DEPOK - Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menekankan bahwa lulusan perguruan tinggi harus membangun kompetensi yang terintegrasi guna menghadapi dinamika dunia kerja yang terus berkembang. Selain menguasai bidang studi yang diambil, mereka juga perlu memperkuat keterampilan digital, kecerdasan artifisial (AI), komunikasi, dan keterampilan lain yang relevan dengan kebutuhan industri.
Pernyataan tersebut disampaikan Yassierli saat memberikan kuliah umum di Institut Agama Islam SEBI (IAI SEBI) di Depok, Jawa Barat, pada hari Senin (31/8). Ia menjelaskan bahwa perubahan teknologi dan kebutuhan industri saat ini mengharuskan dunia kerja untuk tidak hanya mencari lulusan berdasarkan nama program studi, tetapi juga berdasarkan kombinasi kompetensi yang dapat mereka tawarkan.
Pentingnya Keterampilan Terintegrasi
"Core skill saja tidak cukup. Jadi tidak hanya ijazah, tidak hanya sertifikat kompetensi, tetapi sekarang trennya adalah integrated skills. Dunia kerja membutuhkan kompetensi yang terintegrasi, khususnya terintegrasi dengan digital skill dan AI,” jelas Menaker Yassierli.
Dia memberikan contoh mengenai perubahan kebutuhan pasar kerja dengan munculnya posisi seperti analis data (big data analyst) dan pengembang produk (product developer), yang tidak selalu terkait langsung dengan nama program studi tertentu. “Sekarang dicari big data analyst, dicari product developer. Mana ada program studi product developer atau big data analyst? Karena yang diminta itu core skill dan skill yang terintegrasi,” tambahnya.
Membangun Rekam Jejak Kompetensi Sejak Dini
Yassierli menekankan bahwa perubahan ini menunjukkan betapa pentingnya bagi mahasiswa untuk mulai membangun kompetensi secara serius sejak masa perkuliahan. Hal ini tidak hanya melalui pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga melalui pengalaman praktis dan bukti kompetensi.
“Kalau sekarang mengambil program studi apa, sudah serius di situ. Yakini itu adalah journey yang harus dibangun. Belajar, praktik, magang, mendapatkan sertifikat, dan membangun portofolio,” pesannya.
Dia juga menambahkan bahwa mahasiswa perlu mulai merancang rekam jejak kompetensinya sejak awal perkuliahan. Pengalaman belajar, praktik, magang, sertifikasi, dan portofolio yang dikumpulkan selama kuliah dapat menjadi bagian dari rekam jejak yang akan ditawarkan kepada dunia kerja. “CV itu bukan dibuat, tetapi CV itu dirancang dari kertas kosong. Kita ingin tiga atau empat tahun lagi CV kita isinya apa, itu harus dirancang,” tuturnya.
Yassierli berharap agar perguruan tinggi terus memperkuat pembelajaran yang membekali mahasiswa dengan kompetensi sesuai bidang studi serta keterampilan yang relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja.