Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bertindak cepat dalam menanggapi gempa bumi yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam waktu kurang dari satu hari setelah instruksi diterima, berbagai sumber daya termasuk puluhan personel, tenaga kesehatan, armada, alat berat, dan bantuan logistik telah disiapkan untuk dikirim ke daerah yang terdampak.
Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, menyatakan, “Beberapa saat setelah gempa, kami sudah langsung berkomunikasi dengan Gubernur NTT, Pak Melki, untuk menyampaikan kesiapan NTB membantu. Kami langsung petakan apa yang paling dibutuhkan dan sumber daya apa yang bisa segera kita gerakkan.”
Detail Gempa dan Dampaknya
Gempa berkekuatan 7,7 skala Richter mengguncang Flores, NTT pada Sabtu, 15 Agustus 2026, menyebabkan 68 orang kehilangan nyawa dan 213 lainnya mengalami luka-luka. Wilayah yang terdampak meliputi Manggarai Bagian Utara, Ngada Bagian Utara, Ende, dan Flores Timur. Sementara itu, daerah di NTB seperti Bima dan Dompu dinyatakan dalam status waspada.
Gubernur Iqbal menekankan pentingnya fase awal setelah terjadinya gempa dalam menentukan keberhasilan penanganan bencana. Ia menambahkan, “Pengalaman menghadapi gempa NTB 2018 mengajarkan kami bahwa dalam situasi bencana, kecepatan mengambil keputusan dan ketepatan bantuan menjadi sangat penting.”
Pengalaman Sebelumnya dalam Penanganan Bencana
Ini bukan pertama kalinya Iqbal terlibat langsung dalam manajemen bencana akibat gempa besar. Sebelum menjabat sebagai Gubernur NTB, ia memimpin penanganan gempa besar saat menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Turki dari 2019 hingga 2023. Pada 6 Februari 2023, ketika gempa berkekuatan 7,8 skala Richter mengguncang Turki selatan dan Suriah, Iqbal memimpin KBRI Ankara dalam mengevakuasi ratusan WNI.
Tim KBRI yang dipimpin oleh Iqbal menempuh perjalanan darat selama sekitar 17 jam menuju daerah yang terkena dampak dan telah berada di empat lokasi terdampak sejak hari kedua. Sebanyak 123 orang berhasil dievakuasi dari empat titik, dan Iqbal kemudian memindahkan pusat koordinasinya ke Adana untuk mengatur kedatangan empat pesawat kemanusiaan dari Indonesia.
Respons cepat terhadap gempa di NTT menjadikan NTB sebagai provinsi pertama yang mengirimkan bantuan. Selain faktor kemanusiaan, Iqbal menyatakan bahwa tindakan cepat ini merupakan bagian dari Kerjasama Regional Bali, NTB, dan NTT (KR-BNN) untuk meningkatkan kesiapsiagaan bersama di wilayah yang memiliki risiko tinggi terhadap gempa bumi.
“NTB memiliki tanggung jawab untuk hadir secepat mungkin membantu provinsi tetangganya. Kita punya komitmen bersama di Kepulauan Nusa Tenggara atau Sunda Kecil. Bali, NTB, dan NTT tidak hanya memiliki kepentingan bersama dalam pengembangan pariwisata dan ekonomi, tetapi juga dalam mitigasi bencana,” tutup Iqbal.