Pengamat politik Adi Prayitno memberikan pandangan mendalam mengenai peluang Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, untuk mencalonkan diri sebagai presiden dalam Pilpres 2029. Ia menekankan bahwa meskipun Dedi memiliki modal popularitas dan elektabilitas yang tinggi, hal tersebut tidak cukup untuk menjamin keberhasilan dalam kompetisi capres. Dukungan resmi dari partai politik tetap menjadi faktor kunci yang menentukan.
“Cuman dalam politik kita itu kan tidak melulu hanya diukur tentang popularitas, elektabilitas dan tingkat kesukaan. Politik di Indonesia terutama untuk maju sebagai calon presiden dan calon wakil presiden itu adalah salah satu syaratnya adalah ada tidak partai politik yang mau mengusungnya nanti di 2029,” jelas Adi dalam sebuah video di kanal YouTube Adi Prayitno Official.
Pentingnya Dukungan Partai Politik
Adi, yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, menekankan bahwa tanpa dukungan dari partai politik, semua usaha untuk meraih elektabilitas yang tinggi akan sia-sia. “Kalau tidak ada partai politik yang kasih tiket mau mengusung maju pilpres, percuma punya popularitas, percuma punya elektabilitas, percuma punya tingkat kesukaan di atas rata-rata,” tambahnya.
Ia juga menggarisbawahi bahwa sistem pencalonan untuk kepemimpinan nasional di Indonesia saat ini masih mengandalkan partai politik sebagai penguasa utama dalam pendaftaran calon. “Karena kalau kita mengacu kepada aturan per hari ini partai politik masih menjadi backbone di mana orang bisa maju dalam sebuah kompetisi pilpres,” tegasnya.
Survei SMRC dan Posisi Dedi Mulyadi
Pernyataan Adi muncul setelah rilis hasil survei terbaru dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dilakukan pada bulan Oktober 2026. Dalam survei tersebut, Dedi Mulyadi menunjukkan hasil yang mengejutkan dengan melampaui elektabilitas Presiden Prabowo Subianto. Dalam simulasi semi-terbuka yang melibatkan 24 nama, Dedi Mulyadi menempati posisi teratas dengan angka 35,5 persen, diikuti oleh Anies Baswedan dengan 10,3 persen, dan Prabowo Subianto di posisi ketiga dengan 9,8 persen.
Dalam simulasi head-to-head, Dedi Mulyadi unggul signifikan dengan perolehan 69,3 persen, sementara Prabowo hanya meraih 18,8 persen. SMRC mencatat bahwa penurunan elektabilitas Prabowo dipengaruhi oleh persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan pelaksanaan berbagai program pemerintah.