Update
Demo BEM UI dan Stabilitas Ekonomi: Kritik, Dampak, dan Pertanyaan soal Arah Gerakan Mahasiswa Siswa di Bogor Diduga Keracunan Setelah Mengonsumsi Sate dari Makan Bergizi Gratis Gubernur Herman Deru Minta Pengawasan Ketat untuk Bantuan Penanganan Karhutla 5G: Pondasi untuk Masa Depan yang Siap Digital, Mendukung AI dan Produktivitas Langkah Pemerintah Menjaga Ketersediaan dan Stabilitas Harga Pangan Menjelang Nataru Pembangunan PLTN Dinilai Penting untuk Ketahanan Energi Indonesia IHSG Turun Hampir 2 Persen ke Level 5.266, 611 Saham Mengalami Penurunan Ribuan Akademisi Desak Gibran Mundur, Menurut Connie Bakrie Telkom University Mendorong Partisipasi Publik dalam Pencarian Maisha Aurelia Rafif Peningkatan Penggunaan AI di Kalangan UMKM Indonesia Mencapai 36,8 Persen Demo BEM UI dan Stabilitas Ekonomi: Kritik, Dampak, dan Pertanyaan soal Arah Gerakan Mahasiswa Siswa di Bogor Diduga Keracunan Setelah Mengonsumsi Sate dari Makan Bergizi Gratis Gubernur Herman Deru Minta Pengawasan Ketat untuk Bantuan Penanganan Karhutla 5G: Pondasi untuk Masa Depan yang Siap Digital, Mendukung AI dan Produktivitas Langkah Pemerintah Menjaga Ketersediaan dan Stabilitas Harga Pangan Menjelang Nataru Pembangunan PLTN Dinilai Penting untuk Ketahanan Energi Indonesia IHSG Turun Hampir 2 Persen ke Level 5.266, 611 Saham Mengalami Penurunan Ribuan Akademisi Desak Gibran Mundur, Menurut Connie Bakrie Telkom University Mendorong Partisipasi Publik dalam Pencarian Maisha Aurelia Rafif Peningkatan Penggunaan AI di Kalangan UMKM Indonesia Mencapai 36,8 Persen
Teknologi

Inovasi Ilmuwan Jepang dalam Melawan Sel Kanker dengan Karbon Monoksida

Ilmuwan dari Jepang telah menemukan cara inovatif untuk melawan sel kanker dengan memanfaatkan karbon monoksida yang dihasilkan oleh sel kanker itu sendiri. Metode ini berpotensi menjadi alternatif ba...

Dewa Raka 25 October 2026 53 pembaca inews.id inews.id
Advertisement
Advertisement

Ilmuwan Jepang telah mengembangkan metode yang unik untuk melawan sel kanker dengan memanfaatkan zat yang dihasilkan oleh sel itu sendiri. Melalui teknik rekayasa kimia, para peneliti berusaha membentuk senyawa antikanker langsung di dalam sel kanker menggunakan karbon monoksida (CO). Pendekatan ini menarik perhatian karena berbeda dari metode pengobatan kanker yang biasanya mengandalkan pemberian obat dari luar tubuh.

Dalam penelitian ini, ilmuwan merancang sistem kimia yang memanfaatkan karbon monoksida sebagai pemicu reaksi untuk menghasilkan senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan sel kanker. Temuan tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature Communications. Meskipun hasil awalnya menunjukkan janji, penelitian ini masih berada pada tahap pengujian laboratorium dan belum dapat membuktikan bahwa metode ini efektif dalam menyembuhkan kanker pada manusia.

Proses Kerja Metode Baru

Karbon monoksida selama ini dikenal sebagai gas beracun yang berbahaya jika terhirup dalam jumlah besar. Namun, tubuh manusia juga memproduksi karbon monoksida secara alami dalam jumlah kecil sebagai bagian dari proses biologis. Pada beberapa jenis sel kanker, kadar karbon monoksida dapat meningkat, dan perbedaan ini menjadi dasar bagi peneliti untuk mengembangkan sistem pembentukan senyawa antikanker di dalam sel.

Para peneliti menggunakan kompleks albumin-palladium, yang merupakan kombinasi antara protein albumin dan katalis berbasis palladium. Albumin berfungsi untuk menjaga katalis dalam lingkungan biologis, sementara palladium berperan dalam mempercepat reaksi kimia. Sistem ini dirancang untuk memanfaatkan karbon monoksida dalam pembentukan turunan senyawa fenantridinon yang memiliki aktivitas biologis, termasuk potensi untuk menghambat pertumbuhan sel kanker.

Hasil Penelitian dan Tantangan Selanjutnya

Dengan mekanisme ini, sel kanker menjadi tempat berlangsungnya reaksi kimia yang menghasilkan senyawa antikanker. Hal ini berarti sel kanker tidak secara alami memproduksi racun untuk menghancurkan dirinya sendiri, melainkan peneliti merekayasa proses kimia sehingga zat di dalam sel dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan senyawa yang menyerang sel tersebut.

Dalam penelitian, ilmuwan menguji metode yang dikembangkan pada sel yang dikultur di laboratorium. Hasilnya menunjukkan bahwa sistem kimia tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan senyawa bioaktif dengan aktivitas antikanker. Pengujian juga menunjukkan adanya perbedaan efek antara sel kanker dan sel normal yang digunakan sebagai pembanding, di mana sel normal tertentu mengalami dampak yang lebih rendah dibandingkan sel kanker dalam kondisi eksperimen tersebut.

Hasil ini menunjukkan bahwa pemanfaatan karbon monoksida sebagai pemicu reaksi kimia berpotensi untuk menghasilkan senyawa antikanker secara lebih selektif. Namun, hasil pengujian di laboratorium tidak selalu mencerminkan respons yang sama pada tubuh manusia. Efektivitas dan keamanan metode ini masih perlu dibuktikan melalui penelitian lebih lanjut.

Salah satu harapan dari pendekatan ini adalah untuk mengurangi dampak pengobatan terhadap sel sehat dengan menghasilkan senyawa antikanker di dalam sel yang menjadi target. Meskipun demikian, metode ini belum dapat dianggap sebagai pengganti kemoterapi. Peneliti masih perlu menguji bagaimana sistem ini bekerja di dalam tubuh, serta memastikan bahwa katalis dan senyawa yang dihasilkan aman, dan apakah efek antikankernya cukup kuat untuk menghambat pertumbuhan tumor.

Pengujian pada model hewan dan tahapan penelitian selanjutnya juga diperlukan sebelum metode ini dapat dipertimbangkan untuk uji klinis pada manusia. Dengan demikian, temuan ilmuwan Jepang ini merupakan salah satu pendekatan yang sedang dikembangkan dalam penelitian kanker, memanfaatkan karbon monoksida sebagai pemicu reaksi kimia untuk menghasilkan senyawa antikanker langsung di dalam sel, bukan memberikan racun secara sembarangan. Jika efektivitas dan keamanannya dapat dibuktikan melalui penelitian lanjutan, metode ini berpotensi membuka peluang baru dalam pengembangan terapi kanker yang lebih terarah.

Artikel Terkait