Krisis Air Bersih dan Ancaman Gagal Panen
Dampak musim kemarau ekstrem yang menerjang Kabupaten Pati, Jawa Tengah, kian meluas. Tercatat sedikitnya 1.700 hektare area persawahan beserta 40 desa di 10 kecamatan terdampak langsung, di mana warga lokal kini harus menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih.
Kondisi gawat ini dipicu oleh mengeringnya aliran sungai serta sumur-sumur warga setempat. Akibatnya, para petani berada dalam bayang-bayang kegagalan panen lantaran pasokan air untuk irigasi lahan pertanian kian menipis. Tak hanya mengancam sektor pertanian, situasi ini juga memperberat kehidupan harian masyarakat. Warga di kawasan terdampak bahkan terpaksa berdesakan saat bantuan air bersih tiba, mengingat pengiriman pasokan belum bisa dilakukan setiap hari.
Pemkab Pati Naikkan Status dan Salurkan Bantuan
Merespons kondisi kekeringan yang kian parah, Pemerintah Kabupaten Pati memutus untuk menaikkan tingkat kedaruratan dari siaga darurat menjadi tanggap darurat kekeringan. Keputusan ini diambil untuk mempercepat pergerakan penanganan dampak kekeringan di titik-titik lokasi terdampak.
"Pada pagi hari ini kami mengumpulkan Forkopimda Kabupaten Pati untuk untuk membahas status siaga darurat kekeringan menjadi tanggap darurat kekeringan karena sudah memenuhi syarat," ujar Pelaksana Tugas Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, Jumat (18/9/2026).
Risma menambahkan bahwa Pemkab Pati terus mengupayakan pendistribusian bantuan air bersih bagi masyarakat yang tengah dilanda krisis air. Ia menegaskan, penetapan kenaikan status tersebut merupakan hasil pembahasan bersama yang akan segera ditindaklanjuti lewat penanganan konkret di lapangan.