Jakarta - Setelah mencapai puncak prestasi, seorang atlet tetap harus memikirkan masa depan yang cerah ketika masa kompetitifnya berakhir. Mereka perlu memiliki bekal untuk memasuki fase selanjutnya, termasuk kemampuan untuk mengenali peluang, mengembangkan keterampilan, serta menciptakan sumber penghasilan baru. Hal ini menjadi fokus dalam Webinar Nasional yang diselenggarakan oleh PPM School of Management bekerja sama dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat, yang berlangsung secara daring pada Selasa (16/9).
Pentingnya Dukungan Pasca Karier Atlet
Marciano Norman, Ketua Umum KONI Pusat, menegaskan bahwa perhatian terhadap atlet tidak seharusnya hanya berhenti pada pencapaian prestasi. “Selain pembinaan tim/atlet menjadi juara, kita juga harus mendukung kegiatan pasca menjadi atlet," ungkap Marciano. Ia menekankan pentingnya melihat pembinaan atlet dari perspektif yang lebih luas, tidak hanya terkait performa di arena, tetapi juga kesiapan mereka menghadapi fase setelah kompetisi.
Salah satu bekal yang dapat dikembangkan adalah pola pikir kewirausahaan, sehingga pengalaman dan keterampilan yang diperoleh selama berkarier di dunia olahraga dapat menjadi bagian dari pilihan karier selanjutnya. Webinar ini dihadiri oleh hampir 1.000 atlet, pelatih, dan pengurus olahraga dari berbagai daerah di Indonesia. Sebanyak 300 peserta bergabung melalui Zoom Meeting, sementara lebih dari 650 orang menyaksikan siaran langsung di kanal YouTube KONI Pusat.
Modal Kewirausahaan dari Pengalaman Olahraga
Dalam sesi utama, Assoc. Prof. Dr. Aprihatiningrum Hidayati, S.Psi., M.M., yang merupakan Associate Professor dan Dosen di PPM School of Management, mengajak atlet dan pelatih untuk melihat pengalaman olahraga dari sudut pandang yang berbeda. Menurut Dr. Apri, atlet sebenarnya sudah memiliki sejumlah modal penting yang relevan dengan dunia kewirausahaan, seperti disiplin, daya juang, ketekunan, kemampuan bekerja dalam tim, serta keberanian menghadapi risiko secara terukur. Namun, karakter-karakter tersebut perlu dilengkapi dengan keterampilan bisnis agar dapat diterjemahkan menjadi nilai ekonomi.
“Kami terbiasa menyiapkan pertandingan berikutnya. Hari ini menyiapkan pilihan karier berikutnya,” jelas Dr. Apri. Ia menekankan bahwa persiapan tersebut tidak harus menunggu hingga seorang atlet pensiun dari kompetisi. Bagi atlet, langkah awal dapat berupa usaha kecil yang disesuaikan dengan jadwal latihan, sedangkan bagi pelatih, pengalaman dalam membina atlet dapat dikembangkan menjadi layanan atau usaha yang memanfaatkan keahlian yang dimiliki.
Dalam konteks ini, kewirausahaan dipahami sebagai proses mengenali kebutuhan, menawarkan solusi, dan mengelola sumber daya agar solusi tersebut dapat dijalankan dan menghasilkan pendapatan. Sumber daya yang dimaksud tidak hanya berupa modal finansial, tetapi juga mencakup waktu, keterampilan, pengalaman, dan jejaring.
Oleh karena itu, pengalaman olahraga dapat menjadi titik awal untuk mengenali peluang. Seorang atlet, misalnya, memiliki pemahaman mengenai kebutuhan perlengkapan, latihan, serta pengalaman pengguna dalam cabang olahraga tertentu. Di sisi lain, pelatih memiliki pengalaman dalam menyusun program latihan, memberikan umpan balik, dan memahami kebutuhan peserta didik.
Dr. Apri juga mengajak peserta untuk melihat kembali beberapa mitos mengenai kewirausahaan. Salah satunya adalah anggapan bahwa pengusaha dilahirkan, bukan dibentuk. Padahal, berbagai keterampilan kewirausahaan dapat dipelajari, mulai dari mendengarkan pelanggan, menawarkan layanan, menghitung biaya, hingga memenuhi janji kepada pelanggan. Mitos lainnya adalah bahwa pengusaha mengandalkan keberuntungan. Menurut Dr. Apri, seorang pengusaha justru perlu mampu mengelola ketidakpastian dan mengambil risiko secara moderat.
Gagasan bisnis tidak harus langsung diwujudkan dalam skala besar. Peluang dapat diuji terlebih dahulu melalui percobaan kecil dengan batas waktu dan biaya yang terukur. Ia juga membahas anggapan bahwa uang merupakan satu-satunya motivasi seseorang untuk menjadi pengusaha serta pandangan bahwa pengusaha idealnya berusia muda. Pengalaman, kematangan, reputasi, dan portofolio juga dapat menjadi kekuatan dalam membangun usaha.
Beberapa atlet Indonesia yang telah memasuki dunia usaha menjadi contoh dalam pemaparan ini, di antaranya Liliyana Natsir, Alan Budikusuma, Susi Susanti, Chris John, Lindswell Kwok, Achmad Hulaefi, Marcus Fernaldi Gideon, dan Ade Rai. Ragam usaha yang mereka kembangkan menunjukkan bahwa pengalaman dari dunia olahraga dapat terhubung dengan berbagai bidang, mulai dari fasilitas olahraga, pelatihan, perlengkapan, hingga layanan kebugaran dan kesehatan.