Kebijakan WFH Wajib bagi Penyewa di Menara Kingdom Centre
Gedung pencakar langit ikonis di Riyadh, Arab Saudi, Kingdom Centre, resmi mewajibkan skema kerja jarak jauh (work from home/WFH) bagi seluruh penyewa kantor mulai Minggu (18/10/2026). Kebijakan ini diberlakukan secara mendadak menyusul rentetan serangan kelompok Houthi asal Yaman yang menyasar ibu kota Riyadh.
Menara setinggi 99 lantai yang menjadi salah satu bangunan tertinggi di Arab Saudi tersebut menginstruksikan kebijakan WFH hingga batas waktu yang belum ditentukan. Kebijakan ini berdampak langsung pada sejumlah tenant multinasional yang berkantor di gedung tersebut, di antaranya perusahaan jasa keuangan Merrill Lynch, firma konsultan manajemen McKinsey, hingga Dana Moneter Internasional (IMF).
"Harap diperhatikan bahwa pengaturan kerja jarak jauh bersifat wajib bagi seluruh karyawan kantor di Kingdom Centre, berlaku segera hingga pemberitahuan lebih lanjut," bunyi petikan surat elektronik manajemen gedung kepada para penyewa, dikutip dari AFP, Senin (19/10/2026).
"Mohon untuk tidak datang ke kantor selama periode ini," lanjut instruksi tersebut. Kendati area perkantoran ditutup, pusat perbelanjaan yang berlokasi di bagian bawah kompleks gedung dilaporkan tetap beroperasi.
Perpanjangan PJJ Sekolah dan Penutupan Bandara Internasional
Eskalasi keamanan di ibu kota turut berdampak pada sektor pendidikan dan transportasi udara. Pihak berwenang memperpanjang kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi sekolah-sekolah di wilayah Riyadh dan sekitarnya untuk pekan kedua.
Sementara itu, Bandara Internasional King Khalid Riyadh hingga kini masih ditutup total pasca-insiden serangan besar pada 10 Oktober lalu yang menewaskan sedikitnya 13 orang.
Konflik bersenjata antara koalisi pimpinan Arab Saudi dan kelompok Houthi yang disokong Iran kembali memanas sejak Juli lalu di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Eskalasi ini sekaligus mengakhiri periode gencatan senjata yang sempat disepakati kedua belah pihak sejak Maret 2022.
Gugurnya Personel Militer
Di sektor militer, koalisi pimpinan Arab Saudi mengumumkan kematian dua personel militernya, yakni dua pilot helikopter di kawasan Najran dekat perbatasan Yaman. Ini merupakan pengumuman resmi pertama mengenai gugurnya prajurit koalisi sejak ketegangan kembali pecah pada Juli lalu. Pihak koalisi menyebut insiden jatuhnya helikopter tersebut disebabkan oleh "gangguan teknis".
Namun, klaim berbeda disampaikan oleh kelompok Houthi. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan bahwa pihak militer Houthi berhasil menembak jatuh helikopter serang jenis Apache milik Arab Saudi saat melintas di wilayah perbatasan tersebut.