Update
News

Cari Rombongan Jurnalis yang Hilang di Selat Sunda, 523 Personel SAR Sisir 10 Sektor Laut

Nasywa Fattari 17 September 2026 67 pembaca
Personel tim SAR gabungan menaiki kapal RIB 02 Banten usai melakukan operasi pencarian pada hari kesembilan terhadap jurnalis dan awak kapal yang hilang kontak di Carita, Pandeglang, Banten, Rabu (16/9/2026). (Foto: Arif Julianto)
Personel tim SAR gabungan menaiki kapal RIB 02 Banten usai melakukan operasi pencarian pada hari kesembilan terhadap jurnalis dan awak kapal yang hilang kontak di Carita, Pandeglang, Banten, Rabu (16/9/2026). (Foto: Arif Julianto)

Memasuki hari ke-10, operasi pencarian terhadap kapal KKM Arupadata I yang mengangkut lima wartawan serta tiga awak kapal masih berlanjut di perairan Selat Sunda. Guna menelusuri wilayah perairan seluas 8.509 mil laut persegi, tim SAR gabungan menurunkan 24 armada laut ke lokasi.


Kasubsie Operasi dan Siaga Basarnas Banten Rizky Dwianto membeberkan gambaran cuaca serta tantangan alam yang dihadapi tim di lokasi penyisiran saat ini.

“Untuk hari ini cuaca berawan, kemudian untuk kecepatan angin 10 sampai 20 knot dan gelombang 0,5 sampai 3,5 meter,” ujar Rizky.


Pantauan Gunung Anak Krakatau

Di samping memfokuskan pencarian di permukaan laut, pergerakan aktivitas Gunung Anak Krakatau juga tak luput dari pengawasan petugas melalui koordinasi bersama PVMBG. Hingga kini, gunung api tersebut bertahan di Level III (Siaga) tanpa menunjukkan adanya tanda-tanda erupsi.


“Status masih siaga, tidak terjadi erupsi, dan secara visual gunung tertutup kabut serta asap tidak teramati,” tuturnya.


Meski asap dari kawah tak tampak akibat terhalang kabut tebal, rekaman aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau saat ini didominasi oleh gempa vulkanik dangkal.


Strategi Pembagian 10 Sektor Pencarian

Operasi besar ini menggerakkan 523 personel gabungan yang disokong 24 alut laut. Rincian armada tersebut meliputi delapan kapal TNI AL (lima KRI, dua KAL, satu RBB), delapan kapal Polairud, satu kapal KPLP, serta delapan unit armada Basarnas (empat KN SAR dan tiga RIB). Selain itu, satu unit helikopter SAR ditempatkan siaga di ATS Bogor sembari memantau perkembangan cuaca serta jarak pandang.


Rizky menjelaskan bahwa pembagian area menjadi 10 sektor ini dirancang berdasarkan kalkulasi arah pergerakan objek di laut.


“Seluruh sektor ini merupakan area kemungkinan pergeseran kapal ataupun korban yang kami cari, sehingga tidak ada titik fokus tertentu,” ucapnya.


Berikut sebaran 10 sektor operasi pencarian di lapangan:

  • Sektor A (1.156 mil laut persegi): Disisir KN SAR 213 dari Kantor SAR Bengkulu, membentang dari perairan barat Sumatera hingga barat Pulau Enggano.
  • Sektor B (494 mil laut persegi): Dijejaki RIB 02 Bengkulu yang menyisir area pesisir sampai mengitari Pulau Enggano.
  • Sektor C (3.380 mil laut persegi): Sektor paling luas ini ditangani KRI Teluk Lada dan KRI Dewa Kembar di Samudera Hindia, mulai barat Belimbing hingga selatan Pulau Enggano.
  • Sektor D (637 mil laut persegi): Ditempuh KRI Teluk Gilimanuk dan KRI Antasena di kawasan barat laut Pulau Panaitan hingga gerbang Samudra Hindia.
  • Sektor E (542 mil laut persegi): Diperiksa KRI Kerambit di area selatan Teluk Semangka.
  • Sektor F (484 mil laut persegi): Disisir KRI Iskandar Muda dari perairan dalam Teluk Semangka hingga mengitari Pulau Tabuan, Lampung.
  • Sektor G (316 mil laut persegi): Dikerahkan RIB 02 Lampung, KRI Lepu, dan KAL Lampung di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Pulau Sebesi, dan Pulau Sibuku.
  • Sektor H (589 mil laut persegi): Mengintegrasikan enam kapal TNI AL dari sisi selatan Gunung Anak Krakatau hingga Pulau Panaitan.
  • Sektor I (397 mil laut persegi): Diperiksa gabungan Polairud dan Basarnas (RIB 02 Banten, RBB Pulau Peucang, KP WRC Erhan, KP 2016) di sepanjang pesisir barat Anyer, Carita, hingga perairan Sumur.
  • Sektor J (114 mil laut persegi): Sektor terkecil ini disisir armada Polairud (KP 1012, KP 1010, dan KP 1007) di area pesisir barat Anyer hingga perairan Merak, Banten.


Hasil Pemancaran Radio dan Pemantauan Pesisir

Selain menerjunkan kapal ke tengah laut dan memantau pesisir barat Banten dari Anyer sampai Carita, petugas juga memancarkan pesan radio (e-broadcast) ke kapal-kapal yang melintas serta tersambung dengan Vessel Traffic Service (VTS).


Namun, hingga memasuki hari ke-10, upaya pemancaran siaran radio maupun tindak lanjut atas laporan warga sekitar belum membuahkan petunjuk baru.


“Untuk hasil e-broadcast sampai hari ke-10 belum ada yang masuk, dan informasi masyarakat yang kami terima sudah ditindaklanjuti namun hasilnya masih nihil,” tuturnya.

Artikel Terkait