Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, telah menciptakan kejutan dalam dunia politik dengan meraih elektabilitas tertinggi dalam simulasi semi terbuka untuk calon presiden (capres) yang melibatkan 24 tokoh nasional. Menurut hasil survei terbaru yang dilakukan oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Dedi, yang lebih dikenal dengan sebutan KDM, berhasil mendapatkan dukungan sebesar 35,5 persen dari responden. Dalam simulasi tersebut, para responden diminta untuk memilih calon presiden seandainya pemilihan dilakukan saat ini. Hasilnya, Dedi Mulyadi berhasil mengungguli sejumlah nama besar seperti Anies Baswedan, Prabowo Subianto, Gibran Rakabuming Raka, dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Tantangan di Dalam Partai
Meskipun berada di puncak elektabilitas, Dedi Mulyadi dihadapkan pada tantangan politik yang cukup besar untuk maju sebagai calon presiden pada Pilpres 2029. Salah satu faktor yang menjadi penghalang adalah statusnya sebagai anggota Partai Gerindra, partai yang juga dipimpin oleh Prabowo Subianto. Deni Irvani, Direktur Eksekutif SMRC, menilai bahwa Gerindra cenderung untuk kembali mengusung Prabowo Subianto sebagai calon di Pilpres 2029 mendatang. Dinamika internal partai ini berpotensi mempersempit peluang Dedi untuk mencalonkan diri melalui partai yang memiliki lambang kepala garuda tersebut. "KDM belum tentu maju sebagai calon presiden karena sejumlah alasan, misalnya karena dia adalah anggota Partai Gerindra yang sama dengan Prabowo," jelas Deni.
Metodologi Survei
Survei yang dilakukan oleh SMRC berjudul "Efek Tahu Gibran dan AHY pada Elektabilitas Mereka" dilaksanakan dalam rentang waktu 1 hingga 10 Oktober 2026. Populasi yang menjadi objek penelitian mencakup seluruh warga negara Indonesia (WNI) yang telah memenuhi syarat untuk memberikan suara, yaitu berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah. Metode pengumpulan data dibagi menjadi dua subpopulasi dengan total 1.213 responden: Pemilik Telepon Seluler, yang terdiri dari 1.013 responden yang dipilih secara acak dan diwawancarai melalui telepon, serta Non-Pemilik Telepon Seluler, yang terdiri dari 200 responden yang dipilih secara acak melalui metode stratified multistage random sampling dan diwawancarai secara tatap muka. Dengan asumsi simple random sampling, survei ini memiliki margin of error sekitar ±2,9 persen dengan tingkat kepercayaan mencapai 95 persen.