Ketua DPR RI Puan Maharani mendorong PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN untuk melakukan evaluasi serta mitigasi terhadap dampak dari pemadaman listrik bergilir yang telah berlangsung di Pulau Jawa selama beberapa pekan terakhir. Puan menegaskan bahwa evaluasi ini sangat penting dilakukan karena pemadaman yang berkepanjangan dan berulang ini telah memberikan dampak luas, termasuk pada sektor ekonomi masyarakat.
“Saya sudah mencatat adanya pemadaman bergilir di sejumlah daerah di Pulau Jawa karena gangguan pasokan batu bara dan teknis pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Hal ini tentunya menyebabkan ketidaknyamanan bagi masyarakat yang terdampak,” ungkap Puan dalam keterangan resmi yang diterima.
Dampak Pemadaman Terhadap Masyarakat
Puan menjelaskan bahwa pemadaman listrik bergilir telah mengganggu produktivitas masyarakat dan keberlangsungan ekonomi keluarga. Misalnya, pedagang soto di Pasar Legi, Surakarta, mengalami kerugian karena kehilangan kesempatan berjualan. Penjual es di Bekasi juga terancam merugi akibat dagangannya mencair, sementara pedagang kue kesulitan menjaga kualitas produknya. Bahkan, beberapa pemilik usaha bakery rumahan terpaksa membuang bahan setengah jadi karena pemadaman listrik yang berkepanjangan.
Selain itu, pemadaman listrik juga mengganggu pekerja yang bergantung pada internet untuk bekerja dari rumah. Mereka terpaksa menghentikan aktivitas karena perangkat kerja dan jaringan tidak dapat digunakan dengan baik. Di kalangan rumah tangga, banyak orangtua yang harus mencari cara untuk menenangkan anak-anak mereka yang kepanasan selama pemadaman berlangsung lama.
Sementara itu, para ibu menyusui juga mengaku terpaksa membuang stok air susu ibu perah (ASIP) yang mencair akibat tidak adanya listrik untuk menjaga suhu freezer. Puan menilai bahwa berbagai kondisi ini menunjukkan bahwa dampak pemadaman listrik jauh lebih luas daripada sekadar padamnya lampu. Ketiadaan energi dinilai mengganggu kehidupan sehari-hari, mulai dari aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga komunikasi.
Urgensi Evaluasi dan Mitigasi
Menurut Puan, pemadaman listrik yang sering terjadi dalam durasi panjang menunjukkan adanya masalah yang lebih besar terkait ketahanan infrastruktur energi nasional, perlindungan pelaku usaha kecil, dan kualitas pelayanan publik. “Insiden ini harus menjadi pelajaran untuk memperkuat tata kelola sektor energi nasional. Ketahanan energi merupakan fondasi penting bagi investasi, industri, dan pelayanan publik,” tegasnya.
Puan juga mengingatkan bahwa kelompok yang paling terdampak oleh setiap gangguan layanan publik umumnya berasal dari kalangan usaha mikro dan masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. “Bagi perusahaan besar, pemadaman listrik dapat diantisipasi menggunakan generator cadangan atau sistem kelistrikan alternatif. Namun, bagi pedagang kecil, warung makan, UMKM rumahan, dan pekerja informal, listrik adalah satu-satunya sumber energi yang tersedia,” ujarnya.
Dalam konteks ekonomi kerakyatan, Puan menggarisbawahi bahwa setiap jam pemadaman listrik berpotensi menghilangkan pendapatan masyarakat. Di tengah kondisi ekonomi nasional yang masih menghadapi tekanan daya beli dan ketidakpastian global, pemadaman listrik yang berulang dapat memperburuk keadaan pelaku usaha kecil yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. “Dampak pada ekonomi kerakyatan harus menjadi perhatian dalam sektor pelayanan publik. Untuk itu, kami berharap ada evaluasi besar-besaran dari persoalan pemadaman listrik bergilir ini agar ke depan jangan sampai terjadi lagi,” pungkas Puan.
PLN sendiri telah meminta maaf kepada masyarakat atas pemadaman listrik yang terjadi di Pulau Jawa. Menurut penjelasan PLN, pemadaman ini disebabkan oleh gangguan pasokan batu bara berkalori menengah dan kendala teknis pada dua PLTU besar milik perusahaan listrik swasta yang menjadi mitra mereka. Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, juga telah melaporkan masalah ini kepada Presiden Prabowo Subianto.
Pada pertemuan tersebut, Darmawan memastikan bahwa pemadaman listrik bergilir di Pulau Jawa dapat dikurangi karena sistem kelistrikan di wilayah tersebut mulai membaik. Puan pun memberikan apresiasi terhadap langkah cepat PLN dalam memulihkan pasokan listrik dan meminimalkan pemadaman bergilir. “Saya (juga) mengapresiasi para petugas lapangan yang bekerja untuk mengembalikan stabilitas sistem kelistrikan,” ujarnya. Namun, Puan mengingatkan bahwa komitmen PLN untuk mengurangi pemadaman listrik bergilir tidak boleh menghentikan proses evaluasi dan mitigasi yang diperlukan.