Krisis yang terjadi di Timur Tengah, khususnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat, berkontribusi pada ketidakstabilan pasar energi global. Jalur minyak di Selat Hormuz yang sebelumnya aman kini terancam, dan meningkatnya ketegangan antara Arab Saudi dan milisi Houthi semakin memperburuk situasi. Akibatnya, harga minyak mentah dunia terus meroket, bukan malah menurun.
Dalam menghadapi kondisi ini, banyak negara kini mempertimbangkan kembali strategi penjualan minyak mereka dan lebih memilih untuk mengamankan pasokan energi domestik. Misalnya, China sejak 1 Oktober lalu telah memperketat ekspor produk bahan bakar minyak (BBM). Beberapa kilang di negara tersebut dilaporkan menghentikan pengiriman produk minyak ke luar wilayah Hong Kong dan Makau hingga ada instruksi lebih lanjut dari pemerintah Beijing.
Strategi Indonesia dalam Pengadaan Energi
Untuk mengantisipasi kebutuhan pasokan energi dalam negeri, Indonesia mengubah cara pengadaan minyak mentah (crude), bahan bakar minyak (BBM), dan gas bumi cair (LPG) dari luar negeri. Melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 107 Tahun 2026, pengadaan yang sebelumnya dilakukan melalui tender antar badan usaha kini beralih ke kerja sama langsung antara pemerintah (government-to-government/G2G) dan antara pemerintah dengan badan usaha (government-to-business/G2B). Langkah ini bertujuan untuk memperkuat kepastian pasokan energi dalam negeri.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa perpres ini menandai babak baru dalam sistem pengadaan energi nasional. Dalam konferensi pers, ia menjelaskan, "Selama ini Pertamina melakukan proses B2B, tendernya lama, dan dengan perpres ini kita melakukan G2G dan G2B. Artinya, kita sekarang sudah bisa melakukan pilihan-pilihan negara-negara mana saja yang kita akan ambil."
Pentingnya Kesadaran Energi di Masyarakat
Di tengah ketidakpastian global ini, kesadaran akan penggunaan energi yang bijak menjadi sangat penting. Peneliti dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menekankan bahwa tingginya biaya energi sering kali tidak terlihat secara langsung oleh konsumen. Ia berpendapat bahwa jika masyarakat memahami biaya yang sebenarnya, mereka akan lebih mudah menerima langkah-langkah penghematan dan perubahan harga secara bertahap.
Yayan juga menjelaskan bahwa biaya energi yang sesungguhnya jauh lebih tinggi dibandingkan harga di SPBU. Sebagai contoh, Biosolar dijual seharga Rp6.800 per liter, sedangkan Dexlite, yang merupakan solar nonsubsidi, dijual seharga Rp23.700 per liter. Selisih harga tersebut menunjukkan beban biaya yang ditanggung bersama melalui APBN, di mana realisasi subsidi energi mencapai Rp331,4 triliun pada Januari hingga Agustus 2026.
Ia mendorong agar harga keekonomian dan besaran subsidi dicantumkan pada struk SPBU, tagihan listrik, dan tabung elpiji untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya penggunaan energi yang bijak. Menurutnya, imbauan untuk berhemat perlu disampaikan secara berulang dan bervariasi agar tidak cepat tumpul.
Sementara itu, upaya untuk meningkatkan produksi minyak mentah terus dilakukan oleh PT Pertamina (Persero). Hingga akhir semester I-2026, produksi migas Pertamina Hulu Energi (PHE) mencapai 935 ribu barel setara minyak per hari, dengan rincian produksi minyak sebanyak 459 ribu barel per hari dan gas bumi sebesar 2.756 juta kaki kubik per hari.
Pertamina juga berkomitmen untuk menjaga ketersediaan energi bagi masyarakat dan industri, serta mendukung kebijakan pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global.