beras Sirtanio yang dikelola secara kolektif kini mencapai sekitar 50 ton setiap bulan dan telah berhasil menembus pasar nasional, mendistribusikan produk mereka ke hampir seluruh wilayah Indonesia. Dalam lima tahun terakhir, Sirtanio mencatat peningkatan hasil panen para petani mitra antara 5 hingga 10 persen setiap musim tanam.
Dampak Positif terhadap Ekonomi Daerah
Sirtanio, yang merupakan salah satu UMKM binaan Bank Indonesia, menunjukkan perkembangan yang signifikan. Pertumbuhan produksi sejalan dengan bertambahnya jumlah petani yang terlibat dalam kemitraan. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jember, Iqbal Reza Nugraha, menyatakan bahwa perkembangan Sirtanio berkontribusi terhadap penguatan ekonomi lokal melalui peningkatan kapasitas produksi dan perluasan kemitraan dengan petani.
"Teman-teman Sirtanio kapasitas produksinya sudah mengalami peningkatan, mungkin dari 80 ton menjadi 384 ton, lalu dari sisi pendapatan 38 persen, dari sisi kemitraan dari 40 petani menjadi 346 petani terlibat. Tentunya menciptakan rantai pasok lebih, lalu untuk lahan kini mencapai 176 hektar," ungkap Iqbal.
Inovasi dalam Pertanian Organik
Meski pertanian organik sering dianggap memerlukan biaya produksi yang lebih tinggi dibandingkan pertanian konvensional, Sirtanio berupaya untuk menekan biaya tersebut melalui penerapan sistem pertanian terpadu. Direktur PT Sirtanio Indonesia, Shohib Qomad Dillah, menjelaskan bahwa sistem ini memungkinkan petani untuk memproduksi pupuk dan pestisida nabati secara mandiri. Kebutuhan budidaya juga dapat dibeli atau diproduksi secara massal melalui kelompok tani, sehingga biaya per unit dapat ditekan.
Model ini juga dilengkapi dengan skema pembelian langsung di tingkat petani, di mana Sirtanio berperan sebagai pembeli siaga, memberikan kepastian pasar bagi petani sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap tengkulak. "Kemudian kami beri mereka pelayanan dari segi produksinya, kami pinjami dari awal dan tiap minggu kita dampingi misal ada kendala, misal keuangan kami sedikit membantu, sehingga kesejahteraan petani tertolong," jelas Shohib.
Perkembangan bisnis beras organik juga didorong oleh perubahan minat konsumen terhadap pangan sehat. Salah satu konsumen Sirtanio, Rimang Barsoro, yang menjalankan usaha katering sehat, menyatakan bahwa meningkatnya perhatian masyarakat terhadap makanan sehat dan organik menjadi peluang bisnis yang terus berkembang. Beras organik menjadi salah satu komponen penting dalam menu katering yang ditawarkan.
Meskipun harga beras organik lebih tinggi dibandingkan beras konvensional, pelanggan kateringnya tetap memilih produk tersebut karena mempertimbangkan manfaat dan kandungan pangan yang lebih baik. "Konsep utama dari usaha kami adalah makanan sehat, jadi bagaimana semaksimal mungkin kita gunakan bahan-bahan yang non pestisida, tanpa garam, tanpa gula, kita pake beras organik juga sehingga rendah gula," ujar Rimang.
Perjalanan Sirtanio dalam mengembangkan bisnis beras organik tidak terjadi secara instan. Peningkatan produksi, perluasan kemitraan, dan penetrasi pasar nasional dilakukan secara bertahap. Di balik pertumbuhan bisnis tersebut, dampak positif dari pertanian organik juga dirasakan oleh para petani dan kondisi lahan. Praktik budidaya organik tidak hanya memberikan peluang peningkatan kesejahteraan bagi mitra tani, tetapi juga mendorong kondisi tanah yang lebih baik karena penggunaan bahan kimia dapat diminimalkan.
Secara keseluruhan, perjalanan Sirtanio menunjukkan bahwa bisnis pangan organik tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi. Ada banyak manfaat yang terbentuk, mulai dari kepastian pasar bagi petani, pengelolaan lahan yang lebih berkelanjutan, hingga pilihan pangan sehat bagi konsumen.