Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia telah menyetujui ekspor beras sebanyak 1.000 ton ke Malaysia, dengan pengiriman yang direncanakan dilakukan secara bertahap mulai minggu ini. Langkah ini diambil untuk memenuhi kebutuhan beras di Sarawak yang diperkirakan mencapai 200 ribu ton per tahun, dengan potensi nilai ekspor mencapai Rp3,39 triliun jika seluruh kebutuhan tersebut dipenuhi dari Indonesia.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa kesepakatan ini dicapai setelah adanya komunikasi antara pemerintah Indonesia dan Menteri Pertanian serta Keterjaminan Makanan Malaysia, Datuk Seri Mohamad Sabu. Pengiriman pertama sebanyak 1.000 ton akan dilakukan secara bertahap, dengan harga yang telah disepakati sebesar 3,9 ringgit Malaysia atau sekitar Rp17 ribu per kilogram.
Rincian Pengiriman dan Kualitas Beras
Amran menjelaskan, "Kalau ekspor ini kalau bisa minggu ini diberangkatkan 1.000 ton secara bertahap karena kebutuhan Sarawak saja 200 ribu ton. Dan untuk satu Malaysia 1,5 (juta) sampai 1,7 juta ton per tahun." Beras yang akan diekspor merupakan jenis beras premium dengan tingkat pecah 5 persen. Kesepakatan harga ini menjadi bagian penting dari proses negosiasi, mengingat sebelumnya telah ada pembahasan mengenai harga beras yang akan dikirim ke Malaysia.
Pengiriman awal akan menggunakan jalur perbatasan Entikong, Kalimantan Barat. Amran menegaskan bahwa kesepakatan ini bukan hanya rencana, tetapi sudah menjadi keputusan yang pasti. "Ini kita sepakat ini potensi yang kita garap, kita lihat nanti ke depan itu 200 ribu ton, hari ini kalau bisa minggu ini dikirim 1.000 ton," tambahnya.
Stok Beras Dalam Negeri dan Peluang Ekspor Lainnya
Amran memastikan bahwa ekspor beras ini tidak akan mengganggu kebutuhan dalam negeri. Ia merujuk pada perhitungan produksi dan stok yang diperoleh dari BPS serta stok pemerintah yang dikelola oleh Bulog. Menurutnya, produksi beras hingga bulan Oktober diperkirakan mencapai sekitar 30 juta ton, sementara stok yang tersedia, termasuk beras di Bulog, rumah tangga, dan produksi yang sudah tertanam, diperkirakan mencapai 25-26 juta ton.
Dengan kebutuhan nasional sekitar 2,5-2,6 juta ton per bulan, Amran menghitung bahwa stok tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 10 bulan ke depan. Ia juga menyebutkan bahwa stok beras pemerintah saat ini masih sekitar 5,2 juta ton, yang tergolong tinggi untuk periode Agustus. "Cukup aman (stok beras Indonesia). Justru kita ini serap terus nih posisi hari ini masih 5,2 juta (ton)," ujarnya.
Setelah kesepakatan dengan Malaysia, Amran mengungkapkan bahwa pemerintah juga sedang mencari peluang ekspor ke negara lain, dengan target mencapai 1 juta ton. Namun, realisasi ekspor ini akan disesuaikan dengan perkembangan produksi dan kondisi cuaca, termasuk risiko El Nino. Peluang ekspor ke Singapura juga sedang dijajaki, dengan tawaran awal sebanyak 10 ribu ton beras.
General Manager Padi dan Borneo Sdn Bhd, Jumaat bin Ibrahim, menjelaskan bahwa beras yang diimpor dari Indonesia akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan Sarawak selama satu tahun. Pengiriman 1.000 ton pertama ini akan menjadi tahap awal untuk memperkenalkan beras Indonesia di Sarawak dan Malaysia. "Kalau di Sarawak itu kita akan ekspor 200 ribu ton (dari Indonesia) dan untuk pertama kita akan order 1.000 ton dahulu," ungkapnya.