JAKARTA - Sebuah survei terbaru menunjukkan bahwa 91 persen pelajar merasa cemas bahwa penggunaan kecerdasan buatan (AI) dapat mengurangi pemahaman mereka terhadap materi yang dipelajari. Hal ini mencerminkan adanya perbedaan antara kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi AI dan pemahaman mendalam pelajar terhadap pelajaran yang mereka terima.
Survei HP Futures 2026 yang melibatkan lebih dari 6.000 pelajar dari 37 negara, termasuk 2.097 pelajar dari Indonesia, mengungkapkan kebiasaan pelajar dalam mengingat materi pelajaran. Di tengah meningkatnya penggunaan AI, sebanyak 52 persen responden masih memilih metode tradisional seperti mencetak atau menulis tangan untuk membantu mereka mengingat pelajaran, sementara 17 persen lainnya menggunakan ringkasan berbasis AI sebagai metode utama.
Perbedaan Antara Kecepatan dan Pemahaman
Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun AI dapat mempercepat proses belajar, hal tersebut tidak selalu membuat pelajar merasa lebih memahami materi yang diajarkan. Penting untuk membedakan antara kecepatan menyelesaikan tugas dan kemampuan untuk menyerap pengetahuan dalam penerapan teknologi di dunia pendidikan.
Walaupun memiliki kekhawatiran tersebut, pelajar Indonesia tetap optimis mengenai masa depan karier mereka di tengah perkembangan AI. Sekitar 67 persen responden percaya bahwa AI akan menciptakan lebih banyak peluang kerja daripada menghilangkannya. Selain itu, 84 persen pelajar merasa mampu menggunakan perangkat AI secara efektif dan bertanggung jawab dalam karier mereka di masa depan. Sebanyak 88 persen juga menilai bahwa pendidikan yang mereka terima saat ini telah mempersiapkan mereka untuk memasuki dunia kerja.
Pentingnya Keterampilan di Era AI
David McQuarrie, Chief Commercial Officer HP dan Ketua HP Futures, menilai bahwa perkembangan AI menuntut sistem pendidikan untuk memperkuat kemampuan yang tetap relevan di tengah perubahan teknologi. “Sistem pendidikan perlu berbuat lebih banyak untuk membantu pelajar mengembangkan, menunjukkan, dan terus mengasah kemampuan yang tetap bernilai, apa pun arah perkembangan teknologi,” ujarnya dalam keterangan pers.
Survei ini juga memetakan keterampilan yang dianggap penting oleh pelajar Indonesia untuk menghadapi pasar kerja di masa depan. Kreativitas menjadi keterampilan terpenting dengan 67 persen, diikuti oleh kemampuan berpikir kritis sebesar 63 persen, serta komunikasi dan kolaborasi sebesar 58 persen. Sementara literasi AI dan digital berada di urutan kelima dengan 40 persen. Hasil ini menunjukkan bahwa pelajar tidak hanya memandang penguasaan teknologi sebagai bekal masa depan, tetapi juga menempatkan kemampuan berpikir dan berinteraksi sebagai keterampilan yang krusial.
Mayank Dhingra, Director & Global Head Education Business and Strategy HP, menyatakan bahwa pelajar Indonesia merasa terbantu oleh AI untuk bekerja lebih cepat, namun tetap khawatir terhadap kedalaman pemahaman mereka. “Suara pelajar harus mendapat tempat yang kuat dalam diskusi, seiring sistem pendidikan menentukan arah kurikulum dan model penilaian ke depan,” kata Mayank.
Laporan HP Futures 2026 merekomendasikan agar literasi, numerasi, dan pembelajaran yang membantu membentuk identitas siswa tetap menjadi fondasi pendidikan. Pendekatan kreatif dan praktik langsung juga dianggap penting untuk memperkuat pemahaman serta mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan di masa depan. Laporan tersebut juga mendorong pembuat kebijakan untuk memasukkan keterampilan jangka panjang, seperti kreativitas, berpikir kritis, komunikasi, dan kolaborasi, ke dalam inti sistem pendidikan. Dukungan terhadap pendidik dan pengembangan model penilaian juga menjadi bagian dari rekomendasi untuk menghadapi perubahan akibat AI.