Update
News

Kementerian Pekerjaan Umum Tanggulangi 8.000 Hektare Sawah Terancam Gagal Panen di Lampung

Kementerian Pekerjaan Umum mempercepat penanganan intrusi air laut untuk melindungi 8.000 hektare lahan pertanian di Lampung Selatan. Upaya ini bertujuan menjaga ketersediaan air bagi pertanian dan me...

Aruna Sasmita 09 October 2026 56 pembaca jpnn.com jpnn.com
Kementerian PU Selamatkan 8.000 Hektare Sawah Gagal Panen di Lampung
Kementerian PU Selamatkan 8.000 Hektare Sawah Gagal Panen di Lampung

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) sedang melakukan upaya cepat untuk menangani masalah intrusi air laut yang mengancam 8.000 hektare lahan pertanian di Daerah Irigasi Rawa (DIR) Pisang, Kabupaten Lampung Selatan. Langkah ini diambil untuk memperlancar aliran air serta memastikan ketersediaan air baku bagi pertanian masyarakat, sehingga dapat mencegah risiko gagal panen.

Menteri PU Dody Hanggodo menyatakan bahwa penguatan infrastruktur sumber daya air merupakan salah satu pilar penting dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan di Indonesia. Infrastruktur yang handal akan memberikan kepastian layanan air bagi para petani, sehingga produktivitas pertanian dapat tetap terjaga. “Kehadiran infrastruktur sumber daya air sangat penting untuk mendukung ketersediaan air irigasi pertanian, menjaga produktivitas lahan, serta memastikan pasokan pangan tetap terjaga,” ujar Menteri Dody.

Normalisasi Saluran untuk Meningkatkan Aliran Air

Melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung, penanganan dilakukan pada jaringan saluran yang terhubung dengan Sungai Way Sekampung dan Saluran Pembuang Sekunder (SPS) Sragi. Pekerjaan ini mencakup normalisasi saluran suplesi dari Sungai Way Sekampung menuju SPS Sragi sepanjang sekitar 1,3 kilometer, serta normalisasi SPS Sragi sepanjang 3,2 kilometer. Secara keseluruhan, pekerjaan ini mencapai sekitar 4,5 kilometer. Normalisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kelancaran aliran air menuju jaringan irigasi, sehingga suplai air untuk kebutuhan pertanian dapat lebih optimal.

Selain normalisasi saluran, Kementerian PU juga telah menyelesaikan perbaikan pada empat unit pintu Tabat Gayau dan 13 unit pintu pembuang. Tiga unit gorong-gorong dengan total panjang 30 meter juga telah dipasang, disertai dengan pasangan batu kali untuk memperkuat konstruksi gorong-gorong tersebut. Penanganan ini merupakan bagian dari upaya untuk memperlancar distribusi air ke saluran pertanian sekaligus mengendalikan masuknya air laut ke jaringan.

Pengangkatan Sedimen untuk Memperbaiki Aliran Air

Dalam pelaksanaan di lapangan, air dari Sungai Way Sekampung dipompa menuju saluran sepanjang sekitar 700 meter menggunakan pompa mobile. Untuk memperlancar aliran menuju saluran pertanian, pengangkatan sedimentasi juga dilakukan pada Saluran Pembuangan Primer (SPP) Sekampung-SPS Sragi sepanjang 5,8 kilometer dan SPP Sekampung-SPP Bali Agung sepanjang 5,6 kilometer dengan mengerahkan lima unit Excavator Long Arm. Material sedimen diangkat agar aliran air dapat diteruskan ke saluran SPP dan selanjutnya dipompa menuju sawah.

Perbaikan Tabat Gayau juga menjadi faktor penting dalam pengelolaan tata air. Tabat berfungsi untuk mengatur aliran saluran. Pada musim hujan, pintu dapat dibuka untuk membuang aliran ke Sungai Sekampung, sedangkan pada musim kemarau, pintu ditutup untuk menahan intrusi air asin dan menjaga agar air hasil pompanisasi tetap mengalir di saluran SPP.

Dengan langkah-langkah tersebut, Kementerian PU berkomitmen untuk memastikan aliran air dapat lebih lancar dan terkontrol hingga ke jaringan pertanian. Upaya ini diharapkan dapat mendukung keberlanjutan pasokan air baku bagi sawah serta membantu masyarakat dalam mempertahankan produktivitas pertanian di wilayah yang terkena dampak intrusi air laut.

Artikel Terkait