Update
Politik

Guntur Romli Mengkritik Kedekatan Jokowi dan Gibran dengan Dedi Mulyadi, Soroti Pansos dan Adu Domba

Politikus PDI Perjuangan, Mohamad Guntur Romli, mengungkapkan keprihatinan terhadap kedekatan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Gibran dengan Dedi Mulyadi, serta menyoroti potensi pansos dan adu domb...

Rimba Amarta 05 October 2026 53 pembaca fajar.co.id fajar.co.id
Dedi Mulyadi.
Dedi Mulyadi.

Mohamad Guntur Romli, seorang politikus dari PDI Perjuangan, menyoroti meningkatnya pembicaraan politik yang melibatkan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang sering disingkat KDM. Guntur mempertanyakan apakah kedekatan serta simbol-simbol yang muncul belakangan ini antara Jokowi dan Gibran dengan KDM hanyalah merupakan upaya panjat sosial (pansos) atau memiliki maksud politik yang lebih dalam. Ungkapan ini disampaikan Guntur melalui media sosial pada Senin, 5 Oktober 2026.

“Karena nama Kang Dedi (KDM) melesat di survei, pendukung-pendukung Gibran & Jokowi sebarin meme Gibran-KDM 2029. Jokowi tiba-tiba pakai udeng khas KDM di Jabar,” tulis Guntur dalam unggahannya. Ia menegaskan bahwa rangkaian kejadian tersebut merupakan bentuk pansos. “Ini pansos,” tegasnya.

Namun, Guntur juga mengemukakan dugaan yang lebih serius, di mana ia berpendapat bahwa KDM mungkin sedang diposisikan untuk berhadapan dengan partai tempatnya bernaung serta ketua umum partai tersebut. “Tapi ada yang lebih bahaya. KDM seperti diadu domba dengan partainya & ketua umumnya,” ujarnya. “Soal politik adu domba dan belah bambu, Jokowi memang jagonya,” tambahnya.

Spekulasi di Media Sosial Mengenai Gibran dan KDM

Pembicaraan mengenai Dedi Mulyadi semakin menguat di kalangan publik, terutama terkait dengan spekulasi politik menjelang Pemilu 2029. Salah satu wacana yang berkembang adalah kemungkinan pasangan politik antara KDM dan Gibran. Meski demikian, hingga saat ini, wacana tersebut belum menjadi pasangan politik resmi. Pemerintah Jawa Barat telah memberikan klarifikasi terkait beberapa konten yang mengisyaratkan dukungan resmi Jokowi terhadap duet KDM dan Gibran. Jabar Saber Hoaks menyatakan bahwa klaim mengenai dukungan resmi Jokowi untuk pasangan tersebut adalah tidak benar.

Dedi Mulyadi sendiri telah memberikan tanggapannya terhadap isu ini pada 22 September 2026, menyatakan bahwa ia belum memikirkan tentang Pilpres 2029 dan lebih memilih untuk fokus pada tugasnya sebagai Gubernur Jawa Barat. “Kita lagi mikir bagaimana jadi gubernur yang sukses. Tidak mikir yang lain,” ungkapnya di Gedung Pakuan, Bandung.

Analisis Posisi KDM di Gerindra

Sementara itu, pengamat politik Hendri Satrio memberikan pandangannya mengenai posisi Dedi Mulyadi dalam konteks bursa calon wakil presiden yang mendampingi Prabowo Subianto pada 2029. Hendri berpendapat bahwa meskipun KDM memiliki basis massa yang besar, hal itu tidak otomatis menjadikannya kandidat yang kuat untuk posisi cawapres Prabowo. “Kalau Pak Prabowo maju, hitung-hitungan saya KDM itu mungkin juga sulit jadi wakil Pak Prabowo walaupun dia sama-sama Gerindra. Kenapa? Karena kalau kita lihat menteri-menteri sekarang, yang bekerja di lingkaran inti adalah orang-orang ideologisnya Pak Prabowo,” jelas Hendri.

Ia juga menekankan bahwa lingkaran terdekat Prabowo saat ini diisi oleh tokoh-tokoh yang telah lama memiliki kedekatan politik dan ideologis dengan Ketua Umum Gerindra tersebut, seperti Mayor Teddy, Sugiono, dan Sudaryono. Hendri menambahkan bahwa latar belakang politik KDM yang sebelumnya berasal dari Partai Golkar sebelum bergabung dengan Gerindra menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan.

Munculnya nama KDM dalam diskusi politik nasional tidak lepas dari hasil survei yang menempatkannya dalam persaingan kandidat Pilpres 2029. Namun, tingginya elektabilitas tidak bisa dijadikan jaminan bahwa seseorang akan maju dalam pemilu. KDM sendiri menegaskan bahwa fokusnya saat ini adalah menjalankan tugasnya sebagai gubernur.

Hendri juga mengungkapkan bahwa regenerasi politik menjadi salah satu pertimbangan yang dapat mempengaruhi konfigurasi calon wakil presiden pada 2029, yang tidak hanya berkaitan dengan kontestasi 2029, tetapi juga dengan arah politik menuju 2034.

Poster dan Spekulasi Politik

Selain wacana Gibran-KDM, spekulasi mengenai masa depan politik Dedi Mulyadi juga muncul melalui poster "Kabinet Tangguh" yang beredar di media sosial. Poster tersebut menampilkan KDM sebagai calon presiden 2029-2034 dengan Basuki Tjahaja Purnama, atau Ahok, sebagai calon wakil presiden. Sejumlah nama lain juga dicantumkan sebagai calon menteri. Namun, penting untuk dicatat bahwa poster tersebut bukanlah susunan kabinet resmi dan merupakan konten yang dibuat oleh warganet.

Dengan demikian, kemunculan poster atau meme mengenai pasangan politik tertentu tidak dapat dianggap sebagai bukti bahwa pasangan tersebut telah terbentuk atau mendapatkan dukungan resmi dari tokoh yang fotonya digunakan. Mengenai spekulasi duet Gibran-KDM, Jokowi belum memberikan pernyataan dukungan terbuka. Jabar Saber Hoaks juga menyimpulkan bahwa belum ada pernyataan resmi dari Jokowi yang mendukung duet KDM-Gibran untuk Pilpres 2029.

Oleh karena itu, pernyataan Guntur Romli mengenai pansos dan dugaan adu domba perlu dilihat sebagai interpretasi politiknya terhadap perkembangan ini. Sementara itu, analisis Hendri Satrio menunjukkan adanya perdebatan mengenai posisi KDM di dalam Gerindra dan kemungkinan konfigurasi politik menjelang 2029. Dedi Mulyadi sendiri menegaskan bahwa ia belum memikirkan Pilpres 2029 dan lebih memilih untuk fokus pada tugasnya sebagai Gubernur Jawa Barat. Saat ini, wacana Gibran-KDM masih berada pada tahap spekulasi politik dan pembicaraan publik, bukan pasangan calon yang telah ditetapkan atau diumumkan secara resmi.

Artikel Terkait