Update
Ekonomi

Defisit Perdagangan AS Meningkat, Kebijakan Tarif Impor Trump Tidak Berhasil

Defisit perdagangan Amerika Serikat mengalami peningkatan signifikan menjadi US$105,6 miliar pada bulan Agustus, melampaui perkiraan yang ada. Lonjakan ini disebabkan oleh peningkatan barang impor dan...

Lare Ayu 07 October 2026 60 pembaca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
Defisit perdagangan AS melonjak 13,7 persen menjadi US$105,6 miliar akibat lonjakan impor. Kebijakan tarif Trump dinilai gagal menekan defisit. (FOTO:REUTERS/Mike Segar).
Defisit perdagangan AS melonjak 13,7 persen menjadi US$105,6 miliar akibat lonjakan impor. Kebijakan tarif Trump dinilai gagal menekan defisit. (FOTO:REUTERS/Mike Segar).

Amerika Serikat mencatat defisit perdagangan yang membengkak hingga mencapai US$105,6 miliar pada bulan Agustus, angka ini lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya. Peningkatan defisit ini dipicu oleh lonjakan impor barang terkait pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan dampak dari penerapan tarif impor yang diterapkan oleh Presiden AS, Donald Trump.

Berdasarkan laporan yang dirilis oleh Kementerian Perdagangan AS pada hari Selasa, 6 Oktober, defisit yang meningkat terjadi meskipun Trump telah menerapkan tarif impor yang agresif dalam upaya untuk mengurangi kesenjangan dalam perdagangan. Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa AS mengalami rekor defisit perdagangan barang dengan tiga negara, yaitu Meksiko, Vietnam, dan Malaysia.

Peningkatan Impor dan Defisit yang Lebih Besar

Pada hari yang sama, Departemen Perdagangan AS mengumumkan bahwa impor barang meningkat tajam pada bulan Agustus, yang berkontribusi pada pelebaran defisit perdagangan. Kenaikan ini mencerminkan peningkatan sebesar 13,7 persen dibandingkan bulan Juli dan melampaui estimasi konsensus Dow Jones yang memperkirakan defisit sebesar US$102 miliar.

Angka defisit ini juga lebih tinggi dibandingkan dengan proyeksi yang dilakukan oleh para ekonom dalam survei Reuters, yang memperkirakan defisit akan berada di angka US$102 miliar. Sebagai perbandingan, defisit perdagangan AS tercatat sebesar US$79,8 miliar ketika Trump memenangkan pemilihan presiden pada bulan November 2024.

Kondisi Ekonomi dan Proyeksi Pertumbuhan

Defisit yang tercatat merupakan yang terbesar sejak rekor kesenjangan tertinggi yang terjadi pada bulan Maret 2025, sebelum Trump mengumumkan kebijakan tarif "timbal balik" terhadap mitra dagang AS. Meskipun terjadi peningkatan pada angka bulanan, defisit kumulatif untuk tahun berjalan mencapai US$138,2 miliar, yang menunjukkan penurunan hampir 20 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Ekonom keuangan di Nationwide, Oren Klachkin, menyatakan, "Kenaikan harga membuat pergerakan angka ini tampak lebih besar dari kenyataannya, namun demikian perdagangan neto diperkirakan akan menghambat pertumbuhan PDB kuartal ketiga." Secara umum, impor dapat mengurangi nilai dalam perhitungan produk domestik bruto (PDB).

Menurut para ekonom, AS tidak memiliki kapasitas produksi yang cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan konsumsi dalam negeri. Sejumlah analis mulai menurunkan proyeksi pertumbuhan PDB untuk periode Juli hingga September. Christopher Rupkey, Kepala Ekonom FWD BONDS, menilai bahwa kebijakan perdagangan pemerintah sebagian besar dianggap gagal. "Penerapan tarif tidak terbukti mengurangi ketergantungan Amerika terhadap barang impor," ujarnya.

Rupkey juga menambahkan bahwa tingginya biaya tenaga kerja di AS membuat produk yang dihasilkan di dalam negeri sulit bersaing dari segi harga. "Bahkan jika produsen domestik bersedia, pembangunan pabrik baru tidak akan cukup cepat untuk mengejar permintaan pasar," jelasnya.

Artikel Terkait