Budi Arie Setiadi, yang menjabat sebagai Ketua Umum Pro Jokowi (PROJO), memberikan tanggapan yang tenang terhadap isu yang mengaitkan namanya dengan bursa calon wakil presiden mendampingi Gibran Rakabuming Raka pada Pemilu 2029. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki ambisi untuk menjadi cawapres Gibran dan berharap spekulasi politik yang beredar tidak berkembang menjadi sekadar gosip.
“Saya enggak mimpi itu,” ungkap Budi Arie dalam sebuah podcast yang ditayangkan pada Jumat (18/9/2026). Ia menjelaskan bahwa perjalanan menuju Pemilu 2029 masih panjang dan konstelasi politik dapat berubah seiring dengan perkembangan situasi. Oleh karena itu, berbagai kemungkinan yang muncul saat ini belum dapat dianggap sebagai keputusan politik yang pasti. “Jangan bikin gosip,” tegasnya.
Kepentingan Pribadi dan Penugasan Politik
Budi Arie juga menyatakan bahwa ia tidak pernah meminta jabatan tertentu dalam karier politiknya. Ia menyebutkan bahwa berbagai posisi yang pernah diembannya, termasuk saat berada di pemerintahan, merupakan penugasan. Ia mengungkapkan bahwa selama masa jabatannya, ia telah menerima tugas di tiga kementerian. “Saya sudah menyelesaikan takdir sejarah saya sendiri,” ujarnya.
Menurutnya, jabatan-jabatan tersebut bukanlah sesuatu yang diperjuangkan demi kepentingan pribadi. “Saya ditugaskan tiga kementerian, saya enggak minta,” jelasnya. Pernyataan ini disampaikan saat namanya mulai dikaitkan dengan kemungkinan menjadi pasangan Gibran dalam kontestasi politik mendatang.
Harapan untuk Prabowo dan Gibran
Di tengah spekulasi mengenai peta politik untuk Pemilu 2029, Budi Arie menyatakan dukungannya agar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dapat berlanjut hingga dua periode, sesuai dengan ketentuan konstitusi. “Kita mengharapkan dua periode Pak Prabowo-Gibran,” katanya.
Namun, ia menekankan bahwa harapan tersebut bergantung pada kinerja pemerintahan hingga menjelang Pemilu 2029. Pemerintah harus mampu menunjukkan kinerja yang baik dan mempertahankan kepercayaan masyarakat. Budi Arie juga mencatat bahwa situasi Pemilu 2029 akan berbeda dibandingkan dengan Pemilu 2024, salah satunya karena adanya petahana yang berhak mencalonkan diri kembali sesuai dengan aturan yang berlaku.
Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa pembicaraan mengenai pasangan politik dan konfigurasi kandidat untuk 2029 masih terlalu dini untuk disimpulkan dalam satu skenario. “Semua masih mungkin,” tutupnya.