Update
Ekonomi

Kebakaran Hutan di Kalimantan Tengah Meluas, Lahan Terbakar Mencapai 100 Ribu Hektare

Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah telah meluas hingga lebih dari 100 ribu hektare, dengan Palangka Raya dan Pulang Pisau sebagai daerah yang paling terdampak. Penanganan karhutla di wilay...

Kalula Putri 15 October 2026 57 pembaca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
Wamenko Pangan Hanif Faisol Nurofiq mengungkap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah telah meluas hingga melebihi 100 ribu hektare. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Auliya Rahman).
Wamenko Pangan Hanif Faisol Nurofiq mengungkap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah telah meluas hingga melebihi 100 ribu hektare. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Auliya Rahman).

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, mengungkapkan bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah telah meluas, mencakup lebih dari 100 ribu hektare. Luas area yang terbakar ini merupakan hasil penggabungan dari dua lokasi utama, yaitu Kota Palangka Raya dan Kabupaten Pulang Pisau, yang saat ini menjadi fokus utama dalam penanganan kebakaran.

Wilayah Terdampak dan Upaya Penanganan

Di Palangka Raya, terdapat area seluas 39 ribu hektare yang sering mengalami kebakaran dengan intensitas hotspot yang tinggi. "Area ini memang terindikasi terjadi kebakaran berulang dengan hotspot, fire spot, yang cukup banyak," ungkap Hanif setelah mengikuti Rapat Koordinasi Penanggulangan Karhutla di Jakarta Barat pada Kamis (15/10).

Di sisi lain, Kabupaten Pulang Pisau yang merupakan kawasan lindung gambut juga terdampak, dengan luas hampir 93 ribu hektare. Operasi pemadaman kebakaran di Kalimantan Tengah dilakukan sesuai dengan mandat Kementerian Koordinator Pangan untuk mengawasi penanganan karhutla di empat provinsi, termasuk Kalimantan Selatan, Papua Selatan, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Selatan.

Tantangan dalam Penanganan Karhutla

Hanif menjelaskan bahwa upaya penanggulangan kebakaran di Kalimantan Tengah jauh lebih kompleks dan memerlukan strategi yang sangat presisi. Berdasarkan laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Kalimantan Tengah, beberapa lapisan gambut yang terbakar di wilayah tersebut memiliki kedalaman lebih dari 10 meter. "Kondisi ini sangat menyulitkan tim gabungan untuk menaklukkan api yang tertimbun di bawah permukaan tanah," tambahnya.

Situasi ini berbeda dengan Kalimantan Selatan, di mana kolaborasi berbagai pihak berhasil mengatasi kebakaran di lahan seluas 3 ribu hektare. Saat ini, mereka juga sedang menangani 10 ribu hektare lainnya dengan metode pembalikan tanah dan perendaman gambut. "Kalimantan Selatan yang kurang dari 3 meter saja memerlukan waktu berbulan-bulan untuk menaklukkannya. Apalagi di Kalimantan Tengah, terutama berdasarkan fire spot ataupun hotspot yang memiliki confident tinggi," jelas Hanif.

Hanif juga menyoroti fenomena langit Palangka Raya yang menguning akibat kabut asap yang pekat. Dengan pengalaman lebih dari 33 tahun di kementerian yang mengurusi kehutanan, ia memahami betul penderitaan masyarakat yang terpapar kabut asap akibat karhutla. "Di Palangka Raya yang media sosialnya cukup sangat dramatis, kita merasa betul bagaimana sesaknya setiap kita buka pintu," tuturnya.

Ia menegaskan bahwa fenomena matahari yang terlihat kuning pekat akibat terhalang asap merupakan indikator bahwa kondisi tersebut sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. "Kita bayangkan Kalimantan Tengah di Palangka Raya, beberapa media langsung menggambarkan betapa warna kuningnya matahari itu. Itu menyimpulkan bahwa emulsi ataupun particulate matter yang luar biasa yang sebenarnya dalam kategori yang sangat-sangat berbahaya untuk kita semua," pungkas Hanif.

Artikel Terkait