Update
Politik

Dede Budhyarto Soroti Keheningan Parpol Pendukung Gibran Terkait Ijazah

Dede Budhyarto, mantan Komisaris PT Pelni, mengkritik sikap partai politik yang sebelumnya mendukung Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, yang kini terkesan diam terkait isu ijazah Gibran.

Karim Abinaya 25 September 2026 69 pembaca fajar.co.id fajar.co.id
Komisaris Independen PT Pelni, Dede Budhyarto
Komisaris Independen PT Pelni, Dede Budhyarto

Mantan Komisaris PT Pelni, Dede Budhyarto, mengungkapkan keprihatinannya terhadap sejumlah partai politik yang sebelumnya mendukung pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Melalui sebuah unggahan di media sosial, Dede mempertanyakan sikap para ketua umum partai yang dulunya memberikan dukungan kepada pasangan tersebut saat Pilpres 2024.

Menurut Dede, dukungan yang diberikan kepada Gibran saat masa pencalonan sangat kuat. Namun, ketika isu mengenai ijazah Wakil Presiden Gibran kembali mencuat, Dede merasa suara para pendukung tersebut menjadi tidak terdengar. "Dulu butuh panggung, butuh legitimasi, butuh dukungan all-out dari bapaknya," tulis Dede di media sosialnya pada Jumat (25/9/2026).

Perbandingan Situasi Sebelum dan Sesudah Pilpres

Dede membandingkan situasi saat pasangan Prabowo-Gibran memenangkan Pilpres 2024 dengan kondisi pemerintahan yang telah berjalan hampir dua tahun. "Sekarang sudah duduk manis, kekuasaan sudah sah, kursi sudah hangat. Isu ijazah wapres digoyang, semuanya tetiba bisu, semuanya diam seolah-olah kerjasama dengan bantet Cs," tambahnya.

Ia juga secara terbuka mempertanyakan keberadaan dan sikap para ketua partai politik yang sebelumnya menjadi bagian dari pendukung Prabowo-Gibran. "Wahai para Ketua partai pengusung kemana wajah kalian….hahhh?" tulisnya, menunjukkan rasa frustrasi terhadap ketidakberanian mereka untuk bersuara.

Politik dan Konsistensi Prinsip

Dede menilai bahwa sikap diam yang ia soroti bukan hanya karena para elite politik tersebut tidak mengetahui masalah yang sedang diperbincangkan. Ia menduga ada pertimbangan politik di balik keheningan tersebut. "Satu per satu menunduk bak kucing aer, tidak ada yang berani buka suara. Bukan karena tidak tahu, tapi karena takut posisi & jatah kekuasaan ikut goyah," ujarnya.

Ia mengaitkan masalah ini dengan prinsip dalam berpolitik, menyatakan bahwa sikap politik seharusnya tidak hanya ditunjukkan ketika seseorang atau kelompok masih membutuhkan dukungan. "Prinsip hanya dipakai saat masih butuh, setelah dapat, yang tinggal hanya diam & menikmati," pungkasnya.

Partai politik yang mendukung Prabowo-Gibran pada Pilpres 2024 tergabung dalam Koalisi Indonesia Maju (KIM), yang terdiri dari sepuluh partai, termasuk Partai Gerindra, Partai Golkar, PAN, Partai Demokrat, serta beberapa partai lainnya.

Artikel Terkait