Konflik di Timur Tengah masih berlanjut, dengan Selat Hormuz yang terletak di wilayah Iran tetap ditutup dan belum aman untuk dilalui. Selain itu, ancaman dari kelompok Houthi di Yaman di Bab Al Mandab juga mengganggu jalur pengiriman minyak yang menghubungkan Laut Merah dan Samudra Hindia. Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi 20 hingga 25 persen pasokan minyak dunia, sedangkan Bab Al Mandab menyuplai sekitar 10 hingga 12 persen. Ketidakpastian ini menyebabkan harga minyak global berfluktuasi, yang berdampak pada pasokan minyak di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Langkah Strategis Pemerintah dan Pertamina
Untuk mengatasi risiko yang muncul akibat konflik ini, pemerintah bersama PT Pertamina (Persero) mulai mencari sumber impor energi dari negara-negara di luar Timur Tengah. Langkah ini bertujuan agar kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) dan gas LPG dalam negeri tetap terjaga meskipun terjadi gangguan pada jalur pelayaran internasional. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa sumber impor yang selama ini banyak berasal dari Timur Tengah kini dialihkan ke negara lain, seperti Amerika Serikat, negara-negara di Afrika, Asia, dan kawasan ASEAN.
Pemerintah juga memberikan instruksi kepada kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) untuk memprioritaskan produksi minyak mentah dalam negeri sebagai bahan baku kilang nasional, serta mengoptimalkan operasi kilang dan mencari sumber LPG alternatif. Di sisi lain, Pertamina memperluas strategi diversifikasi pasokan dengan menjajaki sumber energi dari berbagai negara, termasuk Afrika, untuk mengurangi ketergantungan pada satu kawasan tertentu.
Pengelolaan Energi yang Efektif
Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa pengelolaan energi dalam negeri di tengah ketegangan geopolitik telah dilakukan dengan baik. Ia menyatakan, "Walaupun banyak negara lain sudah agak panik, Indonesia masih cool." Keberhasilan ini, menurutnya, tidak terlepas dari peran Kementerian ESDM dan Pertamina yang berhasil mengelola energi dengan baik, sehingga subsidi BBM tetap terjaga tanpa kenaikan harga.
Wakil Ketua Komisi XII, Bambang Haryadi, juga memberikan apresiasi terhadap upaya Pertamina dalam menjaga ketahanan energi nasional. Ia mengakui bahwa meskipun ada sedikit keterlambatan dalam pengiriman pada awal konflik, saat ini pengiriman sudah stabil dan stok BBM cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. "Rantai pasok juga sudah stabil dari negara-negara di luar wilayah konflik," ujarnya.
Sementara itu, pengamat energi dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menilai bahwa strategi diversifikasi yang diterapkan oleh Pertamina dan pemerintah merupakan langkah yang tepat. Ia menyarankan agar pemerintah memperluas jalur pengadaan minyak, seperti melalui Singapura, Malaysia, dan India, yang dinilai lebih aman dan tidak tergantung pada Selat Hormuz.
Dalam upaya meningkatkan produksi minyak mentah, Pertamina terus melakukan berbagai program pengembangan. Hingga akhir semester pertama 2026, produksi migas dari Pertamina Hulu Energi (PHE) mencapai 935 ribu barel setara minyak per hari, dengan rincian produksi minyak sebesar 459 ribu barel per hari dan produksi gas sebesar 2.756 juta kaki kubik per hari.
PHE juga aktif dalam pencarian sumber daya migas baru dan telah menyelesaikan pengeboran 9 sumur eksplorasi serta survei seismik yang menghasilkan penemuan sumber daya kontingen sebesar 108 juta barel setara minyak. Selain itu, Pertamina juga menjalankan program "Bring Barrel Home" untuk membawa pulang minyak mentah dari luar negeri untuk memperkuat pasokan energi nasional.
Baru-baru ini, PT Pertamina Internasional EP mengirimkan sekitar 450 ribu barel minyak mentah dari Aljazair menuju Kilang Cilacap, Jawa Tengah, sebagai bagian dari upaya memperkuat pasokan energi dalam negeri.