Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan pandangannya mengenai meningkatnya variasi beras khusus yang dijual di ritel modern. Ia berpendapat bahwa kehadiran beras dengan karakteristik tertentu tidak akan menggantikan penjualan beras medium dan premium, karena masing-masing produk memiliki segmen pasar yang berbeda.
"Saya pikir pasarnya beda, pangsanya berbeda. Makanya sekarang juga (Perum) Bulog juga sudah menyediakan untuk beras premium dan medium. Saya pikir itu pangsanya berbeda," ungkap Budi di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, pada hari Kamis (27/8).
Variasi Produk untuk Memenuhi Kebutuhan Pasar
Budi menjelaskan bahwa keberadaan beras khusus merupakan bagian dari variasi produk yang ditawarkan oleh produsen untuk memenuhi permintaan pasar. Ia menekankan bahwa produsen tetap dapat mengembangkan produk mereka selama tidak melanggar ketentuan yang berlaku dan memenuhi standar yang telah ditentukan.
"Bukan semata-mata mengisi market ya, tapi kan namanya produsen itu kan kreatif, ya namanya orang jualan. Tetapi (beras) medium-premium tetap jalan. Silakan saja itu kan sesuai, enggak melanggar aturan ya, sepanjang tadi diikuti standar sesuai dengan yang dia tentukan. Jangan sampai juga enggak sesuai dengan apa yang disampaikan," tambahnya.
Konsumen dengan Kebutuhan Berbeda
Dalam beberapa waktu terakhir, beras khusus semakin banyak dijumpai di ritel modern, mulai dari beras long grain hingga produk yang ditujukan untuk kebutuhan khusus, seperti beras untuk penderita diabetes dan beras fortifikasi yang diperkaya vitamin.
Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budihardjo Iduansjah, juga berpendapat bahwa produk-produk tersebut tidak serta-merta menggeser beras medium maupun premium. Ia menekankan bahwa konsumen memiliki daya beli dan kebutuhan yang beragam.
"Sebenarnya kalau anggota Hippindo mempunyai konsep ya, setiap market tuh punya kelas ya. Jadi ada beras yang (harus sesuai) HET (harga eceran tertinggi), ada beras yang memang mahal. Konsumen itu mempunyai daya beli masing-masing. Ya ada yang memang (mencari beras) organik misalnya," jelas Budihardjo.
Ia menekankan pentingnya ritel untuk memastikan bahwa produk yang dijual sesuai dengan informasi yang tertera pada kemasan, terutama untuk beras yang mengklaim memiliki keunggulan tertentu seperti organik atau kandungan khusus.
"Namun yang kami harapkan, sebagai sektor ritel kami kan bukan produsen, menjualnya harus sesuai. Kalau ngomongnya organik harus organik. Jadi itu adalah perlindungan konsumen," ujarnya.
Budihardjo menilai bahwa beragamnya jenis beras khusus muncul sebagai respons terhadap kebutuhan konsumen yang semakin spesifik. Ia memberikan contoh konsumen dengan kebutuhan pangan tertentu hingga warga negara asing yang tinggal di Indonesia dan mencari beras sesuai dengan preferensi asal negaranya.
Dengan demikian, Budihardjo menyimpulkan bahwa beras khusus dan beras medium maupun premium dapat berjalan berdampingan karena menyasar konsumen yang berbeda. Ia juga mengingatkan agar produk dengan klaim tertentu benar-benar memenuhi informasi yang dicantumkan untuk melindungi konsumen.