Pemerintah Kabupaten Aceh Barat mengonfirmasi bahwa proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di daerah ini mengalami gangguan akibat kenaikan harga bahan bangunan, terutama semen, yang sempat mencapai lebih dari Rp 100.000 per sak. Bupati Aceh Barat, Tarmizi, menyatakan bahwa "Pengerjaan rumah dan beberapa kegiatan sempat terhenti sebentar, karena margin keuntungan kontraktor sangat kecil. Jika terjadi lonjakan harga seperti ini, mereka berpotensi rugi besar," saat memberikan keterangan kepada wartawan di Meulaboh pada hari Senin.
Dampak Kenaikan Harga Semen
Tarmizi menjelaskan bahwa dampak dari kenaikan harga semen di Aceh Barat telah menyebabkan pelambatan yang signifikan dalam pengerjaan fisik di lapangan, bahkan beberapa proyek pemerintah terpaksa dihentikan total. Kenaikan harga material yang terjadi secara mendadak ini berimbas langsung pada skema pembiayaan para kontraktor dan pelaksana proyek.
Dia menambahkan bahwa para kontraktor kini berada dalam posisi yang sulit. Margin anggaran yang telah disepakati dalam kontrak awal menjadi tidak realistis ketika harga semen melonjak tinggi. Tarmizi menekankan pentingnya mencari solusi untuk mengatasi masalah ini agar proyek yang sedang berjalan tidak terganggu lebih lanjut.
Upaya Pemkab Aceh Barat
Menanggapi situasi tersebut, Pemkab Aceh Barat saat ini tengah berupaya mencari solusi bersama pihak-pihak terkait untuk menstabilkan harga dan menemukan formula terbaik. Hal ini dilakukan agar kenaikan harga semen tidak mengganggu pelaksanaan proyek pemerintah daerah dan rehabilitasi yang sedang berlangsung. "Saat ini pemerintah daerah sedang membahas langkah strategis dan formula solusi untuk mengatasi masalah ini, agar seluruh pengerjaan fisik di daerah dapat kembali normal dan selesai tepat waktu," ungkapnya.