Ketua Umum PROJO, Budi Arie Setiadi, berpendapat bahwa usia muda merupakan keuntungan signifikan bagi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam menghadapi tantangan politik. Ia menyatakan bahwa generasi muda memiliki kesempatan lebih luas untuk belajar, berkembang, dan menunjukkan kemampuan kepemimpinannya. Pandangan ini disampaikan Budi Arie saat membahas perjalanan politik Gibran dalam podcast Sinkos Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Budi Arie juga menyinggung isu mengenai persyaratan pendidikan Gibran yang menjadi sorotan publik setelah Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan perkara terkait hal tersebut. “Jangan sekali-sekali lu lawan anak muda. Kita makin menua, dia makin bersinar. Itu kan prinsip kita waktu jadi aktivis 98. Lu lawan kita, enggak mungkin menang lu. Kita waktu 20-an,” ungkapnya.
Pendidikan Gibran dalam Sorotan
Pernyataan Budi Arie muncul di tengah perdebatan mengenai latar belakang pendidikan Gibran. Isu ini dibawa ke MK melalui perkara Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026 yang diajukan oleh Denny Indrayana dan sejumlah pemohon lainnya. Dalam putusan yang dibacakan pada 6 Oktober 2026, MK menyatakan bahwa permohonan tersebut tidak dapat diterima karena masalah kedudukan hukum atau legal standing. MK juga menyatakan tidak menemukan bukti yang meyakinkan bahwa Gibran memiliki ijazah, sertifikat, atau diploma luar negeri yang dapat disetarakan dengan pendidikan minimal SMA atau sederajat.
Hal ini menegaskan bahwa pertimbangan mengenai bukti yang ditemukan dalam persidangan berbeda dengan amar putusan yang menyatakan permohonan tidak dapat diterima. Putusan tersebut tidak secara langsung memberhentikan Gibran dari jabatan wakil presiden. Budi Arie menekankan bahwa tekanan merupakan bagian penting dari perjalanan politik yang dapat menguji ketahanan seseorang. “Semua yang prosesnya keras pasti jadi petarung sejati,” ujarnya.
Kualitas Pemimpin dan Pengalaman
Menurut Budi Arie, pengalaman menghadapi kesulitan dapat menjadi modal bagi seseorang untuk menghadapi tantangan mendatang. Namun, kemampuan untuk bertahan dari tekanan bukanlah satu-satunya ukuran kualitas seorang pemimpin. Menurutnya, kemampuan untuk menjawab kritik, mempertanggungjawabkan keputusan, dan menunjukkan hasil kerja juga merupakan aspek penting dalam menilai kepemimpinan.
Selain membahas Gibran, Budi Arie juga mengungkapkan kekagumannya terhadap perjalanan politik Presiden Prabowo Subianto. Ia mengapresiasi ketekunan Prabowo yang terus berpartisipasi dalam kontestasi politik meskipun beberapa kali mengalami kekalahan dalam pemilihan presiden sebelum akhirnya terpilih pada Pilpres 2024. “Kenapa saya kagum sama Pak Prabowo? Berapa kali dia maju? Empat lima kali. Dan dia enggak mau nyerah,” kata Budi Arie.
Budi Arie mengenang keputusannya untuk mendukung Prabowo dalam Pilpres 2024, menganggap sikap pantang menyerah Prabowo sebagai salah satu alasan dukungannya. “Saya pada waktu 2024 saya berkata, ‘Saya mendukung Bapak, Pak. Bapak ini petarung.’ Lu bayangin kalah bertanding, kalah, maju terus,” tuturnya.
Baginya, perjalanan Prabowo menunjukkan bahwa kekalahan dalam kontestasi politik tidak selalu mengakhiri karier seseorang. Kegigihan untuk kembali berkompetisi dapat membuka peluang baru, meskipun hasilnya tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk dukungan pemilih dan dinamika politik.
Pernyataan Budi Arie menegaskan bahwa usia dan ketahanan dalam menghadapi tekanan adalah dua faktor penting dalam perjalanan politik Gibran. Ia meyakini bahwa wakil presiden tersebut masih memiliki waktu untuk berkembang dan menghadapi berbagai tantangan yang ada.