JAKARTA, iNews.id - Dengan semakin meluasnya penggunaan layanan keuangan berbasis teknologi, modus penipuan digital juga mengalami perkembangan yang signifikan. Selain mengandalkan teknik social engineering dan pencurian data, para pelaku kejahatan kini mulai memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk melaksanakan aksi penipuan yang lebih sulit untuk dideteksi.
Ovo, salah satu penyedia layanan keuangan, telah mengambil langkah-langkah untuk memperkuat sistem keamanan digital mereka melalui penerapan berbagai lapisan perlindungan. Langkah ini diambil untuk melindungi akun, data pribadi, dan transaksi pengguna dari ancaman penipuan yang semakin kompleks di era digital.
Berbagai Modus Penipuan yang Marak
Modus kejahatan yang sering dijumpai mencakup penyalahgunaan One-Time Password (OTP), pengambilalihan akun, tautan palsu, malware pada perangkat, serta manipulasi dokumen digital. Jika tidak diantisipasi dengan baik, ancaman-ancaman ini dapat menyebabkan kerugian finansial dan kebocoran data pribadi.
Pilar Keamanan dari Ovo
Dalam keterangan tertulisnya, Ovo mengungkapkan bahwa mereka menerapkan tiga pilar utama dalam sistem keamanan mereka, yaitu perlindungan autentikasi pengguna, Fraud Detection System (FDS), dan pemanfaatan teknologi AI untuk mendeteksi berbagai bentuk ancaman siber. Pada aspek autentikasi, Ovo mengandalkan penggunaan PIN, OTP, serta fitur biometrik seperti sidik jari dan pengenalan wajah untuk memastikan bahwa akses akun hanya dilakukan oleh pemilik yang sah.
Selain itu, Fraud Detection System berfungsi secara otomatis untuk memantau aktivitas pengguna dan mendeteksi transaksi atau akses yang mencurigakan. Apabila ditemukan indikasi yang tidak biasa, sistem dapat meminta verifikasi tambahan atau menerapkan langkah-langkah pengamanan tertentu sesuai dengan tingkat risiko yang teridentifikasi.