Sayembara untuk menemukan ijazah SMA atau setara milik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali menjadi sorotan setelah Prof Denny Indrayana, seorang pakar hukum tata negara, mengumumkan bahwa nilai hadiah telah meningkat menjadi Rp300 juta. Denny menjelaskan bahwa jumlah tersebut mengalami kenaikan sebesar 300 persen dibandingkan dengan nilai awal sayembara yang diumumkan kurang dari seminggu yang lalu.
"Update sayembara ijazah SMA Gibran, yang dicari Ijazah SMA, yang ketemu karet gelang," ungkap Denny. Hingga saat ini, ia menyatakan bahwa belum ada pihak yang berhasil menunjukkan ijazah SMA atau dokumen pendidikan setara milik Gibran. "Belum seminggu, sumbangan untuk hadiah sayembara menemukan Ijazah Gibran sudah naik 300 persen," tambahnya. "Per detik ini, hadiahnya sudah naik menjadi Rp 300 Juta," jelas Denny.
Belum Ada Penemuan Ijazah Gibran
Denny kembali menegaskan bahwa tidak ada peserta yang berhasil memenuhi tantangan dalam sayembara ini. "Sejauh ini tidak ada satupun peserta yang berhasil menemukan ijazah SMA atau sederajat Mas Wapres," tegasnya. Ia juga mengaitkan pernyataannya dengan video Gibran yang sempat viral karena terlihat memainkan karet gelang saat berinteraksi dengan warga. "Mas Wapres sendiri malah menenukan permainan karet gelang," ujarnya.
Denny kemudian menarik kesimpulan mengenai posisi politik Gibran, menyatakan bahwa jika ijazah SMA atau dokumen pendidikan setara yang dimaksud tidak ada, maka Gibran seharusnya mempertimbangkan untuk mundur dari jabatannya sebagai Wakil Presiden. "Jika tidak ada ijazah SMA atau sederajat, Gibran layak mundur, atau dimundurkan," imbuhnya.
Peluang Sumbangan Hadiah
Selain menaikkan nilai hadiah, Denny juga membuka kesempatan bagi pihak lain yang ingin berkontribusi pada dana sayembara tersebut. "Catatan, tertarik menyumbang silakan japri saya. Penyumbang dirahasiakan," jelasnya. Ia menambahkan bahwa pihak yang ingin memberikan sumbangan tidak perlu mengirimkan dana terlebih dahulu. Pembayaran hadiah, menurutnya, baru akan dilakukan jika dokumen yang dicari berhasil ditemukan dan ada pihak yang dinyatakan sebagai pemenang. "Dana tidak perlu dikirimkan, kecuali Ijazah ditemukan, dan ada pemenang," tegasnya.
Pernyataan Denny tersebut sebelumnya mendapatkan tanggapan dari Juru Bicara PSI, Dian Dandi Utama, yang mempertanyakan objek sayembara yang secara spesifik meminta masyarakat untuk menemukan ijazah SMA Gibran. Dian berpendapat bahwa dokumen yang dimaksud tidak akan ditemukan jika yang dicari adalah ijazah SMA seperti yang disebutkan dalam sayembara. "Barang tidak ada disayembarakan, itu seperti mau ngasih duit tapi disuruh nyari telur kambing!" ujarnya.
Dian juga menyoroti dokumen pendidikan Gibran dari Orchid Park Secondary School dan UTS Insearch yang sebelumnya telah dipublikasikan, tetapi kembali dipermasalahkan. "Ditunjukkan dari Orchid Park, dibilang setara SMP. Ditunjukkan dari UTS Insearch, dibilang setara Kursus," katanya. Menurut Dian, polemik ini seharusnya dilihat dari objek dokumen yang sebenarnya dipersoalkan. "Emang ciri Negara berkembang!" tegasnya.
Ia kembali menegaskan pandangannya mengenai objek yang diminta dalam sayembara Denny. "Sayembaranya tertulis ijazah SMA, ya memang tidak ada," tutupnya. Polemik mengenai dokumen pendidikan Gibran masih menjadi perdebatan di publik, sementara pernyataan Denny mengenai sayembara merupakan klaim dan pandangannya dalam isu tersebut, tanpa ada keterangan resmi dari Gibran mengenai kenaikan hadiah sayembara menjadi Rp300 juta.