Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terus ditingkatkan dengan melibatkan personel gabungan serta melakukan operasi pemadaman baik dari darat maupun udara. Hingga Rabu, 12 Agustus 2026, sebanyak 540 personel telah dikerahkan untuk melakukan pemadaman, pemantauan, patroli, serta mengantisipasi potensi meluasnya kebakaran.
Menurut Plh. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Dodi Yuleova, personel gabungan tersebut terdiri dari TNI, Polri, BPBD, Perhutani, Balai Besar TNBTS, pemadam kebakaran, dan sukarelawan. Rincian kekuatan personel mencakup 305 anggota TNI Angkatan Darat, 24 anggota TNI Angkatan Laut, 49 anggota Polri, 58 personel BPBD dari berbagai wilayah, 19 anggota Perhutani, 35 personel TNBTS, enam pemadam kebakaran, serta 44 relawan.
Fokus Pemadaman di Wilayah Terdampak
Sesuai dengan skenario penanganan, tim gabungan berfokus untuk memadamkan api di kawasan Bukit Dingklik–Pusung Duwur, yang terletak di Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Luas area yang terdampak di lokasi ini diperkirakan mencapai 78,69 hektare. Dodi Yuleova menambahkan bahwa tim gabungan juga terus melakukan pemantauan dan bersiaga untuk melaksanakan pemadaman langsung serta mencegah perambatan api.
Sementara itu, Kabupaten Probolinggo saat ini dalam status pemantauan. Hingga kini, tidak terlihat adanya titik api atau asap, dengan luas area terdampak diperkirakan mencapai 842,73 hektare. Pemantauan juga dilakukan di Kabupaten Lumajang, khususnya di Bukit Njantur, Resor Ranupani, dan kawasan B29, Desa Argosari, Kecamatan Senduro.
Upaya Pemadaman Terpadu
Secara keseluruhan, area yang terdampak karhutla di TNBTS dilaporkan mencapai sekitar 921,42 hektare, mencakup wilayah Bukit Dingklik–Pusung Duwur di Kabupaten Pasuruan serta Lembah Watangan dan Argowulan di Kabupaten Probolinggo. Tim gabungan dari Kabupaten Malang dan Lumajang juga tetap berada di perbatasan untuk mengantisipasi potensi perambatan api dari arah Kabupaten Probolinggo.
Operasi pemadaman dilakukan secara terpadu dengan dukungan dari darat dan udara. Tim darat disiapkan untuk melakukan pemadaman langsung di titik api, sementara operasi udara dilakukan dengan menggunakan tiga helikopter untuk water bombing di dua lokasi, yaitu kawasan P30 Kabupaten Probolinggo dan Pusung, Desa Wonokitri, Kabupaten Pasuruan. Selain itu, patroli darat dan pemantauan udara terus dilakukan untuk mengidentifikasi titik api dan titik panas.
Dalam mendukung operasi di lapangan, berbagai sarana dan peralatan dikerahkan, termasuk enam unit mobil pemadam kebakaran, satu unit water drone BNPB, satu unit helikopter water bombing, 70 unit sepeda motor trail, lima unit kendaraan double cabin, serta peralatan pemadaman manual seperti kepyok. Kawasan TNBTS masih ditutup hingga waktu yang belum ditentukan untuk mendukung keselamatan masyarakat dan pengunjung serta memberikan ruang bagi petugas untuk melakukan penanganan dan pemantauan secara optimal.
BNPB, bersama dengan pemerintah daerah, TNI, Polri, pengelola kawasan, dan seluruh unsur terkait, terus memperkuat kesiapsiagaan untuk memastikan titik api dapat dikendalikan dan mencegah meluasnya kebakaran. Masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran dan segera melaporkan jika menemukan titik api atau kepulan asap di sekitar kawasan hutan.
"Penanganan karhutla mengedepankan prinsip keselamatan personel dan masyarakat, kecepatan respons terhadap titik api, serta pemantauan berkelanjutan hingga kondisi benar-benar dinyatakan aman," ujar Dodi Yuleova.