Brigjen TNI (Purn) H. Poernomo, mantan Direktur BAIS TNI, menilai bahwa hubungan antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi masih berlangsung dengan baik. Ia menduga bahwa Jokowi berharap Dedi dapat memberikan dukungan untuk memperkuat posisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Jawa Barat. Pandangan ini disampaikan Poernomo dalam kanal YouTube Obor Rakyat Reborn, yang dikutip pada Senin (5/10/2026).
Menurut Poernomo, kedekatan antara Jokowi dan Dedi bisa menjadi salah satu faktor yang mendukung upaya PSI dalam memperkuat basis politiknya di Jawa Barat. "Dan apalagi Gubernur KDM Pak Dedi cukup baik hubungannya dengan Pak Jokowi kan begitu ya. Harapannya mungkin dengan Gubernur ini masih dekat sama Pak Jokowi, harapannya Gubernur mampu katakan mendorong mungkin begitu. Itu mungkin," ujarnya. Pernyataan Poernomo ini merupakan sebuah dugaan mengenai dinamika politik antara Jokowi dan Dedi Mulyadi, tanpa adanya keterangan yang menunjukkan bahwa Jokowi secara eksplisit meminta Dedi untuk membantu PSI.
Aktivitas Jokowi di Jawa Barat
Aktivitas Jokowi di Jawa Barat menjadi salah satu konteks yang mendasari dugaan tersebut. Pada bulan September 2026, Jokowi tercatat melakukan beberapa kunjungan ke Jawa Barat, termasuk ke Cirebon pada tanggal 12 September 2026, di mana ia menghadiri sebuah acara dan disambut baik oleh masyarakat setempat. Selain itu, pada tanggal 26 September 2026, Jokowi juga hadir dalam Rakorda PSI Kota Bandung yang berlangsung di Hotel Grand Pasundan. Dalam kesempatan tersebut, Jokowi secara terbuka menunjukkan Kartu Tanda Anggota (KTA) PSI dan menegaskan bahwa ia telah menjadi bagian dari keluarga besar PSI sejak 14 Oktober 2025.
Kehadiran Jokowi dalam agenda konsolidasi PSI ini menunjukkan keterlibatannya dalam kegiatan partai di Jawa Barat. Dalam arahannya kepada para kader, Jokowi meminta agar struktur PSI tidak hanya lengkap secara administratif, tetapi juga aktif bekerja hingga ke tingkat bawah.
Dedi Mulyadi dalam Sorotan Survei Politik
Nama Dedi Mulyadi juga menjadi perhatian dalam berbagai survei politik nasional yang dirilis pada tahun 2026. Survei yang dilakukan oleh Tempo Data Science pada 31 Juli hingga 11 Agustus 2026 terhadap 1.260 responden di 38 provinsi menunjukkan bahwa Dedi Mulyadi memperoleh 41 persen dalam simulasi terbuka, sementara Prabowo Subianto berada di angka 15 persen. Dalam simulasi dengan daftar nama kandidat, elektabilitas Dedi mencapai 42 persen, sedangkan Prabowo 15 persen. Temuan serupa juga terlihat dalam survei yang dilakukan oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada 5-19 Juli 2026, di mana Dedi memperoleh 35 persen dalam simulasi semi-terbuka, sementara Prabowo Subianto 14,5 persen. Hasil kedua survei ini menunjukkan bahwa pada saat survei dilakukan, Dedi berada di posisi teratas dalam simulasi yang digunakan oleh masing-masing lembaga. Namun, hasil survei ini hanya mencerminkan opini publik pada periode pengambilan data dan bukan prediksi hasil Pemilu 2029.
Dalam konteks ini, Poernomo mengaitkan posisi Dedi Mulyadi sebagai Gubernur Jawa Barat dengan kedekatannya bersama Jokowi. Ia berpendapat bahwa hubungan tersebut berpotensi menjadi salah satu jalur untuk membantu PSI memperluas pengaruhnya di Jawa Barat. Dugaan ini muncul ketika Jokowi aktif dalam kegiatan PSI, termasuk kehadirannya di Rakorda PSI Kota Bandung pada akhir September yang menjadi momentum bagi Jokowi untuk menunjukkan status keanggotaannya secara terbuka. Namun, hubungan baik antara kedua tokoh dan aktivitas Jokowi bersama PSI tidak serta merta membuktikan adanya kesepakatan politik antara Jokowi dan Dedi Mulyadi untuk memperkuat PSI. Oleh karena itu, pernyataan mengenai harapan Jokowi agar Dedi membantu PSI perlu dipahami sebagai dugaan dari Poernomo, sementara aktivitas Jokowi di PSI dan hasil survei mengenai Dedi Mulyadi merupakan fakta terpisah yang menjadi konteks pembahasan.
Dengan dinamika yang ada, hubungan antara Jokowi, Dedi Mulyadi, dan PSI di Jawa Barat menjadi bagian penting dari perkembangan politik menjelang Pemilu 2029 yang terus berlangsung.