Laporan Intelijen dan Peringatan Keras Teheran
Republik Islam Iran mengklaim telah mengantongi informasi valid terkait rencana Amerika Serikat (AS) yang bakal kembali melancarkan serangan militer ke wilayahnya. Merespons potensi ancaman tersebut, angkatan bersenjata Iran menegaskan kesiapannya untuk membalas dengan intensitas yang lebih kuat, sembari melayangkan peringatan tegas kepada negara-negara tetangga agar tidak memberi bantuan dalam bentuk apa pun kepada Washington.
Keterangan resmi pihak militer mengindikasikan adanya persekongkolan dalam merancang aksi militer susulan tersebut.
"Berdasarkan informasi yang diterima, Amerika Serikat penjahat, sekali lagi memutuskan untuk melanjutkan tindakan terhadap Iran, dengan restu dari sejumlah negara kawasan, dalam pertemuan bersama di suatu negara Eropa," bunyi pernyataan Markas Besar Pusat Khatam Al Anbiya, sebagaimana dilaporkan stasiun televisi pemerintah, IRIB.
Gertakan bagi Negara Penampung Pasukan AS
Pihak militer Iran bersumpah aksi balasan mereka tidak hanya membidik instalasi serta kepentingan militer AS, melainkan juga akan berdampak langsung pada negara-negara Timur Tengah yang menampung pasukan Negeri Paman Sam.
Langkah ini menegaskan bahwa tingkat toleransi Iran sudah mencapai batasnya, sehingga negara-negara di kawasan tidak bisa lagi berharap Teheran akan menahan diri.
"Kami memperingatkan bahwa jika negara-negara di kawasan ini, terus menerapkan kebijakan bermuka dua terhadap Republik Islam Iran, berpihak pada agresi 'Setan Raksasa' terhadap Iran yang kuat dan berdaulat, mereka akan dianggap terlibat dalam kejahatan ini," demikian isi pernyataan.
Latar Belakang Memanasnya Konflik Sejak Februari
Saling gertak ini merupakan puncak dari memanasnya konfrontasi di Timur Tengah setelah AS dan Israel meluncurkan aksi militer terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Peristiwa tersebut memicu gelombang pembalasan yang menyasar jajaran pangkalan militer AS di kawasan.
Aksi pembalasan Iran sendiri kini meluas dari yang semula memprioritaskan fasilitas militer, hingga turut membidik kantor perwakilan diplomatik serta aset-aset strategis AS lainnya, termasuk sektor minyak.