Pegiat media sosial Chusnul Chotimah kembali melontarkan sindiran kepada Dede Budhyarto setelah Dede mengkritik sebagian pendukung Prabowo Subianto terkait sikap mereka terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Sindiran ini disampaikan Chusnul melalui akun X pribadinya pada Senin (28/9/2026).
Chusnul menilai Dede terus-menerus mengkritik kelompok yang sebelumnya merupakan pendukung Prabowo. "Kasian nah sudah berhari-hari termul ini masih ngamuk-ngamuk," tulis Chusnul di akun X-nya. Ia juga menyoroti pernyataan Dede yang mengkritik partai politik dalam koalisi Prabowo karena dianggap tidak memberikan dukungan kepada Gibran. "Kemarin nyerang parpol koalisi Prabowo yg nggak bantu Gibran, sekarang nyerang pendukung Prabowo," tambahnya.
Kritik Dede terhadap Pendukung Prabowo
Chusnul juga menyoroti beberapa pernyataan Dede yang dianggap menyerang pendukung Prabowo. Ia menyebut Dede telah menggunakan istilah yang merendahkan terhadap kelompok tersebut. "Pendukung Prabowo dikatain sontoloyo, bego, dan pendukung teroris bahkan didoain 2029 sudah nggak ada lagi. Jahat banget ya," ungkapnya.
Menurut Chusnul, kritik yang disampaikan Dede menunjukkan bahwa kelompok yang ia sebut "termul" dapat menyerang berbagai pihak, termasuk mereka yang sebelumnya berada dalam dukungan politik yang sama. "Betulkan kata sy, jadi termul itu semua akan mereka serang dan musuhi. Bahkan sesama mereka saling serang. Saran aja sama termul yg masih punya otak sedikit, lebih baik tobat biar hidup lebih tenang," saran Chusnul.
Pernyataan Dede Sebelumnya
Sebelumnya, Dede Budhyarto juga menyampaikan kritik terhadap sebagian pendukung Prabowo melalui akun media sosialnya pada Minggu (27/9/2026). Ia mengungkapkan pandangannya mengenai dinamika dukungan politik sejak Pilpres 2024, di mana ia menilai ada pihak yang berubah sikap setelah Prabowo dan Gibran memenangkan pemilihan tersebut. "Sudah sepantasnya Pak Prabowo kalah dua kali lawan Jokowi. Typical pendukungnya sontoloyo. Untung sebagian besar pada 2024 pindah ke Anies," tulis Dede.
Dede kemudian mempertanyakan sikap pendukung yang sebelumnya dianggap membutuhkan Gibran untuk menjaga kekuatan koalisi. "Setelah menang, balik lagi seolah-olah pendukung garis keras. Lupa diri bagaimana cara memenangkannya. Cuma enak-enakan menikmati hasil setelah kemenangan," ujarnya. Ia juga mengaitkan masalah tersebut dengan posisi Gibran sebagai wakil presiden dalam pemerintahan Prabowo.
Ia menambahkan, "Logika bengkok. Dulu butuh Gibran biar koalisi utuh, biar menang & terbukti menang, sekarang dilepas sendirian. Capres sendiri tanpa Wapres itu yakin menang? BEGO," lanjut Dede. Ia menegaskan bahwa dirinya dan kelompok yang dimaksud tetap berada dalam barisan yang sama sejak awal. "Kami dari awal tetap satu barisan. Yang lupa daratan itu justru kalian pendukung teroris palsu," tegasnya.
Dede juga menyinggung dinamika politik menuju Pemilu 2029, berharap agar tidak ada lagi pendukung yang ia sebut sontoloyo di masa depan. "Semoga jika diizinkan Allah, pendukung sontoloyo seperti itu tidak ada lagi di 2029," pungkasnya. Tanggapan Chusnul terhadap pernyataan Dede menunjukkan adanya perbedaan pandangan di media sosial mengenai hubungan antara Prabowo, Gibran, dan kelompok pendukung mereka menjelang dinamika politik 2029.