Arah politik Munafri Arifuddin, yang akrab disapa Appi, kini menjadi perhatian dalam peta politik di Sulawesi Selatan. Di tengah isu yang berkembang mengenai potensi Appi meninggalkan Partai Golkar, Partai Demokrat Sulsel memberikan sinyal bahwa pintu untuk bergabung terbuka lebar. Andi Januar Jaury Dharwis, yang menjabat sebagai Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPD Partai Demokrat Sulsel, menyatakan bahwa rumor mengenai kemungkinan Appi bergabung dengan Demokrat telah menjadi pembicaraan di masyarakat.
Namun, Januar menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menyikapi isu ini. Ia tidak ingin mendahului keputusan politik Appi maupun mekanisme yang berlaku di partai. “Isu Pak Munafri Arifuddin bergabung dengan Demokrat memang berkembang dan saya kira publik juga sudah mengikuti dinamikanya. Tetapi sebagai Ketua Bappilu, saya tidak ingin mendahului keputusan politik seseorang maupun mekanisme organisasi partai,” ungkapnya pada Selasa, 22 September 2026.
Keterbukaan Partai Demokrat
Partai Demokrat Sulsel menegaskan prinsip keterbukaan terhadap figur-figur yang dianggap memiliki kapasitas politik serta komitmen dalam pembangunan daerah. Menurut Januar, setiap tokoh yang ingin bergabung harus melalui proses organisasi yang telah ditetapkan, termasuk menyelesaikan status keanggotaan di partai sebelumnya. “Demokrat adalah partai yang terbuka. Kalau ada tokoh yang ingin bergabung, tentu kita hormati dan kita sambut secara baik. Tetapi semuanya harus ditempuh secara tertib: menyelesaikan terlebih dahulu status dan administrasi di partai sebelumnya, kemudian mengikuti ketentuan organisasi Demokrat,” jelasnya.
Wacana mengenai kepindahan Appi menjadi semakin menarik karena berhubungan dengan agenda politik internal Partai Demokrat Sulsel. Musyawarah Daerah (Musda) Demokrat Sulsel dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026, di mana forum ini akan menentukan siapa yang akan memimpin partai tersebut untuk periode selanjutnya. Ni'matullah Erbe, yang merupakan petahana dan telah memimpin Demokrat Sulsel selama tiga periode, masih menjadi salah satu nama yang diperhitungkan. Di tengah proses ini, Appi mulai disebut-sebut sebagai calon potensial untuk memimpin Demokrat Sulsel jika ia benar-benar meninggalkan Golkar. Namun, hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari Appi mengenai rencana tersebut.
Tanggung Jawab sebagai Wali Kota
Januar juga meminta publik untuk tidak terburu-buru menarik kesimpulan. Ia menegaskan bahwa Musda memiliki mekanisme tersendiri dan setiap nama yang muncul tetap harus mengikuti proses yang ada. “Soal apakah Pak Munafri akan maju dalam Musda dan kemudian memimpin Demokrat Sulsel, itu wilayah proses organisasi. Jangan sampai sebelum prosesnya berjalan kita sudah membuat kesimpulan,” katanya.
Di luar perhitungan terkait partai dan Musda, Januar mengingatkan bahwa Appi masih memiliki tanggung jawab yang lebih konkret sebagai Wali Kota Makassar. Ia menekankan bahwa dinamika politik tidak boleh mengganggu agenda pemerintahan dan pelayanan publik. “Yang menurut saya jauh lebih penting, Pak Munafri saat ini adalah Wali Kota Makassar. Beliau memiliki tanggung jawab besar untuk menyelesaikan pekerjaan pemerintahan dan memenuhi harapan masyarakat. Dinamika politik jangan sampai mengganggu tugas tersebut,” tuturnya.
Bagi Demokrat, jika Appi akhirnya mengambil keputusan untuk berpindah partai, diharapkan langkah tersebut tidak hanya sekadar perpindahan kendaraan politik. Januar berharap setiap keputusan politik yang diambil oleh tokoh daerah dapat memberikan dampak positif bagi demokrasi dan masyarakat Sulsel. “Kalau pada akhirnya ada pilihan politik baru, tentu kita berharap pilihan itu juga membawa energi baru bagi demokrasi Sulsel,” tutupnya.
Selama memimpin DPD II Golkar Makassar, Appi berhasil meningkatkan perolehan kursi partai berlambang pohon beringin tersebut di DPRD Kota Makassar pada Pemilu 2024. Rahmat Muhammad, seorang akademisi dari Universitas Hasanuddin, menilai bahwa keputusan seorang aktor politik untuk tetap bertahan atau berpindah partai tidak dapat dipisahkan dari perhitungan politik yang matang. Ia mengingatkan bahwa Golkar memiliki sejarah panjang dan pengalaman dalam menghadapi berbagai perubahan politik, sehingga masa depan politik Appi tidak bisa hanya dilihat dari kemungkinan perpindahan partai semata.
Modal politik yang telah dibangun serta posisinya sebagai Wali Kota Makassar juga harus diperhitungkan. Seorang tokoh yang berpindah partai berpotensi membawa modal politik berupa jaringan, popularitas, pengalaman, dan basis dukungan yang telah dibangun sebelumnya. "Itu bukan sekadar soal dari satu partai ke partai lain. Di dalamnya ada modal politik yang ikut dibawa," ujarnya. Oleh karena itu, Rahmat mengingatkan agar setiap keputusan politik diambil dengan hati-hati. Terlebih, Pemilu 2029 masih memiliki waktu yang cukup panjang. "Yang lebih penting adalah membaca momentum, menghitung konsekuensi, dan melihat bagaimana posisi politik itu berkembang ke depan," katanya.