Update
News

BMKG Peringatkan Lonjakan Karhutla Akibat El Niño Sangat Kuat Masih Berlangsung

Nasywa Fattari 09 October 2026 54 pembaca
Ilustrasi Kemarau (Foto: Pixabay)
Ilustrasi Kemarau (Foto: Pixabay)

Dominasi Cuaca Kering dan Indeks El Niño Ekstrem

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam cengkeraman cuaca kering hingga awal Oktober 2026. Berdasarkan pemantauan curah hujan pada Dasarian III September, tercatat sebanyak 70,59 persen wilayah mengalami curah hujan kategori rendah, 27,48 persen masuk kategori menengah, dan hanya 1,93 persen yang merasakan curah hujan tinggi.

Kondisi minim hujan tersebut dipicu oleh kombinasi anomali iklim global. BMKG mencatat fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif dengan indeks bulanan September berada di angka +0,72. Pada saat yang sama, anomali suhu muka laut di kawasan Niño 3.4 periode Juli–Agustus–September (JAS) menembus angka +2,70. Angka tersebut mengonfirmasi bahwa fenomena El Niño dengan kategori sangat kuat masih berlangsung dan secara signifikan menekan pertumbuhan awan hujan di sebagian besar wilayah Tanah Air.

“Kondisi tersebut turut memberikan pengaruh terhadap berkurangnya pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia,” ungkap BMKG dalam keterangan resminya, Jumat (9/10/2026).


Ratusan Titik Panas Terdeteksi dan Sebaran Asap Karhutla

Tingginya intensitas kekeringan berdampak langsung terhadap meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan data pemantauan per 7 Oktober 2026, ratusan titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi terpantau tersebar di berbagai pulau, yakni 531 titik di wilayah Papua dan Maluku, 364 titik di Kalimantan, serta 340 titik di Sumatera.

Tak hanya itu, citra satelit cuaca Himawari menangkap adanya sebaran kabut asap di sebagian besar wilayah Sumatera dan Kalimantan, serta terdeteksi meluas ke sejumlah area di Sulawesi, Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, Maluku Utara, hingga Papua.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi karhutla masih perlu diwaspadai, khususnya pada wilayah dengan curah hujan rendah dan kondisi vegetasi yang semakin kering,” papar BMKG memperingatkan.


Potensi Hujan Lebat Dipicu Dinamika Gelombang Atmosfer

Kendati cuaca kering mendominasi secara nasional, BMKG menggarisbawahi bahwa hujan berintensitas sedang hingga lebat masih berpeluang mengguyur sejumlah daerah secara sporadis. Sebagai gambaran, pada periode 1–4 Oktober 2026 lalu, curah hujan harian tinggi tercatat di Sumatera Utara (91 mm), Sumatera Barat (69 mm), Aceh (67 mm), dan Jawa Barat (54 mm).

Terjadinya hujan lebat lokal di tengah musim kering ini dipengaruhi oleh aktifnya dinamika gelombang atmosfer, seperti fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, hingga Gelombang Mixed Rossby-Gravity (MRG) yang melintasi Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, hingga Papua. Adanya perlambatan kecepatan angin dan suhu perairan laut yang hangat di sekitar wilayah tersebut turut memasok uap air yang cukup untuk membentuk awan-awan hujan.

“Aktivitas dinamika atmosfer yang masih berlangsung memungkinkan terjadinya hujan sedang hingga sangat lebat, termasuk di wilayah yang secara umum mengalami curah hujan rendah,” tutup BMKG.

Artikel Terkait