Update
Ekonomi

IndoChar Bekerja Sama dengan Petani Sawit untuk Mengolah Limbah Menjadi Biochar

IndoChar, yang didirikan oleh David Nathaniel Chung, melanjutkan inisiatif pengolahan limbah pertanian menjadi biochar dengan menggandeng petani kelapa sawit di Lampung. Kolaborasi ini dimulai pada 5...

Aruna Sasmita 14 October 2026 63 pembaca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
Foto: Arsip DSSA
Foto: Arsip DSSA

David Nathaniel Chung, pendiri IndoChar sekaligus siswa Jakarta Intercultural School (JIS), memperluas inisiatif pengolahan limbah pertanian menjadi biochar dengan menggandeng petani kelapa sawit swadaya di Lampung. Kerja sama ini resmi dimulai pada 5 Oktober 2026, melalui kolaborasi dengan Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) dan salah satu koperasi di bawah jaringannya. Program ini memanfaatkan pelepah daun dan tandan kosong kelapa sawit sebagai bahan baku, serta menandai perluasan IndoChar ke sektor perkebunan sawit.

Inisiatif ini merupakan kelanjutan dari proyek pertama IndoChar yang dilaksanakan di Desa Kepayang, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, yang diluncurkan pada Juni 2026. Ide untuk mendirikan IndoChar muncul ketika David N. Chung mengikuti program magang di perusahaan konservasi Forest Carbon pada tahun 2025. Saat itu, ia berusia 15 tahun dan menyaksikan praktik pembakaran limbah biomassa yang masih dilakukan di beberapa desa di Sumatera Selatan.

Kerja Sama dengan SPKS

Perjalanan IndoChar didukung oleh PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), yang sejalan dengan komitmen perusahaan untuk mendorong keberlanjutan dan transisi menuju ekonomi rendah karbon, serta memberdayakan generasi muda Indonesia dalam memberikan solusi nyata untuk perubahan iklim. Kolaborasi ini dimulai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman antara IndoChar dan SPKS di Bogor pada 22 Agustus 2026. Kesepakatan tersebut menjadi dasar untuk mengembangkan proyek biochar berbasis komunitas dengan memanfaatkan potensi limbah dari perkebunan kelapa sawit.

Bagi David N. Chung, kolaborasi ini tidak hanya membuka peluang untuk memperluas penerapan teknologi pengolahan limbah, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memahami kebutuhan petani secara langsung. "Bagi kami, kolaborasi ini bukan hanya tentang biochar, tetapi bagaimana sebuah solusi dapat dikembangkan bersama komunitas dan benar-benar relevan dengan kondisi mereka," ungkap David N. Chung.

Pada 25 September 2026, atas undangan SPKS, David N. Chung mempresentasikan inisiatif IndoChar di hadapan anggota organisasi tersebut dalam Rapat Koordinasi Nasional 2026 di Hotel 101 Menteng, Jakarta. Dalam forum tersebut, Ketua Umum SPKS, Sabarudin Sabar, merekomendasikan Lampung sebagai lokasi pelaksanaan pertama, yang kemudian terwujud kurang dari dua minggu setelahnya. "Saya melihat IndoChar sebagai kumpulan anak muda yang mau peduli terhadap lingkungan dan petani. Inisiatif seperti ini penting karena kita tidak hanya berbicara tentang limbah, tetapi juga bagaimana limbah dan polusi dapat dikurangi, lingkungan diperbaiki, dan pada akhirnya kehidupan komunitas petani dapat ikut meningkat," kata Sabarudin.

Rencana Ekspansi ke Koperasi Lain

Pendekatan ini dinilai sesuai dengan kebutuhan petani, termasuk mereka yang berada di daerah dengan keterbatasan infrastruktur dan akses listrik. Limbah perkebunan akan dimanfaatkan kembali dalam sistem pertanian, sementara penggunaan biochar bersama pupuk diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemupukan dengan membantu menahan unsur hara agar tidak hilang melalui proses pencucian. Ketua SPKS Lampung, Y. Bambang Wijonarko, mengapresiasi pendekatan yang dilakukan oleh David N. Chung. "Saya melihat ia sangat serius dalam mempelajari kebutuhan petani dan kendala yang mereka hadapi saat ini. Ia banyak bertanya dan bertukar pikiran agar dapat memberikan solusi yang tepat dan berkelanjutan bagi komunitas petani," ujarnya.

Setelah Lampung, IndoChar berencana untuk memperluas implementasi ke koperasi-koperasi lain di bawah naungan SPKS. Sebelumnya, IndoChar telah menetapkan target untuk melakukan ekspansi ke tiga hingga lima lokasi baru di berbagai wilayah Indonesia dalam satu tahun. "Kemajuan yang kami capai sejauh ini sangat menggembirakan. Kami sudah bergerak dari membangun gagasan dan mencari mitra menjadi mulai melakukan implementasi bersama komunitas. Kami berharap dapat segera melakukan roll-out ke lebih banyak lokasi dan terus belajar dari setiap proses di lapangan," tambah David N. Chung. Baginya, Lampung bukanlah titik akhir, melainkan langkah selanjutnya dalam perjalanan untuk mengubah gagasan menjadi aksi, dari satu kolaborasi, satu komunitas, dan satu implementasi menuju upaya yang lebih luas dalam memanfaatkan limbah pertanian secara berkelanjutan.

Artikel Terkait