Nama Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali menjadi sorotan dalam diskusi politik di tingkat nasional. Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, menilai bahwa gaya politik Dedi memiliki kesamaan dengan mantan Presiden Joko Widodo. Analis politik Adi Prayitno bahkan menyebut Dedi sebagai “Jokowi versi Jawa Barat”. Penilaian ini muncul saat Budi Arie membahas perpaduan antara kepemimpinan yang bersifat populis dan teknokratis.
Menurut Budi Arie, kemampuan Dedi dalam menjalin kedekatan dengan masyarakat merupakan salah satu modal penting bagi seorang pemimpin untuk mendapatkan dukungan politik. Ia menilai karakter tersebut terlihat pada Dedi, yang akrab disapa KDM. Budi Arie menyatakan bahwa pendekatan langsung kepada masyarakat menjadi salah satu kekuatan politik Gubernur Jawa Barat tersebut. "Rakyat butuh populisme. Nah, itu kan didapat dari KDM," ujarnya pada Minggu (25/10/2026). Pernyataan ini menarik perhatian karena tidak hanya menyoroti gaya komunikasi Dedi, tetapi juga membuka ruang untuk perbandingan dengan Jokowi, yang dikenal membangun citra politik melalui pendekatan langsung kepada rakyat.
Kedekatan Dedi dan Jokowi
Budi Arie juga mengungkapkan bahwa Dedi Mulyadi memiliki hubungan dan komunikasi dengan Jokowi, meskipun ia tidak merinci bentuk komunikasi atau substansi pembicaraan di antara keduanya. "Ya mereka ada hubungan dan komunikasi," katanya. Ia kemudian membandingkan gaya politik Dedi dengan Jokowi, menekankan bahwa keduanya memiliki kemiripan dalam membangun kedekatan dengan masyarakat. "Dan kalau mau jujur langgamnya atau gayanya Pak Kang Deni Mul ini agak mirip-mirip Pak Jokowian, rakyat-rakyat bicara padanya, mendekati rakyat begitu loh," ungkap Budi Arie. Kemiripan yang disorot terletak pada cara keduanya berinteraksi dengan masyarakat. Dalam konteks politik elektoral, pendekatan semacam ini dapat membantu pemimpin membangun citra sebagai sosok yang mudah dijangkau dan memahami masalah yang dihadapi warga.
Pujian Budi Arie dan Tanggapan Adi Prayitno
Meski demikian, kedekatan komunikasi antara Dedi dan Jokowi tidak serta merta menunjukkan adanya kesepakatan politik atau dukungan untuk pencalonan tertentu. Tanggapan datang dari Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, yang melihat pujian Budi Arie sebagai pernyataan yang patut diperhatikan dalam konteks posisi Dedi di tengah dinamika politik nasional. Adi menganggap Budi Arie bukanlah sosok yang sembarangan dalam memberikan pujian kepada tokoh politik lain. "Makanya Budi Arie itu bilang KDM itu ya ini adalah Jokowi versi Jawa Barat. Itu kan nyata. Enggak gampang loh Budi Arie itu muji orang, Mang," kata Adi.
Menurut Adi, label “Jokowi versi Jawa Barat” mencerminkan pandangan bahwa Dedi memiliki karakter politik yang populis dan pendekatan yang dekat dengan masyarakat, mirip dengan citra Jokowi. Ia juga mencatat kedekatan Budi Arie dengan Jokowi sebagai konteks untuk memahami pujian tersebut. "Enggak gampang, Bang Budi itu yang dipuji cuma satu, Pak Jokowi," ujarnya. Pernyataan Adi merupakan interpretasi atas komentar Budi Arie, di mana sebutan tersebut tidak berarti Dedi memiliki posisi, pengaruh, atau kekuatan politik yang sama dengan Jokowi. Perbandingan ini lebih merujuk pada kemiripan gaya komunikasi dan pendekatan kepada masyarakat.
Diskusi mengenai Dedi Mulyadi muncul di saat kepemimpinan populis dan teknokratis menjadi fokus perhatian. Kedua pendekatan ini memiliki penekanan yang berbeda: populisme berfokus pada kedekatan dan komunikasi dengan masyarakat, sedangkan pendekatan teknokratis lebih menekankan pada keahlian serta kebijakan yang berbasis pengetahuan dan data. Budi Arie menilai Dedi memiliki modal di sisi populis, di mana gaya komunikasinya yang intens dengan masyarakat dianggap dapat memperkuat daya tarik politiknya. Namun, popularitas dan kedekatan dengan warga bukanlah satu-satunya ukuran kapasitas kepemimpinan. Kinerja pemerintahan, efektivitas kebijakan, dan kemampuan menyelesaikan permasalahan publik tetap menjadi faktor penting dalam menilai seorang kepala daerah.
Di tengah dinamika politik menjelang Pemilu 2029, perbandingan Dedi dengan Jokowi juga dapat memunculkan pertanyaan lebih lanjut mengenai posisi politik Dedi dan peluangnya dalam kontestasi mendatang. Namun, pernyataan Budi Arie dan penilaian Adi Prayitno belum dapat dianggap sebagai sinyal resmi pencalonan atau dukungan politik untuk Dedi. Sejauh ini, sorotan keduanya masih terfokus pada karakter kepemimpinan dan gaya komunikasi Dedi Mulyadi. Label “Jokowi versi Jawa Barat” tetap merupakan penilaian politik. Apakah modal populisme ini nantinya akan berkembang menjadi kekuatan elektoral yang lebih luas, akan bergantung pada kinerja Dedi, respons masyarakat, dan konfigurasi politik menjelang pemilu.