Sebuah video lama yang menampilkan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengenai kapasitas politik Gibran Rakabuming Raka, Wakil Presiden, kembali beredar di media sosial. Video tersebut diunggah ulang oleh Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Bestari Barus, dan menarik perhatian publik di tengah situasi politik yang dinamis saat ini. Dalam video itu, Dedi mengingatkan para elite politik agar tidak meremehkan kemampuan Gibran.
Dedi menegaskan bahwa penilaian terhadap Gibran tidak seharusnya hanya didasarkan pada penampilan fisik, cara berbicara, atau sikap di depan publik. Ia mengajak masyarakat untuk mempertimbangkan latar belakang keluarga, pembentukan karakter, serta pengalaman politik yang dimiliki Jokowi, yang berpengaruh pada perjalanan Gibran. “Bagaimanapun dia itu adalah anak Pak Jokowi. Karena anaknya Pak Jokowi, dia ngerti betul kebudayaan Jawa. Dia ngerti betul bagaimana tradisi Solo. Mas Gibran pasti mendapat pendidikan sangat kuat tentang etika, tentang budi pekerti dalam keluarga, dalam bahasa kesehariannya tentang adab,” ungkap Dedi.
Pentingnya Memahami Budaya dan Tradisi
Dedi menilai bahwa pemahaman terhadap budaya Jawa dan tradisi Solo merupakan aspek penting dalam menilai karakter politik Gibran. Ia percaya bahwa pendidikan keluarga mengenai etika dan adab dapat membentuk cara seseorang berinteraksi dan menghadapi dunia politik. Dedi juga mencatat sikap Gibran yang menunjukkan rasa hormat kepada orang yang lebih tua, serta kemampuannya untuk tetap tenang dan tidak emosional di hadapan publik. “Yang kedua yang diberikan oleh Mas Gibran tentang sikap, adab. Tenang. Hormat kepada semua. Selalu membungkukkan badan ketika bertemu dengan yang lebih tua, tidak kelihatan emosional,” jelasnya.
Menyusuri perjalanan politik Jokowi, Dedi mengaitkan kemampuan Gibran dengan pengalaman ayahnya. Ia menyatakan bahwa penilaian awal terhadap seorang tokoh politik tidak selalu mencerminkan kekuatan yang sebenarnya. Jokowi, pada awal karier politiknya, sering dipandang sebelah mata, namun berhasil meniti karier dari kepala daerah hingga menjadi presiden selama dua periode. Dedi menekankan bahwa pengalaman Jokowi dalam membangun dukungan, membaca situasi, dan menjalin hubungan dengan berbagai kelompok dalam politik adalah faktor penting yang perlu diperhitungkan.
Kemampuan Digital Gibran sebagai Modal Politik
Selain latar belakang keluarga dan sikap personal, Dedi juga menyoroti kemampuan Gibran dalam memanfaatkan ruang digital. Ia berpendapat bahwa literasi digital menjadi modal penting bagi politisi di era komunikasi yang terus berubah. Media sosial kini menjadi platform bagi politisi untuk menyampaikan pesan, membangun citra, dan menjangkau pemilih secara langsung. Dedi menilai bahwa kemampuan Gibran dalam membaca tren dan memahami karakter audiens dapat memengaruhi perhatian publik terhadapnya.
“Gibran memiliki literasi digital yang jauh melampaui para politisi senior. Ia piawai membaca tren media sosial, mendesain narasi, dan melahirkan celetukan unik yang secara cepat mampu menguasai perbincangan publik dan menjadi viral. Menurut saya Mas Gibran itu sudah masuk dalam tahap kemapanan itu,” ujarnya. Dedi menekankan bahwa kemampuan berkomunikasi di ruang digital adalah faktor yang perlu diperhitungkan dalam persaingan politik.
Di tengah arus informasi yang deras, pesan yang singkat dan mudah diingat dapat menjangkau audiens secara luas. Meskipun popularitas di media sosial tidak selalu menjadi ukuran keberhasilan politik, Dedi kembali mengingatkan para politisi agar tidak meremehkan kapasitas Gibran. “Hati-hati terhadap Mas Gibran. Yang lain politisinya polos-polos, bersikap hanya dengan kata-katanya, tapi tidak dengan rasanya,” tutup Dedi. Pernyataan ini menegaskan bahwa kekuatan politik tidak selalu terlihat dari apa yang diungkapkan seorang tokoh secara terbuka, melainkan juga dari latar belakang, pembentukan karakter, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.