Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan menjauhi area pantai setelah terjadinya gempa bumi berkekuatan 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Juli. Meskipun peringatan tsunami telah dicabut, BNPB menekankan pentingnya kewaspadaan.
Imbauan untuk Menghindari Pantai dan Gedung Retak
Dalam konferensi pers daring yang berlangsung di Jakarta, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan, "Melalui media ini, kami meminta masyarakat tetap tenang. Meski peringatan tsunami sudah dicabut, kami mengimbau masyarakat tetap menjauhi pantai saat ini sebelum nanti ada peringatan lain dari BMKG." Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk tidak memasuki gedung-gedung yang mengalami keretakan, karena hal tersebut dapat berpotensi membahayakan jika terjadi gempa susulan.
Korban Jiwa dan Dampak Gempa
BNPB melaporkan bahwa hingga Sabtu pagi, dua orang dilaporkan meninggal dunia akibat dampak dari gempa tersebut, yang terjadi di Kabupaten Nagekeo, NTT. Berton menjelaskan bahwa kedua korban jiwa tersebut ditemukan di kawasan Pelabuhan El Say, Kabupaten Sikka. "Berdasarkan laporan pendahuluan, peristiwa gempa bumi berdampak di wilayah Pelabuhan El Say, Kabupaten Sikka. Peristiwa tersebut mengakibatkan dua orang meninggal dunia, yaitu satu laki-laki dan satu perempuan, serta satu orang mengalami luka-luka," ungkapnya.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan bahwa peringatan dini tsunami berakhir pada pukul 07.30 WIB. BMKG berkomitmen untuk terus memantau aktivitas gempa susulan dan memberikan pembaruan informasi kepada masyarakat. "Kami sudah akhiri (peringatan dini tsunami), tetapi tentunya kami akan terus memonitor aktivitas tinggi muka air laut yang akan tercatat di stasiun-stasiun kami," kata Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto.