Update
Politik

Dinamika Awal Gibran Sebagai Cawapres Prabowo: Bukan Pilihan Utama

Prof. Jimly Asshiddiqie mengungkap bahwa Gibran Rakabuming Raka tidak termasuk dalam daftar awal calon wakil presiden yang dipertimbangkan oleh Presiden Joko Widodo untuk mendampingi Prabowo Subianto.

Rimba Amarta 04 October 2026 58 pembaca fajar.co.id fajar.co.id
Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka pada pidato hasil quick count (IST)
Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka pada pidato hasil quick count (IST)

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Prof. Jimly Asshiddiqie, menjelaskan perkembangan politik menjelang pemilihan presiden 2024. Ia menyebutkan bahwa Gibran Rakabuming Raka bukanlah sosok yang sejak awal dipertimbangkan oleh Presiden ke-7, Joko Widodo, untuk menjadi calon wakil presiden Prabowo Subianto.

Jimly menilai bahwa peta politik menjelang Pilpres 2024 terus mengalami perubahan, mirip dengan strategi dalam permainan catur. Ia mengungkapkan bahwa awalnya Jokowi lebih memikirkan nama lain untuk mendampingi Prabowo, seperti Ganjar Pranowo. "Yang dia pikir itu Ganjar jadi wakilnya Prabowo, kan gitu," ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa saat itu, Gibran belum memenuhi syarat usia untuk mencalonkan diri sebagai wakil presiden.

Perubahan Ketentuan Usia

Situasi berubah setelah Mahkamah Konstitusi mengeluarkan keputusan yang mengubah ketentuan mengenai usia minimal calon presiden dan wakil presiden. Jimly menjelaskan, "Nah, Gibran ditanya, wah saya belum cukup umur. Benar itu. Tapi coba kenapa ada inisiatif dari misal-misalnya PSI atau kelompok-kelompok ini?" Ia mempertanyakan dukungan yang muncul untuk Gibran dan mengaitkannya dengan budaya politik serta faktor kekuasaan, namun ia menegaskan bahwa masalah ini tidak seharusnya hanya ditujukan kepada Gibran.

Jimly menyebutkan bahwa sebelum Gibran menjadi kandidat cawapres Prabowo, ada beberapa nama lain yang juga dipertimbangkan, seperti Erick Thohir, Khofifah Indar Parawansa, Airlangga Hartarto, dan Muhaimin Iskandar. "Begitu juga Prabowo ini. Kalau kita lihat-lihat dari luar dia, itu kan menurut survei yang paling tinggi itu Erick untuk calon bakal cawapres. Erick paling tinggi. Iya, Gibran enggak ada jauh," ungkapnya.

Pertimbangan Suara di Pulau Jawa

Selain nama-nama kandidat, Jimly juga menyoroti pentingnya peta suara di Pulau Jawa dalam perhitungan politik. Ia menjelaskan bahwa Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi wilayah strategis dalam kalkulasi menuju Pilpres 2024. "Di kepala Prabowo itu kira-kira bagaimana ini menggarap karena 01 03 ini punya afiliasi NU semua di Jawa Timur itu," terangnya.

Keputusan mengenai perubahan ketentuan usia calon presiden dan wakil presiden memberikan kesempatan bagi Gibran untuk masuk dalam bursa pencalonan. Jimly menambahkan, "Prabowo jadi pusing dia. Begitu ada keputusan bahwa apa namanya umur boleh di bawah 40. Nah, dia berpikir-pikir, boleh juga ini." Ia menyebut bahwa semua partai setuju dengan pencalonan Gibran, bahkan Golkar lebih dulu mengusulkan namanya.

Jimly juga menilai dukungan terhadap Gibran berkaitan erat dengan posisi Jokowi dan partai-partai yang tergabung dalam koalisi pemerintahan. "Sekali lagi karena budaya. Karena faktor Jokowi. Mereka ini kan di dalam koalisi pemerintahan Jokowi," tambahnya.

Pada akhirnya, Jimly melihat pencalonan Gibran sebagai bagian dari dinamika dan permainan politik. Ia menegaskan bahwa keputusan akhir mengenai pilihan politik tetap berada di tangan rakyat sebagai pemilih. "Jadi mau nyalahin siapa? Ini kan hanya permainan politik, aktor kekuasaan itu lho. Ya sudah serahkan kepada hakim tertinggi ialah rakyat di TPS, lah ternyata menang pula nih," tutupnya.

Artikel Terkait