Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, warga di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat, harus menempuh jarak belasan kilometer untuk mencapai Unit Kerja BRI terdekat, sehingga mereka kesulitan dalam melakukan transaksi perbankan. Menyadari tantangan ini, Erni yang mengelola warung sederhana di Lareh Sago Halaban, menerima tawaran dari Mantri BRI setempat untuk menjadi BRILink Agen dengan menggunakan mesin EDC BRI.
Erni dikenal dengan pendekatannya yang inovatif dalam memperkenalkan layanan BRILink kepada masyarakat. Salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan membawa mesin EDC ke pengajian mingguan, terutama menjelang waktu pembayaran tagihan listrik. Strategi ini membuat keberadaan BRILink Agen semakin dikenal oleh warga, yang merasakan kemudahan dalam melakukan transaksi di lingkungan mereka sendiri.
Perubahan yang Signifikan
Seiring waktu, warga mulai terbiasa dengan layanan yang ditawarkan. Mereka tidak lagi ragu untuk datang melakukan transfer, membayar tagihan, dan memenuhi berbagai kebutuhan transaksi lainnya. Kepercayaan yang dibangun selama bertahun-tahun tercermin dari meningkatnya aktivitas transaksi yang dilakukan melalui BRILink Agen milik Erni. "Sekarang rata-rata sekitar 6.000 transaksi per bulan, karena di tempat saya dikasih dua unit mesin EDC oleh BRI Padang. Sebelum jadi agen, pendapatan warung saya sekitar Rp3 juta sampai Rp4 juta per bulan. Setelah jadi BRILink Agen, alhamdulillah pendapatan saya sudah naik dua kali lipat," ungkap Erni.
Komitmen BRI dalam Inklusi Keuangan
Pada kesempatan yang berbeda, Corporate Secretary BRI, Dhanny, menyatakan bahwa memasuki bulan Oktober yang dikenal sebagai Bulan Inklusi Keuangan, BRI semakin memperkuat komitmennya untuk menyediakan akses layanan keuangan yang lebih luas, mudah, dan merata bagi seluruh lapisan masyarakat. Dalam konteks ini, BRILink Agen memiliki peran penting sebagai perpanjangan layanan BRI yang menjangkau masyarakat hingga ke tingkat desa dan daerah yang jauh dari kantor bank.
Kehadiran BRILink Agen tidak hanya memperluas akses layanan keuangan formal, tetapi juga mendorong aktivitas ekonomi lokal serta membuka peluang untuk pemberdayaan masyarakat. "Dengan demikian, semangat Bulan Inklusi Keuangan tidak berhenti pada perluasan akses, tetapi diarahkan untuk menciptakan manfaat ekonomi yang semakin nyata, inklusif, dan berkelanjutan bagi masyarakat," tutup Dhanny.