Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengumumkan rencana pembukaan lahan baru seluas antara 1 juta hingga 2 juta hektare guna mendukung program produksi bahan bakar etanol yang berbahan baku tebu, singkong, dan jagung. Pemerintah menargetkan agar campuran etanol dalam bensin, yang dikenal sebagai E20, dapat diterapkan pada tahun 2029.
Amran menyatakan bahwa pemerintah baru saja memulai konsolidasi program tersebut setelah melakukan rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto. Ia juga menyampaikan bahwa sebanyak 44 bupati telah menyatakan dukungan terhadap pengembangan komoditas bahan baku etanol.
Rencana Pengembangan Lahan
“Etanol ini butuh lahan 1 juta sampai 2 juta hektare dengan tiga komoditas strategis. Insyaallah kita akan bangun pabriknya, kita gerakan masif seluruh Indonesia,” ungkap Amran dalam konferensi pers di kediamannya di Jakarta Selatan pada hari Senin (21/9). Untuk tahap awal, pemerintah akan mengembangkan lahan untuk ketiga komoditas tersebut secara bertahap, di mana kebutuhan lahan terbesar akan dialokasikan untuk tebu, sekitar 1 juta hektare.
Pemerintah juga berencana memberikan dukungan berupa alat dan mesin pertanian serta melakukan uji coba penanaman jagung di beberapa daerah. Amran menegaskan bahwa lahan yang akan disiapkan tidak akan langsung berasal dari pembukaan kawasan hutan. Sebaliknya, pemerintah akan terlebih dahulu menyeleksi lahan yang sudah tersedia, termasuk area yang direncanakan untuk agroforestri dan tanaman pangan serta lahan yang telah dilepaskan.
Pertimbangan Lingkungan dan Pembiayaan
“Kita melihat lahan yang pertama kan ada lahan yang mau dihutankan kembali atau agroforestri untuk tanaman pangan, itu kan ada 20 juta (hektare). Ya, kita pilih dari situ dulu. Jadi jangan langsung babat hutan, enggak. Itu (opsi) terakhir,” tambahnya. Amran juga menyebutkan bahwa terdapat sekitar 1,3 juta hektare lahan yang telah dilepaskan yang akan diseleksi untuk melihat kesesuaiannya dengan pengembangan tebu. Pelepasan kawasan hutan, menurutnya, menjadi pilihan terakhir dengan tetap mempertimbangkan aspek lingkungan.
Pemerintah saat ini masih menghitung skema pembiayaan untuk pembangunan pabrik etanol. Amran menjelaskan bahwa porsi pembiayaan akan diupayakan berasal dari BUMN dan swasta. “Anggarannya mungkin 30 persen dari BUMN, 70 persen dari swasta dan pasti swasta mau karena tanahnya disiapkan oleh negara,” ujar Amran. Namun, ia menekankan bahwa komposisi tersebut belum menjadi angka final, dan porsi BUMN bisa mencapai 30 persen, 40 persen, bahkan 50 persen tergantung pada kemampuan perusahaan negara.
Amran juga menekankan pentingnya kepastian lahan agar investasi pembangunan pabrik dapat berjalan dengan baik. Berdasarkan pengalaman sebelumnya dalam membangun 10 pabrik gula, proses pembangunan diperkirakan memerlukan waktu sekitar dua hingga tiga tahun, dengan penyiapan lahan yang dikawal oleh pemerintah.
Program etanol ini akan dilaksanakan secara bertahap, dengan target implementasi E5, E10, dan E20 pada tahun 2029. Amran memperkirakan bahwa setelah itu, bauran etanol dapat terus ditingkatkan menuju E40 pada tahun 2030 atau 2031. “Ini E5, E10, E20 di 2029. Bisa perkiraan kita menuju nanti, bisa kita hitung ya, kalau kita bergerak dari sekarang itu bisa E40 2030, 2031,” ujarnya.
Menurut Amran, pengembangan etanol bersamaan dengan program biodiesel B50 bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor energi. Jika semua program tersebut berjalan dengan baik, ia memperkirakan penghematan devisa dapat mencapai sekitar US$30 miliar atau sekitar Rp500 triliun per tahun. Selain itu, program ini diharapkan dapat menciptakan sedikitnya 8 juta lapangan kerja permanen, dengan manfaat ekonomi yang diharapkan mengalir kepada petani melalui pengembangan komoditas bahan baku energi.
Untuk pelaksanaan di daerah, pemerintah akan bekerja sama dengan pemerintah kabupaten serta kementerian dan lembaga terkait. Amran menyatakan bahwa konsolidasi awal telah dilakukan bersama jajaran Kementerian Kehutanan dan pihak BUMN. “Pokoknya kita jaga lingkungan, tetapi kita juga menjadi swasembada energi atau berdaulat energi,” tegas Amran.
Penyiapan lahan untuk program ini baru dimulai, dan pemerintah berharap penanaman dapat dilakukan tahun ini, meskipun sebelumnya Amran menyebutkan bahwa target untuk mulai bergerak adalah tahun depan. Program ini tidak hanya akan diarahkan untuk etanol, tetapi juga untuk pengembangan tebu, singkong, dan jagung sebagai komoditas strategis. Amran menambahkan bahwa pemerintah juga menyiapkan pembangunan pabrik pengolahan agar bahan baku tersebut dapat dikonversi menjadi etanol untuk mendukung target bauran energi nasional.