Jimly Asshiddiqie, yang pernah menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi, dengan tegas membantah spekulasi politik yang mengklaim bahwa Presiden Prabowo Subianto berusaha memutuskan hubungan politik dengan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. Menurut Jimly, alih-alih melakukan pembersihan politik, Prabowo justru menunjukkan konsistensi dalam strategi merangkul semua elemen bangsa, termasuk mempertahankan figur-figur penting dari pemerintahan sebelumnya.
Penilaian Jimly tentang Dinamika Politik
Dalam sebuah diskusi mendalam di siniar Total Politik yang dilaksanakan pada Rabu (21/10/2026), Jimly membantah analisis dari pihak-pihak yang menyebarkan narasi mengenai keretakan hubungan antara poros Kertanegara/Hambalang dan Solo. Ia berpendapat bahwa langkah-langkah kepemimpinan Prabowo tidak sesuai dengan harapan kelompok-kelompok politik tertentu yang ingin menghilangkan pengaruh Jokowi dari panggung kekuasaan. "Kalau ada analisa bahwa ini adalah tanda-tanda pecah kongsi antara Hambalang (Prabowo) dan Solo (Jokowi), menurut saya enggak begitu. Karena Prabowo ini mau merangkul semua," ungkap Jimly.
Strategi Politik Prabowo dan Dampaknya
Jimly menjelaskan bahwa pendekatan politik yang diambil oleh Prabowo bertujuan untuk menjaga persatuan dan stabilitas politik nasional. Ia menekankan bahwa peralihan kepemimpinan tidak harus dilakukan dengan cara mengeluarkan kekuatan lama, melainkan dengan merangkul mereka agar tetap berada dalam lingkaran kekuasaan. "Semangat Presiden Prabowo ini merangkul semua orang yang berbeda. Jokowi itu dijaga supaya jangan keluar. Praktik (kepemimpinan) berganti, tapi bukan diberhentikan, malah semakin dekat ke istana," jelasnya.
Lebih lanjut, Jimly menilai bahwa strategi politik yang akomodatif ini dapat membalikkan prediksi para pengamat dan membuat pihak-pihak yang ingin menjauhkan Jokowi dari politik merasa kecewa. Ia juga mencatat sejumlah gestur politik positif antara kedua tokoh, termasuk kunjungan kehormatan Jokowi ke kediaman Prabowo di Kertanegara dan rencana Prabowo untuk menyerahkan secara langsung rumah kediaman pensiun yang diberikan negara kepada Jokowi di Colomadu, Karanganyar. "Nanti orang-orang yang anti-Jokowi makin sakit hati dia kan, pusing nih. Kiralogi (analisa kira-kiranya) makin rusak. Padahal niatnya Prabowo memang dia merangkul semua," urai Jimly.
Jimly menegaskan bahwa pendekatan merangkul ini diterapkan oleh Prabowo untuk meminimalkan potensi kegaduhan politik di awal masa jabatannya. Pendekatan ini juga menunjukkan bahwa Kabinet Merah Putih mengedepankan prinsip keberlanjutan dan konsolidasi, bukan politik saling jegal di antara elite nasional.